Hamsyah, M. Ismail
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Apropriasi Seni Musik Gugah Sahur: Studi Kasus Tongklek Tuban dan Tong-Tong Madura Fitriasari, Paramitha Dyah; Hamsyah, M. Ismail; Danugroho, Agus
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i1.8410

Abstract

ABSTRACTThe Appropriation of Gugah Sahur Musical Art: A Case Study of Tongklek Tuban and Tong-Tong Madura. This study aims to identify the interrelation between Tongklek Tuban and Tong-tong Madura. Tongklek Tuban, which is a typical music art of Tuban, evolves from the Patrol art in the form of music created originally in Tuban Regency. Interestingly, at first glance, Tongklek Tuban seems to have similarities to Tong-tong art that develops in Madura. To examine both art work thoroughly in this study, the authors implemented qualitative approach, employing both the literature review and documentation techniques. The results of the study reveal that Tongklek Tuban has undergone various changes in its visual form in terms of costumes, equipment, and decorations. It takes both tangible and intangible property from Tong-tong Madura. Moreover, Tonglek Tuban is experiencing another development in terms of creativity reflected to the wheelbarrow used to push the iron xylophone. Over time, the wheelbarrow has undergone a very extraordinary change in shape. At this time, Tongklek Tuban music groups are competing to form their wheelbarrows which actually look like Madurese Tong-tong music. According to the results of the study, positively, appropriation between artworks can be interpreted both positively or negatively. On one hand, an adapted culture can develop through innovation, so that the culture can remain sustainable. On the other hand, negatively, the feelings of disapproval from the owners of the original culture could emerge since they feel that their culture is carried out as an addition to the artistic elements of the appropriating subject.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana apropriasi dalam kesenian antara Tongklek Tuban dan Tong-Tong Madura. Kesenian yang diambil dalam penelitian ini adalah Tongklek Tuban dan Tong-Tong Madura. Kesenian Tongklek Tuban yang muncul berawal dari kesenian Patrol merupakan kesenian yang berkembang di Kabupaten Tuban. Sekilas Tongklek Tuban jika dilihat ada kesamaan dengan kesenian Tong-Tong yang berkembang di Madura. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan metode studi pustaka dan menggunakan teknik dokumen. Hasil penelitian menemukan bahwa Tongklek Tuban yang merupakan kesenian musik khas Tuban mengalami berbagai macam fase perubahan secara visual mulai dari kostum, peralatan yang digunakan, hingga dekorasi. Tongklek Tuban mengapropriasi secara tangible dan intangible dari Tong-tong Madura. Tongklek mengalami perkembangan lagi secara kreativitas yakni terkait gerobak dorong yang biasanya digunakan untuk mendorong gambang besi. Seiring berjalannya waktu gerobak dorong mengalami perubahan bentuk yang sangat luar biasa. Kini para grup musik Tongklek Tuban berlomba-lomba membentuk gerobak dorong mereka yang jika dilihat malah menyerupai musik Tong-tong Madura. Apropriasi dapat dimaknai secara positif maupun negatif. Secara positif, budaya yang di apropriasi mengalami perkembangan dengan inovasi sehingga budaya tersebut dapat tetap lestari. Sisi negatifnya adalah timbulnya rasa tidak terima dari pemilik budaya asal karena merasa budayanya diambil untuk digunakan sebagai penambah unsur seni subjek pelaku apropriasi.
MURAL SEBAGAI MEDIA AKTIVISME KESEJAHTERAAN HEWAN: STUDI KASUS ANIMAL FRIENDS JOGJA DI SEKITAR UGM, YOGYAKARTA Hamsyah, M. Ismail
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 28, No 2 (2025): Mei-Agustus 2025
Publisher : Faculty of Visual Arts and Design, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v28i2.14509

Abstract

Seni mural sering dijumpai sebagai media untuk mengekspresikan apa yang ada di imajinasi para senimannya. Kajian tentang seni mural di area Jalan Agro dan Jalan Karangmalang, UGM, menjadi penting, karena selain mengekspresikan imajinasi sang seniman, karya tersebut juga menyuarakan hak-hak kesejahteraan hewan yang selama ini terabaikan. Tulisan ini berusaha mengupas bagaimana seniman mural Animal Friends Jogja menggunakan seni visual untuk menyuarakan isu animal welfare. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan dan analisis dokumentasi foto. Metode analisis data yang digunakan adalah the three messages dari Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilihan tempat, materi yang dilukiskan, dan pesan yang ingin disampaikan merupakan strategi yang digunakan oleh seniman mural Animal Friends Jogja untuk menyuarakan pendapatnya. Karya para seniman mural tersebut juga tak lepas dari konsep the three messages Roland Barthes. Seniman mural aktivis kesejahteraan hewan tersebut juga menggambarkan betapa kejamnya manusia memperlakukan hewan dengan sangat dramatis melalui karyanya.Kata kunci: kesejahteraan hewan; mural; aktivisme; seni visual---Murals as a Medium for Animal Welfare Activism: A Case Study of Animal Friends Jogja in the UGM Area, Yogyakarta. Mural art is often encountered as a medium to express what exists in the imagination of its artists. A study of mural art in the areas of Jalan Agro and Jalan Karangmalang, UGM, is important, because besides expressing the artist's imagination, these works also advocate for animal welfare rights that have long been neglected. This paper seeks to explore how the mural artists of Animal Friends Jogja use visual art to voice issues related to animal welfare. The data collection methods used are observation and photo documentation analysis. The data analysis method employed is Roland Barthes' three messages. This paper reveals that the choice of location, the materials depicted, and the messages intended are strategies used by the Animal Friends Jogja mural artists to voice their opinions. The works of these mural artists are also inseparable from Roland Barthes' concept of the three messages. Furthermore, these animal welfare activist mural artists depict the cruelty with which humans treat animals through their artworks.Keywords: animal welfare; mural; activism; visual art