Wiwit Hermanto
Museum dan Cagar Budaya Unit Museum Manusia Purba Klaster Krikilan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

GEJOG LESUNG SANGGAR SANGIR MEMANFAATKAN KISAH MASA LALU DAN MASA KINI DARI SANGIRAN Wiwit Hermanto
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 4 No. 2 (2023): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v4i2.123

Abstract

The aim of this study is to introduce gejog lesung by Sanggar Sangir at the Sangiran Site. Theresults of the study revealed that; (1) The studio was founded in 2015 with the initiation of theRuang Theater community and the agreement of several residents of Ngampon, Krikilan Village,Kalijambe District, Sragen Regency, (2) Every problem that occurs in the studio is resolved usinga deliberative approach and returned to the principle of self-actualization through the art of gejoglesung in free time, (3) Work in the form of songs sung other than those which are commonlyknown to the public as well as their own work as a creative effort to make the performance uniqueby combining stories from the past and daily life in Sangiran, (4) The uniqueness of the workmakes Sanggar Sangir's gejog lesung receive invitations to perform both in the surrounding areaand outside the city, and (5) Sanggar Sangir's seriousness in developing gejog lesung receivedfacilitation from the Sangiran Ancient Human Museum in 2017 and 2018 in the form of developingknowledge and improving art quality. Tujuan dari kajian ini adalah mengenalkan gejog lesung Sanggar Sangir yang ada di di SitusSangiran. Hasil kajian mengungkapkan bahwa; (1) Awal berdiri sanggar adalah tahun 2015 atasinisiasi komunitas Teater Ruang dan kesepakatan beberapa warga Dusun Ngampon, DesaKrikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, (2) Setiap permasalahan yang terjadi di dalamsanggar diselesaikan dengan pendekatan musyawarah dan dikembalikan pada prinsip aktualisasidiri melalui seni gejog lesung dengan memanfaatkan waktu luang, (3) Karya berupa lagu yangdibawakan selain yang sudah umum dikenal masyarakat juga karya sendiri sebagai upaya kreatifuntuk membuat pementasan menjadi khas melalui pemaduan kisah masa lalu dan kehidupansehari-hari di Sangiran, (4) Kekhasan karya menjadikan seni gejog lesung Sanggar Sangirmendapatkan undangan pentas baik di wilayah sekitar maupun luar kota, dan (5) KeseriusanSanggar Sangir dalam mengembangkan seni gejog lesung mendapatkan fasilitasi dari Museum
STRATEGI IMPLEMENTASI MOTIF BATIK KHAS SANGIRAN SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN SITUS SANGIRAN: THE IMPLEMENTATION STRATEGY OF BATIK PATTERNS FROM SANGIRAN AS A WAY TO PRESERVE THE SANGIRAN SITE Wiwit Hermanto
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 5 No. 1 (2024): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v5i1.124

Abstract

In 1996, UNESCO gives recognition to Sangiran as the Cultural World Heritage because of the importance contribution in knowledge such as the finding of human fossil, soil layers, artifacts, and fossil of fauna. Beside archaeology potential, the societies who live there also have cultural potential such as knowledge and traditional technology, natural resources and vegetation. The potential encourage BPSMP Sangiran to do a revitalization of batik pattern in order to highlight the importance value of Sangiran Site. Through batik pattern from Sangiran, it becomes a part of 2 preservation of Cultural World Heritage; they are tangible heritage and intangible heritage. The purpose of revitalizing batik from sangiran is to raise the characteristics of this site, provide benefits for the society, as a means of education, socialization, and invite them to participate in preserving the Sangiran Site. Batik pattern from Sangiran can be a way to preserve the Sangiran site which can be carried out and developed, mass production, exclusive marketing, support and participation of the government and non-government parties. There are many challenges to develop, and the writer gives solution to answer it. Tahun 1996 UNESCO memberikan pengakuan pada Situs Sangiran sebagai Warisan Budaya Dunia karena kontribusi penting dari situs ini berupa temuan fosil manusia, perlapisan tanah, artefak, dan fosil fauna. Selain potensi arkeologi, masyarakat yang mendiami situs ini memiliki potensi budaya berupa pengetahuan dan teknologi tradisional, kekayaan alam, dan vegetasi. Potensi tersebut mendorong Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran untuk melakukan revitalisasi dengan menyasar motif batik guna mengangkat nilai penting Situs Sangiran. Melalui motif batik khas Sangiran, menjadi bagian pekerjaan pelestarian 2 Warisan Budaya Dunia Indonesia yang telah diakui dunia, yaitu pelestarian budaya bendawi (tangible heritage) dan non bendawi (intangible heritage). Tujuan revitalisasi motif batik adalah untuk mengangkat ciri khas yang ada pada situs ini, sarana edukasi, sosialisasi, serta mengajak masyarakat berperan melestarikan Situs Sangiran. Pengembangan motif batik khas Sangiran dapat sebagai salah satu upaya pelestarian Situs Sangiran ke depan akan menemui berbagai tantangan. Solusi yang diberikan dalam menjawab tantangan berupa pengajuan hak cipta, melakukan produksi massal, merencanakan pemasaran yang tepat, dan pengembangan motif batik khas Sangiran.