Yusep K. Caryana
Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS”

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Rancang Bangun Adsorben Mercury Removal Lisna Rosmayati; Yayun Andriani; Yusep K. Caryana
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 45 No. 1 (2011): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagian besar gas bumi (natural gas) mempunyai kandungan merkuri dengan jumlah kecil(trace). Kehadiran merkuri dalam gas bumi sekalipun dalam jumlah yang kecil dinilai merugikankarena dapat menyebabkan korosi pada peralatan dan fasilitas proses di industri migas. Prosesadsorpsi merupakan proses yang paling sesuai untuk memisahkan merkuri dalam gas bumi dan rancang bangun alat adsorpsi merkuri merupakan salah satu solusi untuk meminimalkan kandungan merkuri dalam gas bumi. Kinerja alat rancang bangun adsorben mercury removal dengan kondisi percobaan menggunakan data optimum dari hasil aktivasi adsorben karbon yang telah dikarakterisasi. Kondisi optimum percobaan yaitu menggunakan adsorben karbon yang berukuran 70 mesh, diaktivasi pada temperature 700o C, direndam setelah aktivasi selama 12 jam dan posisi tabung adsorben vertikal. Hasil pengukuran merkuri (Hg) menunjukkan bahwa adsorben karbon aktif pada kondisi percobaan tersebut mampu menyerap merkuri (Hg) sebesar 27.629,94 μg/m3 .
Bioadsorben sebagai Media Penyimpanan Gas dalam Tabung ANG (Adsorbed Natural Gas) Rudy Indharto; Lusyana Lusyana; Yusep K. Caryana
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 43 No. 2 (2009): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengan adanya program pemerintah tentang pengalihan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) telah mendorong banyak sektor untuk menggunakan Bahan Bakar Gas baik dari sektor industri, transportasi maupun rumah tangga. Akan tetapi Bahan Bakar Gas yang saat ini menggunakan tabung CNG (Compressed Natural Gas) mempunyai beberapa kelemahan, salah satunya adalah tingginya tekanan dalam tabung (200 bar). Saat ini tabung ANG (Adsorbed Natural Gas) dapat digunakan untuk mengatasi kelemahan tersebut, pada tekanan yang relatif lebih rendah sekitar 500 psi, tabung ANG mempunyaivolume penyimpanan hampir setara dengan tabung CNG. Tabung ANG terdiri dari adsorben karbon aktif dan lapisan pelindung, biasanya aluminium.Karakteristik penyimpanan/pelepasan gas bumi dari tabung ANG tergantung dari sifat-sifat adsorben karbon aktif penyusunnya. Kinerja adsorpsi/desorpsi karbon dapat diketahui melalui parameter massa jenis, kekuatan tekan, tahanan listrik dan luas permukaan karbon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tabung ANG akan memiliki kinerja yang baik jika adsorpsi/desorpsi gasbumi pada karbon aktif memiliki kapasitas atau laju yang tinggi. Kapasitas adsorpsi gas bumi yang tinggi dalam karbon aktif terjadi jika karbon aktif memiliki massa jenis, luas permukaan dan kekuatan tekan yang tinggi serta memiliki hambatan listrik paling rendah. Parameter kinerja karbon aktif sangat bergantung pada proses pembuatannya. Luas permukaan akan tinggi jika butiran karbon aktif dibuat pada ukuran nano. Massa jenis dan kekuatan kompresi yang tinggi serta hambatan listrik yang rendah terbentuk jika karbon aktif dibuat melalui tahapan kompresi dan waktu pemanasan yang relatif lama.
Sintesis Nanopartikel Adsorben Desulfurisasi Berbasis Besi Oksida dan Aplikasinya pada Peningkatan Kualitas Gas Bumi Lisna Rosmayati; Yayun A; Edi W; Yusep K. Caryana
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 43 No. 3 (2009): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kandungan zat pengotor dalam gas bumi yang seringkali menjadi permasalahan karena dampak negatif yang ditimbulkannya dan pengaruhnya terhadap penurunan kualitas gas bumi. Salah satu zat pengotor dalam gas bumi adalah senyawa hidrogen sulfida (H2S) yang berpotensi menyebabkan korosivitas pada sistem perpipaan dan peralatan gas bumi karena hidrogen sulfida (H2S) dengan adanya H2O akan membentuk senyawa H2SO4 atau H2SO3 yang bersifat asam. Selain itu, hidrogen sulfida (H2S) juga dapat mempercepat pembentukan hidrat gas dan meracuni aktivitas katalis dalam proses reaksi hidrokarbon. Salah satu cara untuk mengeliminasi H2S dalam gas bumi adalah teknik desulfurisasi, yaitu menggunakan adsorben berbasis besi oksida. Sifat adsoben berbasis besi oksida (Fe2O3) dengan partikel nano memiliki jumlah dan luas permukaan yang besar, sehingga dapat menurunkan kandungan H2S hingga konsentrasi tertentu dengan laju reaksi yang relatif cepat. Reaksi H2S dengan Fe2O3 akan menghasilkan senyawa besi sulfida yang dapat diregenerasi. Teknik ini dapat diaplikasikan pada gas bumi yang mengandung H2S dengan konsentrasi rendah (300 ppm). Sintesis nanopartikel adsorben berbasis besi oksida diketahui memiliki kapasitas adsorpsi yang cukup besar, sehingga dapat menurunkan kandungan H2S hingga konsentrasi tertentu dengan laju reaksi yang relatif cepat. Pembuatan nano partikel absorben Fe2O3 dilakukan dengan menggunakan metode dekomposisi thermal.
Keekonomian Energi Alternatif Adsorbed Natural Gas (ANG) pada Skala Kecil Dan Menengah Ika Kaifiah; Yusep K. Caryana; Danang Sismartono; Dewi Widyaningrum
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 43 No. 3 (2009): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu teknologi alternatif distribusi gas bumi untuk mensubstitusi minyak tanah adalah teknologi Adsorbed Natural Gas (ANG). Teknologi ANG, adalah teknik penyimpanan dan distribusi gas dengan menggunakan adsorben karbon aktif (karbon monolith) pada temperatur ambien dan tekanan operasi sekitar 30 Bar yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan tekananoperasi CNG sekitar 200 Bar. Namun demikian, pada penerapan teknologi ANG untuk distribusi gas bumi ini perlu dilakukananalisis keekonomian sebelum diimplementasikan secara komersial. Analisis keekonomian yang dilakukan didasarkan pada mekanisme bisnis yang berimbang, artinya pada setiap lini usaha distribusi ANG diberikan asumsi pengembalian modal yang layak dengan IRR 15% untuk badan usaha fasilitas pengisian dan agen, dan 20% untuk badan usaha subagen. Harga jual ANG pada tingkat konsumen dengan sistem distribusi langsung per tabung berturut-turut adalah untuk wilayah kajian Bali Rp 15.688,- Medan Rp 10.842,- DKI Jakarta Rp 10.359,- dan Surabaya Rp 10.301,-. Sedangkan menggunakan sistem distribusi tidak langsung maka harga jual ANG per tabung berturut turut adalah Bali Rp 17.404,- Medan Rp 11.320,- DKI Jakarta Rp 10.725,- dan Surabaya Rp10.600,-. Perbedaan harga tersebut berdasarkan pada besarnya biaya investasi, beban distribusi dan penentuan wilayah dalam menetapkan masing-masing sistem distribusi tersebut.