Bambang Widarsono
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS”

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Integrasi Inversi AVO dengan Model Analitik Petrofi sika untuk Menghitung Porositas dan Saturasi Air Paul Hutabarat; Bambang Widarsono; Fakhriadi Saptono; Humbang Purba; Ridwan
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 48 No. 2 (2014): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Korelasi antara log akustik dengan besaran petrofi sik telah dimanfaatkan untuk menghitung distribusivolumetrik porositas dari hubungan linier antara Impedansi Akustik (AI) dengan porositas (ϕ) reservoir.Namun untuk menghitung distribusi saturasi air (Sw) mengalami kendala karena ketidaktersediaan datakecepatan gelombang shear (Vs). Namun kemajuan teknologi saat ini telah memungkinkan mengukurdata log Vs dan ditunjang oleh teknik inversi AVO yang dapat menurunkan atribut seismik Ip(Impedansigelombang-P), Is (Impedansi gelombang-S) dan Poisson’s Ratio (PR) sehingga peluang untuk menghitungSw dari atribut seismik semakin terbuka. Didasarkan pada rumus Gassman, dibangun suatu model analitikantara besaran petrofi sika dengan besaran akustik batuan sehingga untuk kondisi batuan reservoir yangspesifi k, maka ϕ dan Sw akan dapat disebarkan pada skala lapangan, dengan bantuan atribut seismikhasil inversi AVO. Analisa sensitifi tas menguji korelasi antara log akustik dan log ϕ dan Sw di sumurzona-fasies target, lalu kemudian ditentukan zona pancung (cut-off). Hasil kalkulasi ϕ dan Sw divalidasiterhadap data log sumur. Contoh kasus ini diambil dari lapangan gas di Indonesia Timur yang memilikidata lengkap. Paper ini merupakan bagian pengembangan karakterisasi reservoir yang menyajikan suatumetode pendekatan baru untuk menghitung ϕ dan Sw dengan mengintegrasikan atribut seismik dan modelanalitik petrofi sika. Hasil pemodelan yang diperoleh dari metode ini sangat berguna dalam pemodelanreservoar statik.
Cadangan dan Produksi Gas Bumi Nasional: Sebuah Analisis atas Potensi dan Tantangannya Bambang Widarsono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 47 No. 3 (2013): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dekade 2000-an dan 2010-an menunjukkan penurunan secara drastis produksi minyak bumi Indonesia secara nasional. Di sisi lain, pada periode yang sama pula situasi produksi dan cadangan gas bumi nasional justru menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Seiring dengan semakin tingginya harga minyak bumi, hal ini telah mendorong pemerintah untuk mengambil kebijakan substitusi kebutuhan energi dalam negeri dengan memanfaatkan cadangan dan produksi gas bumi. Studi ini dilakukan untuk melihat apakah keadaan cadangan gas bumi nasional saat ini memang dapat mendukung kebijakan tersebut, dan tantangan-tantangan apa yang harus dihadapi. Beberapa kesimpulan utama yang dapat ditarik adalah perlunya untuk didorong komersialisasi dan mobilisasi lapangan-lapangan gas tidak aktif, semakin besarnya kontribusi cadangan-cadangan offshore pada produksi nasional, baiknya tingkat laju pengurasan lapangan-lapangan aktif secara umum, dan perlunya peningkatan usaha bagi mendorong eksplorasi di Kawasan Timur Indonesia. Secara umum cadangan gas bumi nasional dinilai mampu mendukung produksi nasional untuk periode yang cukup panjang, dengan catatan perlunya mengatasi berbagai tantangan alamiah, teknis, dan non-teknis.
Ketidaktepatan dalam Pemakaian Model Saturasi Air dan Implikasinya Bambang Widarsono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 42 No. 2 (2008): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saturasi air adalah besaran yang sangat penting dalam perhitungan akumulasi hidrokarbon di tempat dan cadangan. Saturasi air pada umumnya diperoleh melalui penerapan model saturasi air saat dilakukan analisis log open hole konvensional. Disebabkan oleh peran pentingnya data tersebut, berbagai model saturasi telah dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Dengan banyaknyajumlah model saturasi air maka pertanyaan yang masih selalu terdengar di kalangan praktisi adalah: model yang mana yang harus dipakai? Tulisan ini tidak bermaksud untuk memberikan jawaban yang konklusif tapi lebih sebagai usaha untuk mengaktualkan kembali problema yang telah dapat dianggap klasik ini. Dalam tulisan ini dibuktikan kembali diskrepansi estimasi saturasi air yang dapat terjadi dengan menggunakan lima model saturasi air. Demikian pula ditunjukkan efek dari diskrepansi tersebut pada estimasi akumulasi hidrokarbon. Hasil utama dari studi literatur dan hipotetikal ini adalah perlunya mengobservasi beberapa hal penting dengan tujuan untuk mereduksi diskrepansi dan ketidakpastian akibat kesalahan dalam pemilihan model saturasi air.