Wibowo, Satrio Adjie
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Exploring the Role of Religious Leaders and Religious Organizations in Combating Corruption in Indonesia Roshady, Mohammad Ezha Fachriza; Wibowo, Satrio Adjie
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/txjcq141

Abstract

Corruption remains a significant issue in Indonesia, hindering development and governance across various sectors. Despite the strong religious character of Indonesian society, the role of religious leaders in combating corruption has yet to produce substantial results. This study aims to analyze the role and challenges faced by religious leaders in reducing corruption, focusing on their influence in anti-corruption movements at the community level. This research employs a qualitative method with a descriptive approach. Data were collected through literature reviews, interviews, and case studies from religious organizations collaborating with the Corruption Eradication Commission (KPK). Key informants included KPK officials and religious leaders. The findings reveal that while religious leaders possess moral authority and influence within their communities, their involvement in anti-corruption efforts remains limited. The study also identifies several obstacles, such as limited political influence, difficulties in addressing corruption issues, and challenges in effectively communicating anti-corruption messages to the public. Further research is needed to evaluate the long-term effectiveness of religious leaders' involvement and to develop strategies for strengthening their collaboration with state institutions in the fight against corruption. Korupsi tetap menjadi masalah serius di Indonesia yang menghambat perkembangan dan tata kelola di berbagai sektor. Meskipun masyarakat Indonesia dikenal religius, peran pemimpin agama dalam memberantas korupsi belum memberikan dampak yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan tantangan yang dihadapi pemimpin agama dalam upaya mengurangi korupsi, dengan fokus pada pengaruh mereka terhadap gerakan anti-korupsi di tingkat masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui tinjauan literatur, wawancara, dan studi kasus dari organisasi keagamaan yang bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Informan utama mencakup pejabat KPK dan pemimpin organisasi keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pemimpin agama memiliki otoritas moral dan pengaruh dalam komunitas mereka, keterlibatan mereka dalam upaya pemberantasan korupsi masih terbatas. Penelitian ini juga mengidentifikasi berbagai hambatan, seperti keterbatasan pengaruh politik, kesulitan dalam memahami isu korupsi, dan tantangan dalam menyampaikan pesan anti-korupsi agar dapat diterima dengan baik oleh masyarakat luas. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas jangka panjang dari keterlibatan pemimpin agama serta mengembangkan strategi untuk meningkatkan kolaborasi mereka dengan lembaga negara dalam pemberantasan korupsi.
Integritas Penyelenggara Pemilu Ad-Hoc: Malpraktik Distribusi Formulir C-6 di Pilkada Tangerang Selatan Tahun 2020 Fachriza, Mohammad Ezha; Wibowo, Satrio Adjie
Journal of Political Issues Vol 4 No 2 (2023): Journal of Political Issues (August - January)
Publisher : Jurusan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/jpi.v4i2.85

Abstract

Penelitian ini menguraikan tentang pelanggaran netralitas yang dilakukan oleh Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tahun 2020. Dalam menganalisis fenomena yang terjadi, penulis menggunakan teori electoral management bodies dari International Democracy and Electoral Assistance (IDEA, 2015) untuk mengidentifikasi dan menguraikan berbagai standarisasi tata kelola manajemen penyelenggara pemilu yang berintegritas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mencari berbagai data dari sumber pemberitaan cetak maupun elektronik dan berbagai sumber yang kredibel berkaitan dengan fenomena yang dikaji. KPPS sebagai lembaga ad-hoc yang memiliki peranan penting dalam menyelenggarakan pemilu maupun pilkada. Berdasarkan kewenangan yang dimiliki oleh KPPS, justru menjadi aktor utama dalam terciptanya malpraktik pemilu khususnya yang terjadi pada Pilkada Kota Tangsel tahun 2020. Temuan dari penelitian ini KPPS terbukti tidak independen, kurang efektifnya bimbingan teknis yang dilakukan oleh KPU, tidak profesional dan tidak transparannya kasus malpraktik ini diselesaikan mengenai prosedur substansial pelaksanaan pemilu.