Emi Yuliarita
Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS”

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Pembuatan Bahan Bakar Minyak Solar 48 Bertitik Nyala Minimum 55 0 C dan 52 0 C Melalui Cutting Distillation Emi Yuliarita
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 45 No. 1 (2011): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada saat ini batasan titik nyala yang ditentukan untuk minyak Solar 48 di Indonesia adalah minimum 60°C, yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. Oleh karena itu penelitianini bertujuan untuk membuat minyak Solar 48 dengan titik nyala minimum 55oC dan 52oC denganmenggunakan metode cutting distillation. Proses cutting distillation dilakukan terhadapcampuran 50:50 minyak tanah dan minyak solar pada temperatur penguapan distilat berkisarantara 10% sampai 40% dari volume distilat. Sisa campuran bahan bakar yang diperoleh daripemotongan distilasi yang mempunyai angka setana paling mendekati 48 digunakan sebagaikomponen dasar untuk pembuatan minyak Solar 48 bertitik nyala 55o C dan 52oC. Kemudianfraksi nafta digunakan untuk membuat penyesuaian titik nyala.Berdasarkan hasil uji sifat-sifat fisika/kimia minyak solar 48 bertitik nyala 55oC dan 52oC yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah sesuai dengan spesifikasi minyak Solar 48 yangberlaku di Indonesia sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Dirjen Migas No. 3675 K/24/DJM/2006 tanggal 17 Maret 2006.
Meramu Bahan Bakar Jenis Bensin RON 91 yang Ramah Lingkungan dengan Membatasi Kandungan Senyawa Aromatik, Benzena, dan Olefin Emi Yuliarita
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 44 No. 1 (2010): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan bahan bakar minyak di sektor transportasi harus memperhatikan efisiensi dan masalah lingkungan. Spesifikasi World Wide Fuel Charter (WWFC) yang disusun oleh asosiasi pabrik kendaraan bermotor di dunia telah memberikan arah global harmonisasi spesifikasi BBM di seluruh dunia, antara lain pembatasan kadar olefin, aromatik, dan benzena.Bahan bakar jenis bensin 91 yang ramah lingkungan dapat diramu dari bensin dasar yang berasal dari campuran komponen-komponen bensin eks kilang Pertamina (LOMC dan HOMC)dalam perbandingan tertentu dengan menanbahkan senyawa pengungkit angka oktana, Methyl Tertiary Butyl Ether sebanyak 8 % volume.Hasil penelitian menunjukan bahwa bahan bakar bensin 91 yang ramah lingkungan yang di hasilkan, mempunyai karakteristik fisika/kimia memenuhi spesifikasi bahan bakar bensin jenis 91 menurut Surat Keputusan Dirjen Migas No. 3674K/24/DJM/2006 tanggal 17 Maret 2006 dan spesifikasi bensin 91 Pertamina serta spesifikasi bensin WWFC kategori 2 khususnya untukkadar senyawa aromatik, olefin dan benzena.
Pemanfaatan Minyak Biji Jarak Laut Sebagai Bahan Bakar Alternative Minyak Tanah (Biokerosine) Emi Yuliarita
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 43 No. 2 (2009): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan energi nasional untuk minyak tanah atau kerosine pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 10 juta KL. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut diharapkan dapat dipenuhi dari bahan bakar nabati (biofuel) sebanyak 1 juta KL. Salah satu tanaman yang mempunyai potensi untuk digunakan sebagai bahan bakar nabati adalah tanaman Jarak Laut (Hura crepitan). Tanaman tersebut umumnya digunakan sebagai tanaman pelindung dan wilayah pertumbuhannya terdistribusi secara luas di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah memanfaatkan minyak nabati murni atau Pure Plant Oil (PPO) yang berasal dari tanaman Jarak Laut untuk bahan baku pembuatan bahan bakar alternatif minyak tanah (Biokerosine). Biokerosine dibuat dari blending minyak nabati murni dengan minyak tanah pada volume pencampuran 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%. Pengujian karakteristik fisiko-kimia utama bahan bakar biokerosine meliputi pengujian densitas, titik nyala, titik asap, nilai kalori, kandungan sulfur, dan korosi bilah tembaga. Dari pengujian tersebut diperoleh hasil bahwa penambahan minyak nabati murni sampai 25% masih memenuhi spesifikasi bahan bakar minyak tanah yang ditetapkan oleh pemerintah.
