Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ALAT PENGEMBANGAN KOGNITIF MENGGUNAKAN MEDIA KANCING BAJU PADA ANAK Hurmawati, Rida; Aziz, Reza Dzikrotul Maula; Mardiani, Reni
Ibtidaiyyah: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol 4 No 1 (2025): Ibtidaiyyah: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/ijpgmi.v4i1.14470

Abstract

Preschool is an educational level before primary education aimed at children from birth to six years old, providing educational stimulation to support their physical and cognitive development, ensuring readiness for further education through formal, non-formal, and informal channels. The researcher observed that at RA Mutiara Bangsa Dolopo Madiun, there was a lack of cognitive development in children, as they often expressed frustration, said "I can't do it," or cried when facing difficulties in learning. To address this, engaging activities suited to their developmental stages were introduced, including counting using button media, which proved effective in enhancing the cognitive abilities of children aged 4-5 years. The teacher implemented four activities: counting buttons from 1 to 10, differentiating between large and small buttons, identifying button colors, and attaching buttons according to patterns before writing the corresponding numbers. Through button media, learning seamlessly integrates play, transforming students into active learners while stimulating holistic development and enabling children to construct knowledge through direct experiences. ABSTRAK Pendidikan anak usia dini adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani Serta rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut yang diselenggarakan pada jalur formal, non formal dan informal peneliti melihat dan mengamati keadaan di RA Mutiara Bangsa Dolopo Madiun terdapat permasalahan mengenai kurangnya pengembangan kemampuan kognitif anak, dilihat dari kegiatan belajar mengajar yang biasa saja bahkan apabila mengalami kesulitan anak langsung bilang “aku tidak bisa” dan ada beberapa yang langsung marah serta menangis apabila tidak bisa mengerjakan. Diharapkan dengan menggunakan kegiatan yang menarik dan sesuai dengan perkembangan anak, anak dapat tertarik dan merasa senang dalam mengikuti pembelajaran. Berdasarkan hasil yang dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa membilang dengan media kancing baju dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak usia 4-5 tahun di RA Mutiara Bangsa Dolopo Madiun. Guru memberikan penjelasan tentang empat rancangan membilang dengan media kancing baju kegiatan yang akan dilaksanakan yakni Membilang kancing baju 1-10 dengan media kancing baju, membedakan besar kecil kancing baju, membedakan warna kancing baju, Menempel kancing baju sesuai pola kemudian menuliskan angka sesuai kancing baju yang digunakan. Melalui media kancing baju, maka terlihat jelas bahwa pembelajaran sudah tidak memilah-milah antara bermain dan belajar, mampu menjadikan siswa menjadi pembelajar aktif, dan mampu menstimulasi perkembangan secara holistik dan membantu anak membangun pengetahuannya sendiri dengan cara mengalami secara langsung pengalaman tersebut.
Syiar Dalam Alunan Syair: Nasyid Seni Dakwah Islam di Bandung Tahun 1990-2004 Mardiani, Reni
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 2 No. 2 (2021): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (928.466 KB) | DOI: 10.22515/isnad.v2i2.4853

Abstract

This research explains the art of nasyid music as an art of Islamic dakwah in Bandung from 1990 to 2004, which was initially introduced as a chant to give speeches for Islamic student activists along with the spirit of defending Palestine and Afghanistan. This research uses historical method, namely topic choice, heuristics, source criticism, interpretation and historiography. The results of this study show that in its development nasyid is considered an art of music to offer resistance to Western music which affects young people, especially in urban areas. Nasyid has become a modern Islamic music which has become one of the alternative music streams to convey Islamic preaching in addition to the art of entertainment, so that nasyid has become an influential dakwah art for the people of Bandung, especially young people, many of whom are more familiar with Islam until they migrate. In 2004 nasyid in Bandung experienced ups and downs in which nasyid became a national festival, but nasyid began to be neglected due to the existence of popular Indonesian musicians who began releasing religious albums.