Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

STRATEGI INTERVENSI PADA KOMUNITAS MUALLAF BERBASIS PEMBERDAYAAN DI KELURAHAN BETTENG KECAMATAN LEMBANG KABUPATEN PINRANG Sakaruddin Mandjarreki; Abd Gappar Yusuf
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 22 No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v22i2.23788

Abstract

Pokok masalah dalam penelitian ini yaitu “Strategi Intervensi pada Komunitas Muallaf Berbasis Pemberdayaan di Kelurahan Betteng Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang” adapun sub masalah dalam penelitian iniantara lain: 1. Bagaimana Intervensi pada Komunitas Muallaf Berbasis Pemberdayaan di Kelurahan Betteng Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang?; 2. Apa Kendala dalam Melakukan Intervensi pada Komunitas Muallaf yang Berbasis Pemberdayaan di Kelurahan Betteng Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang?.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode pendekatan sosiologi yang lokasi penelitian ini yaitu bertempat di Kelurahan Betteng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Sumber data dalam penelitian ini yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.Metode dalam pengumpulan data yaitu dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen  dalam penelitian ini yaitu kamera, buku catatan, handphone dan pedoman wawancara. Setelah semua data terkumpul, peneliti melakukan analisis data dengan reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan (drawing conclusion).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, Strategi intervensi pada komunitas Muallaf berbasis pemberdayaan di Kelurahan Betteng Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang terbagi menjadi empat, yaitu: 1) strategi intervensi pemberdayaan dari segi pengembangan sumber daya manusia; 2) strategi intervensi pemberdayaan dari segi peningkatan sarana dan prasarana. Kendala yang dialami dalam melakukan intervensi meliputi akses mobilisasi ke lokasi yang sulit, tidak adanya akses interner maupun telepon seluler dan kurangnya tenaga pendampng dalam melakukan suatu pemberdayaan.Implikasi Penelitian diharapkan dalam melakukan intervensi pemberdayaan secara sistematis dan berkelanjutan namun tetap mengacu pada teori pengembangan masyarakat yaitu menciptakan kemandirian masyarakat agar tidak selalu bergantung pada orang lain, serta melakukan upaya perbaikan jalur transportasi, sistem jaringan dan membangun jaringan kerjasama dengan beberapa pihak yang mampu melakukan pendampingan pada Komunitas Muallaf tersebut.
AGRESI MEDIA DAN KEMATIAN RUANG SOSIAL (Tafsir Sosiologis atas Hegemoni Media Sosial) Sakaruddin Mandjarreki
Jurnal Jurnalisa: Jurnal Jurusan Jurnalistik Vol 4 No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jurnalisa.v4i2.6896

Abstract

Ada fenomena lompatan kuantum dalam realitas kehidupan kita saat ini terutama pada aspek bagaimana pergeseran pola-pola interaksi terjadi, yakni dari interaksi yang bersifat obyektif (off line interaction) ke pola interaksi virtual yang palsu (on line interaction). Media sosial mensegregasi tatanan sosialitas masyarakat ke dalam dua corak atau fragmen besar; off line society dan on line society. Nyaris tak seorang pun saat ini yang tidak terpapar ekstasi media yang makin hegemonik. Euforia menyeruak ke permukaan seolah tenggelam dalam perayaan kelahiran budaya baru yang sebenarnya berkarakter destruktif. Kita mengalami disrupsi, terasing dari dunia realitas yang sebenarnya yang ditandai dengan memudarnya kohesi sosial antara individu yang satu dengan lainnya. Baudrillard melukiskan situasi ini dengan ungkapan “implosion”. Media massa telah menyatukan manusia lalu kemudian membiarkannya meledak ke dalam batas-batas geografi, bangsa, ideology, kelas, cair luluh begitu saja. Yang tertinggal hanya satu; massa dengan ketidakpastian ini muncul akibat goncangan dan penetrasi media yang terus menerus. Ziqmunt Bauman mengilustrasikan situasi ini sebagai menguatnya wilayah estetik dan sekaligus memudarnya wilayah kognitif dan wilayah moral. Martin Buber selanjutnya menamainya fenomena “mismeeting”; orang lain tidak berdiri sebagai sebagai sesama (neighbor) maupun orang asing (alien) melainkan stranger. Mereka berada di satu tempat tetapi tidak kenal. Atau menurut St. Sunardi, mereka satu rasa namun ada civic indifference. Ringkasnya, media saat ini, khususnya media sosial telah hadir dengan wajah ganda; ia dipuja namun dicaci. Dipuja karena manusia terfasilitasi secara mudah untuk mengintegrasikan dirinya ke dalam sebuah dunia yang kompleks namun tanpa sistem pengendalian yang efektif. Dan dicaci karena media sosial juga mengandung polusi media yang terbukti mampu memberangus secara kasar moralitas dan sosialitas masyarakat penggunanya.
BIAS GENDER DAN KEKERASAN DOMESTIK sakaruddin sakaruddin
JURNAL SIPAKALEBBI Vol 3 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.89 KB) | DOI: 10.24252/jsipakallebbi.v3i2.11776

