Aziz Masykur Lubad
Peneliti Pertama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS”

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Potensi Pengembangan CNG Darat (Terrestrial CNG) di Indonesia Aziz Masykur Lubad; Paramita Widiastuti
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 45 No. 1 (2011): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahan Bakar Minyak (BBM) masih menjadi sumber energi utama di Indonesia hingga saatini. Namum demikian, tingginya harga minyak bumi dalam beberapa tahun terakhir telah mendorongkonsumen BBM mencari sumber energi alternatif yang lebih murah. Di tengah ketidakstabilandan tingginya harga BBM, gas bumi muncul sebagai salah satu sumber energi alternatif. Selainharganya lebih murah, gas bumi lebih ramah lingkungan. Sejauh ini, kendala utama pemanfaatangas bumi di Indonesia adalah ketersediaan infrastruktur transportasi gas bumi yang belum memadai.Jaringan pipa transmisi dan distribusi yang selama ini digunakan sebagai moda transportasi utamagas bumi di Indonesia memiliki beberapa keterbatasan seperti jarak sumber gas ke konsumencukup jauh sehingga secara teknis maupun keekonomian tidak memungkinkan dikembangkanjaringan pipa. Untuk mengatasi hal itu diperlukan suatu solusi alternatif yang ekonomis untukmenyalurkan gas bumi ke sektor konsumen yang membutuhkan. Salah satu solusi untuk mengatasikendala tersebut adalah dengan menggunakan teknologi Compressed Natural Gas (CNG) yangsaat ini telah digunakan secara luas di beberapa negara seperti Amerika Serikat, India, Cina,Thailand dan lain-lain. Teknologi ini diharapkan mampu mengakomodasi kendala transportasi gasbumi ke konsumen-konsumen yang tidak terjangkau oleh infrastruktur jaringan pipa gas bumi.
Kajian Kelayakan Pemanfaatan Gas Suar Bakar untuk Pabrik Pupuk Skala Kecil Paramitha Widiastuti; Aziz Masykur Lubad
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 44 No. 3 (2010): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Volume gas suar bakar di Indonesia masih cukup besar, yakni sekitar 310,7 MMSCFD atau sekitar 3,9% dari total utilisasi gas Indonesia (status 2008). Gas suar bakar merupakan gas buangan dari hasil operasi normal kilang, petrokimia, dan fasilitas operasi lainnya yang disalurkan untuk dibakar. Pembakaran gas sisa ini merupakan pemborosan energi dan meningkatkan CO2 di atmosfer. Pemanfaatan gas suar bakar ini seringkali terkendala oleh volume gas yang relatif kecil dan menyebar serta jauh dari infrastruktur pipa transmisi atau distribusi. Dengan adanya kendala kendala tersebut maka opsi-opsi lain untuk pemanfaatan gas suar bakar masih sangat diperlukan. Gas suar bakar dan gas dari lapangan marjinal dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk pabrik pupuk. Pada kajian ini dilakukan kajian kelayakan gas bumi skala kecil untuk pabrik pupuk skala kecil. Metodologi dari studi ini antara lain adalah survei lapangan dan evaluasi data, studi literatur, pemilihan teknologi, rancangan diagram alir proses dan perhitungan keekonomian. Rancangan kapasitas untuk pabrik pupuk dapat dibagi menjadi skala kecil, medium atau besar. Pada kajian ini, pabrik pupuk didesain sebagai pabrik pupuk skala kecil dengan kapasitas gas umpan sebesar 3,5-8,5 MMSCFD. Pembuatan pupuk urea dapat dibagi menjadi unit amonia dan unit urea. Simulasi proses pabrik pupuk skala kecil ini dibuat dengan pendekatan pada sistem pembuatan amonia dan urea secara konvensional. Berdasarkan hasil simulasi untuk kapasitas gas 5 MMSCFD, unit amonia memproduksi 223 ton amonia/hari dan unit urea menghasilkan 380 ton urea/hari. Perhitungan keekonomian dilakukan pada empat skenario gas umpan antara 3,5-8,5 MMSCFD dan harga urea 380 US$/ton. Asumsi yang digunakan adalah debt-equity ratio 30% discount rate 11% dengan daya beli gas umpan sebesar US$1 US$3/MMBTU. Pengembangan pabrik pupuk skala kecil cukup layak dikembangkan pada skenario tertentu, yakni skenario dengan laju alir gas di atas 6,5 MMSCFD, memberikan nilai IRR masih di atas nilai bunga bank yakni 11% dan nilai NPV dari pembangunan ini positif.
Program Nasional Biofuel dan Realitasnya di Indonesia Aziz Masykur Lubad; Paramita Widiastuti
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 44 No. 3 (2010): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hingga saat ini, Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar berbasis fosil sebagai sumber energi. Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, sisa cadangan minyak mentah Indonesia hanya sekitar 9 miliar barrel. Jika dengan laju produksi rata rata 500 juta barrel per tahun dan tidak ditemukan sumber minyak baru, cadangan tersebut akan habis dalam waktu 18 tahun. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan memenuhi persyaratan lingkungan global, Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan pengembangan bahan bakar alternatif ramah lingkungan yaitu biofuel atau bahan bakar nabati (BBN). Pemilihan BBN sebagai bahan bakar alternatif berbasis pada ketersediaan bahan baku. Melalui Kebijakan Energi Nasional, komposisi BBN dalam Energy Mix Nasional ditargetkan mencapai 5% pada tahun 2025 sedangkan melalui Roadmap pengembangan BBN, komposisi BBN dan bahan bakar fosil ditargetkan mencapai 15 persen berbanding 85 persen antara tahun 2009-2010. Untuk mencapai target tersebut, kebutuhan nasional untuk BBN sedikitnya 18 miliar liter per tahun. Akan tetapi keterbatasan bahan baku menjadi kendala utama karena harus berbagi dengan berbagai industri lain.