Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mitos Tuk Budoyo dalam Tradisi Masyarakat Desa Losari Kabupaten Temanggung Oktavia Putri Wijayanti; Sri Prastiti Kusuma Anggraeni; Dandung Adityo Argo Prasetyo
Keraton: Journal of History Education and Culture Vol 8 No 1 (2026): Juni
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/keraton.v8i1.8231

Abstract

The existence of the Tuk Budoyo spring in Losari Village, Temanggung Regency, preserves mythological narratives that serve as the foundation of identity and social order for the local community. This research focuses on the historical background of the Tuk Budoyo tradition and its functional relevance amidst modernization. The study aims to describe the origins and development of the tradition while analyzing the functions of the myth as a mechanism for social control, cultural legitimacy, and local wisdom-based education. A qualitative method with descriptive and folkloristic approaches was employed, utilizing data from in-depth interviews with the juru kunci (custodian), village elders, community leaders, and local residents, supported by field documentation. Data analysis was conducted interactively through data collection, data condensation, data display, and conclusion drawing/verification based on the theory of folklore functions. Results indicate that the Tuk Budoyo myth possesses two variations of historical narratives reflecting cultural acculturation. The myth functions as a spiritual center, a means of legitimizing traditional arts, a tool for regulating social norms through customary rules, and a medium for environmental conservation. This study concludes that the Tuk Budoyo myth is not merely folklore but a life guide instilling moral values, environmental ethics, and humility, remaining relevant in maintaining the balance between humans, nature, and God. Therefore, this folklore has the potential to be integrated as local content teaching material in schools.
Akulturasi Budaya Jawa Pada Foklore Lawang Bledheg Masjid Agung Demak Dwi Nani Suprafti; Sri Prastiti Kusuma Anggraeni; Ucik Fuadhiyah
Jurnal Gramaswara: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Gramaswara: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.gramaswara.2026.006.02.06

Abstract

Tradisi Lawang Bledheg merupakan salah satu ekspresi religius lokal yang memperlihatkan pertemuan intens antara Islam dan budaya Jawa dalam lanskap simbolik masyarakat. Artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana proses akulturasi tersebut berlangsung melalui negosiasi makna simbolik yang mengendap dalam narasi, penamaan, dan pemaknaan ruang religius Lawang Bledheg. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan perspektif antropologi simbolik dan semiotika budaya. Data diperoleh melalui kajian pustaka, penelusuran sumber sejarah lokal, serta pembacaan simbolik terhadap unsur-unsur tradisi yang menyertainya. Analisis dilakukan dengan menafsirkan simbol sebagai arena tarik-menarik antara kosmologi Jawa dan nilai-nilai Islam yang mengalami proses reinterpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lawang Bledheg tidak merepresentasikan sinkretisme yang statis, melainkan ruang negosiasi simbolik yang dinamis, di mana unsur budaya Jawa dipertahankan melalui penyesuaian makna agar selaras dengan prinsip-prinsip Islam. Temuan ini menegaskan bahwa akulturasi Islam dan budaya Jawa berlangsung melalui mekanisme seleksi, reinterpretasi, dan legitimasi simbolik, bukan melalui penghapusan tradisi lokal. Artikel ini berkontribusi pada kajian Islam Nusantara dengan memperkaya pemahaman tentang tradisi religius lokal sebagai medan negosiasi makna, sekaligus menawarkan kerangka analitis yang melampaui deskripsi normatif budaya.