Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Konsep Bara’ pada Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dalam Tafsîr Asy-Sya’rawi Alnas, Shuri Witra
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2021): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v5i2.109

Abstract

Barâ’ (berlepas diri) ialah Barâ’ merupakan salah satu dari dua konsekuensi dari kalimat tauhid Laa ilaha illa Allah. Barâ’ selau dibayangi dengan walâ’, dua hal ini menuai konsepkonsep tentang loyalitas serta permusuhan yang dibarometeri oleh rasa cinta dan benci. Masalah barâ’ merupakan masalah yang begitu lekat dengan kehidupan manusia seharihari tetapi esensinya jauh dari kehidupan umat muslim yang hidup di tengah kehidupan duniawinya, bahkan orang muslim tidak lagi memandang ini sebagai hal yang paling penting, khususnya berkaitan dengan persepsi manusia yakni idola dan life style, dan global culture. Padahal susah ataupun senang hidup seseorang tidak bisa terlepas dari masalah ini. Hal yang awalnya rancu dan haram untuk dilakukan di kalangan umat islam lambat laun dan dengan perlahan menjadi kebiasaan, hingga perbuatan ini dianggap jalan menuju kemajuan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan maudhû’i (Tematik) dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Diawali dengan menentukan tema yang diangkat, mengumpulkan ayat-ayat yang akan dibahas dengan pecahan-pecahan katanya, mengaitkannya dengan tafsîrnya, mengambil istinbâth (kesimpulan) hukum dari dalil-dalil yang dikumpulkan. Adapun sumber primer yang digunakan adalah kitab Tafsîr Tafsîr Asy-Sya’râwî: Khawâtir Haul Al-Qur’ân Al-Karîm, karya Syaikh Asy-Sya’rawi. Hasil Analisa dari penelitian ini diketahui bahwa penafsiran perihal barâ’ ini memiliki satu makna secara garis besar yaitu ada lah berlepas diri dari kesyirikan itu adalah membebaskan diri dari hal yang merusak. Adapun takhliyah adalah memutus dari amalan yang merusak. Kemudian barganti dengan amalan mushlih, amalan positif. Juga sudah seharusnya kaum muslim mengidolakan para nabi, t erutama Nabi Ibrahim dalam hal ini yang telah memberikan contoh kepada kita bagaimana seharusnya esensi cinta dan benci bagi seorang muslim dan mengikuti manhajnya. Dan dari pemaparan yang telah disampaikan, setidak-tidaknya terdapat 6 poin penting yang harus direalisasikan seorang muslim dikehidupan sekarang ini.