Abstract

Relasi gender mewujud sebagai diskursus “sengit” di banyak ruang akademik, ruang politik, dan di ruang kebudayaan. Aktor sentrisnya adalah dualitas entitas yang senantiasa didudukkan secara tidak berkeadilan. Laki-laki mengekspresikan dririnya sebagai symbol supremasi yang hegemonik dan perempuan ditampilkan sebagai figur yang tersubordinasi. Dalam kondisi ini, relasi gender dipandang sebagai kondisi yang timpang dan bias gender. Pertanyaan paling mendasar adalah dimana akar rizoma penyebab terjadinya bias gender dan kekerasan gender itu? Dalam perspektif teologis, khususnya teologi Kristen, bias gender bermula dari penghakiman secara sepihak bahwa Sitti Hawa lah sebagai aktor utama penyebab Adam jatuh ke bumi karena itu, memberinya sanksi adalah sebuah kepatutan. Stigma ekstrim yang dilekatkan ke Sitti Hawa adalah bahwa dirinya (perempuan) sebagai sumber dosa. Dalam teologi Islam, sejumlah kalangan (khususnya kelompok feminis Islam) juga menggugat beberapa teks-teks Islam yang dinilai seksis dan mensubordinasi perempuan.Di banyak kebudayaan, bias gender terpresentasi dalam berbagai variasi, bentuk, dan pola. Bias gender dapat ditelusuri mulai dari konstruksi bahasa/penamaan (gender marking), atributisasi yang bernuansa minor terhadap perempuan, perbedaan perlakuan hingga pada perbedaan akses terhadap berbagai sumberdaya yang teredia. Secara klasikal, bias gender lazimnya mengkonstruksi relasi yang rentan dan seringkali memicu kekerasan gender, atau spesifiknya kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan berlangsung di dua ranah sekaligus, di ranah privat dan di ranah publik. Tulisan ini hendak berkontribusi dengan induksi gagasan yang relevan atau korelatif dengan diskursus gender yang sudah diarusutamakan (mainstream) saat ini. Substansi narasi yang diketengahkan menyentuh aspek-aspek yang terkait dengan fenomena kekerasan gender, posisi perempuan dalam ruang kebudayaan (privat dan domestik), asal mula kekerasan gender hingga pada tawaran untuk mengakhiri kekerasan gender melalui fraternisasi antarsex.
BARAZANJI PADA KAMUNITAS ARA-BIRA KAB. BULUKUMBA (PERSPEKTIF SOSIOLOGI KOMUNIKASI) Sakaruddin Mandjarreki
Jurnal Komodifikasi Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rituality of barazanji is connotatively defined as the medium of transfer of moral values through interaction of duality, ie from the actor to the listener and the audience of historic speech. The admiration of the greatness of personality and the height of the morality of the Apostle is the main menu that is proclaimed. With that content so that barazanji readings can be accepted by every level of social stratification in the country until now. The simultaneous and progressive economic, social and cultural globalization of all civilizations in the world does not necessarily deconstruct this tradition from the trough of the consensus of the local community. The only clarified distortion is the reproductive delay of barazanji script memorization as the effect of globalization. The cluster of Ara and Bira village communities is a community that can not be isolated or even legitimized from the tradition of barzanji readings. Each life cycle is legitimized with a moral chant of barzanji.
METODE BIMBINGAN PENYULUH AGAMA ISLAM TERHADAP LANSIA DI BALAI REHABILITASI SOSIAL LANJUT USIA (BRSLU) GAU MABAJI KABUPATEN GOWA Putri Safirah; Syamsidar; Sakaruddin Mandjarreki
Al-Irsyad Al-Nafs : Jurnal Bimbingan dan Penyuluhan Islam Vol 9 No 1 (2022): AL-IRSYAD AL-NAFS
Publisher : Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-irsyad al-nafs.v9i1.31243

Abstract

The journal created aims to describe how the method of guidance of Islamic religious instructors for the elderly. This study uses the type of descriptive qualitative research located at the Elderly Social Rehabilitation Center (BRSLU) Gau Mabaji, Gowa Regency. The research approach used is the guidance approach. The primary data source of this research is Muminati Puji as a Religious instructor at BRSLU Gau Mabaji, Gowa Regency (key informant), informant's additional ones are Puji, Sugiati Hartati, Ramli, Rayana, Ahmad, Abdullah Hafid (elderly). Secondary data sources are books, theses, journals, literature, and other data sources that can be used as a complement. Data collection methods are observation, interviews, and documentation. Data analysis was carried out in three stages, namely data reduction, presentation of data, and drawing conclusions. Based on the results of this study, the factors that underlie the Islamic Religion instructor in applying the method of guidance to the elderly at the Social Rehabilitation Center Elderly (BRSLU) Gau Mabaji, Gowa Regency, there are two factors, namely: internal factors which include changes in family structure, socialization factors for the elderly, and lonely. Then, external factors which include services and facilities at Balai dan factor no one pays attention to. Efforts of extension workers in Islam in Islam provide guidance to the elderly using the direct method, namely by providing individual guidance such as providing material on Taharah, sitting prayers, standing prayer, types of najis, and how to clean it. This activity is carried out once a week every Tuesday
STRATEGI BERTAHAN HIDUP NELAYAN TRADISIONAL DI PELABUHAN LEPPE’E KABUPATEN BULUKUMBA Astita; Sitti Aisyah BM; Sakaruddin Mandjarreki
Al-Irsyad Al-Nafs : Jurnal Bimbingan dan Penyuluhan Islam Vol 9 No 1 (2022): AL-IRSYAD AL-NAFS
Publisher : Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-irsyad al-nafs.v9i1.31397

Abstract

The journal that was made aims to describe the survival strategy of traditional fishermen in the port of Leppe'e, Bulukumba Regency. Leppe'e Harbor is a settlement or neighborhood for traditional fishermen workers in the Regency. In addition, Leppe'e Port is a means of transportation between goods and services for large-scale shipments outside the region. In addition to the environment, the port of Leppe'e is a place for traditional fishermen, both laborers and individual fishermen, who have very minimal poverty levels both in terms of income and so on. This study aims to determine the factors that cause poverty of traditional fishermen and the survival strategies of traditional fishermen in Leppe'e Port, Bulukumba Regency. This study uses a sociological approach with descriptive qualitative research types and data collection techniques used in this study are interview observation and documentation. This research was conducted at the Port of Leppe'e Regency