Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Menghargai Orang Lain Besarkan Diri Melalui Konsep 0-1 dan 1-0 ”Mukemel” dalam Adat Gayo Joni
Journal Transformation of Mandalika, e-ISSN: 2745-5882, p-ISSN: 2962-2956 Vol. 6 No. 1 (2025): Januari
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jtm.v6i1.4188

Abstract

Kajian ini membahas tentang kehidupan sosial masyarakat dengan menggunakan konsep nimerik "0-1" dan "1-0" yang merupakan representasi dari falsafah adat Gayo, yakni ”Tertip Bermajelis Umet Bermuliye”, falsafah ini pada masyarakat Gayo berfungsi untuk mengingatkan dan menasihati agar anggota masyarakatnya bertindak atau berprilaku dengan taat, teratur-rapi, dan agar saling menghargai satu sama lain. Jika hal ini sudah terealisasi dengan maksimal, maka yang akan terbangun pada sosial mereka adalah umat akan dimuliakan. Hal ini diberlakukan dalam konteks membangun diri melalui penghargaan terhadap orang lain. Konsep ini menekankan bahwa pentingnya membangun hubungan timbal balik antara penghargaan diri dan penghargaan kepada orang lain. Dengan menerapkan pendekatan ini, individu dapat membangun rasa percaya diri dan empati yang lebih baik, sehingga dapat menciptakan hubungan sosial yang harmonis. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis literatur, pengamatan mendalam di lapangan dan wawancara untuk menggambarkan bagaimana penghargaan terhadap orang lain dapat membantu seseorang memperbesar dirinya tanpa merendahkan pihak lain.
Peri Mestike Mempertahan Bahasa dan Budaya Gayo Joni
Journal Scientific of Mandalika (JSM) e-ISSN 2745-5955 | p-ISSN 2809-0543 Vol. 6 No. 3 (2025)
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/10.36312/vol6iss3pp502-506

Abstract

The Gayo language is one of the regional languages rich in meaning and cultural values. The Gayo language has two varieties of modes: the ordinary spoken Gayo language used by the current generation and the Gayo customary language known as PM (Peri Mestike). The PM language contains profound meanings and features modes of speech, namely metaphorical and indirect, or can be referred to as indirect and non-literal speech. The preservation of the Gayo language through customary language, especially in the practice of peri mestike, is important for maintaining the cultural identity of the Gayo community. This study discusses how the customary language (PM) functions as a medium for preserving the Gayo language and the cultural values contained within it.
NORMA GAYO: ”EDET MASA PUDAHA SAWAH SENI” PERSPEKTIF PERI MESTIKE DALAM PELESTARIAN BUDAYA Joni, Joni
⁠⁠Jurnal Literasi Indonesia Vol. 1 No. 6 (2024): Jurnal Literasi Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Resam, edet masa pudaha swah seni atau kebiasaan, adat masa dahulu sampai saat ini ditinjau melalui 2 (dua) metodelogi dan pendekatan, yakni berdasarkan metode kajian; (1) Peri Mestike (PM) (Joni, 2017) dan (2) Kajian Imagology (Hudjolly, 2011). Kajian ini merupakan bentuk kajian makna tentang dasar adat, resam, istiadat, dan atur dalam masyarakat suku Gayo. PM merupakan tuturan yang mengandung konsep nilai dan norma hidup masyarakat Gayo. Tuturan PM didominasi oleh bentuk tuturan yang bijak dan bernalar. Kajian tentang berbagai bentuk alam yang dinalar manusia memiliki makna dan kekuatan yang kemudian ditransformasikan menjadi pemahaman bernalar konstruktif dalam bentuk mitos. Hal ini menciptakan pemahaman bernuansa imajinatif agar dapat dipahami oleh generasi selanjutnya. Imagology menggabungkan sifat kata dalam gambar dan menyediakan gambar untuk menggantikan kata-kata. Dasar terbentuknya adat-istiadat suku Gayo ditinjau melalui PM dan Imagology memiliki prinsip “Kestip”, yang berarti tertib, teratur, taat, dan rapi. Konsep ini mencakup aturan, petunjuk, arahan, dan nasihat yang disampaikan melalui tuturan singket, pedet, mu-wet, dan mu-edet. Sebaliknya, unsur yang harus dihindari adalah sumang, jis-jengkat, madu ni edet, dan kemali. Saat ini, keteraturan adat suku Gayo mulai mengalami degradasi, terlihat dari perubahan dalam pernikahan, kerja sama, dan sopan santun. Budaya lebih diadatkan, padahal seharusnya adat yang dibudayakan.