Pengujian Kinerja Terbatas Minyak Solar Bertitik Nyala 55oC dan 52oC pada Bangku Uji Multisilinder Emi Yuliarita
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 45 No. 2 (2011): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam penelitian terdahulu telah dilakukan pembuatan bahan bakar minyak solar 48 bertitik nyala 55oC dan 52oC melalui cutting distillation. Dari hasil analisis sifatsifat fisika/kimia masing-masing minyak solar bertitik nyala 55oC dan 52oC yang didapatkan, dapat memenuhi spesifikasi minyak solar 48 yang di tetapkan pemerintah sesuai dengan surat keputusan Dirjen Migas No.3675 K/24/DJM/2006 tanggal 17 Maret 2006. selanjutnya untuk melihat kinerja (performance) dari masing-masing bahan bakar tersebut maka dilakukan pengujian kinerja terbatas terhadap masing-masing bahan bakar minyak solar bertitik nyala 55oC dan 52oC pada bangku uji multisilinder (Multisylinder Test Bench) dengan menggunakan mesin diesel Isuzu 4Ja1) pada tiga kategori beban. Hasil uji kinerja secara keseluruhan memperlihatkan bahwa minyak solar bertitik nyala 55oC dan 52oC sedikit lebih kecil dari minyak solar bertitik nyala 60oC. Namun emisi gas buang kepekatan asap/opasitas minyak solar bertitik nyala 55oC dan 52oC jauh lebih rendah disbanding minyak solar bertitik nyala 60oC.
Pengaruh Pencampuran Kerosin dalam Minyak Solar 48 terhadap Perubahan Sifat-Sifat Fisika/Kimia Utama Minyak Solar48 Emi Yuliarita
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 44 No. 2 (2010): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencampuran kerosin ke dalam minyak Solar 48 akan mempengaruhi sifat-sifat fisika/kimia minyak Solar 48 secara menyeluruh. Untuk melihat sejauh mana perubahan sifat-sifat fisika/kimia minyak Solar 48 akibat masuknya kerosin ini maka dilakukan penelitian pengaruh pencampuran kerosin dalam minyak Solar 48 terhadap perubahan karakteristik fisika/kimia minyak Solar 48. Metodologi yang digunakan adalah metode pencampuran langsung (direct blending) dengan volume pencampuran 10%, 20%, 30% dan 40%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencampuran 10% volume kerosin dalam minyak Solar 48 dapat menyebabkan penurunan beberapa sifat-sifat fisika/kimia utama minyak solar seperti angka setana, viskositas kinematik, titik nyala, kandungan sulfur dan lubrisitas. Penurunan sifat-sifat fisika/kimia akibat penambahan 10% volume kerosin dalam minyak Solar 48 masih dapat memenuhi Spesifikasi Minyak Solar 48 yang ditetapkan Pemerintah.
Pengaruh Penggunaan Polygasoline sebagai Komponen Bensin Terhadap Perubahan Karakteristik Fisika/Kimia Bensin Emi Yuliarita
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 43 No. 3 (2009): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak dihentikannya penggunaan senyawa timbel di dalam bensin mulai Juli 2006, penggunaan komponen bensin berangka oktana tinggi ( HOMC) meningkat dalam pembuatan bensin. HOMC yang digunakan berasal dari kilang Pertamina Balongan. Komponen hidrokarbon terbesar dari polygasoline adalah senyawa olefin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruhpemakaian polygasoline sebagai komponen dalam bensin terhadap perubahan sifat-sifat fisika/kimia bensin. Konsentrasi Polygasoline yang digunakan adalah 25%, 50%, dan 75% volume. Pengujian karakteristik fisika kimia utama bahan bakar bensin yang di uji meliputi pengujian angka oktana, kandungan getah purwa, tekanan uap reid, kandungan olefin, dan distilasi. Dari pengujian tersebut diperoleh hasil bahwa pemakaian polygasoline sampai 75% masih memenuhi karakteristik utama spesifikasi bahan bakar bensin yang ditetapkan oleh pemerintah.
Pengaruh Kadungan Logam dalam Minyak Solar 48 terhadap Pembentukan Deposit pada Komponen Ruang Bakar Mesin Diesel Statis (Genset) Emi Yuliarita
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 45 No. 3 (2011): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adanya logam dalam minyak solar dapat menyebabkan terjadinya deposit pada komponen ruang bakar mesin diesel. Kandungan logam belum dibatasi dalam spesifikasi minyak Solar yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dalam penelitian ini digunakan minyak solar 48 dari kilang Pertamina sebagai bahan bakar pembanding dan bahan bakar minyak solar modifikasi yang mempunyai kandungan logam lebih tinggi. Pengujian dilakukan pada mesin genset Yanmar TF85 yang berkapasitas 5 kVa, dengan sistem injeksi langsung (DI) selama 100 jam operasi mesin. Evaluasi intensitas dampak atau deposit pada permukaan komponen mesin dilakukan dengan metode penilaian yang dikenal dengan nama Merit Rating yang mengacu kepada metode CEC M02-T70. Hasil merit rating antara minyak solar SFR dan SFA menunjukan perbedaan terutama pada kepala silinder mesin dengan perbedaan 12,52%. Dan berat deposit pada kepala silinder mesin yang telah menggunakan bahan bakar SFR adalah 0,3225 gr dan SFA adalah 0,5860 gr. Studi ini menunjukan bahwa kandungan metalyang tinggi dalam minyak solar dapat menyebabkan terjadinya pengendapan deposit dalam ruang bakar.