Abstract: This study aims to analyze constructive alignment and identify formative assessment (Assessment for Learning/AfL) gaps in Physical Education (PE) lesson planning documents for Phase D Junior High School. A qualitative document analysis method was employed on two teaching modules alongside the Annual Program (Prota) and Semester Program (Promes) for the 2025/2026 academic year. Three key findings were revealed. First, an administrative mismatch exists between teaching modules that adopted Kurikulum Merdeka structures and Prota/Promes documents that still use the 2013 Curriculum's Basic Competency framework. Second, a pseudo-alignment was identified in learning steps that remained teacher-centered and lacked differentiated instruction. Third, an assessment gap was found as available instruments are oriented toward final outcomes without AfL mechanisms for diagnosis and process feedback. The study concludes that the analyzed documents do not fully reflect comprehensive constructive alignment and have not integrated AfL as a diagnostic tool for learning improvement. Keywords: formative assessment, Kurikulum Merdeka, physical education, constructive alignment Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis penyelarasan konstruktif (constructive alignment) dan mengidentifikasi kesenjangan asesmen formatif (Assessment for Learning/AfL) pada dokumen perencanaan pembelajaran PJOK jenjang SMP Fase D. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis dokumen terhadap dua Modul Ajar serta dokumen Program Tahunan (Prota) dan Program Semester (Promes) tahun ajaran 2025/2026. Hasil penelitian mengungkap tiga temuan. Pertama, terdapat ketidaksesuaian administrasi antara Modul Ajar yang telah menggunakan struktur Kurikulum Merdeka dengan Prota dan Promes yang masih menggunakan Kompetensi Dasar Kurikulum 2013. Kedua, ditemukan keselarasan semu pada langkah pembelajaran yang masih berpusat pada guru dan belum mengakomodasi diferensiasi. Ketiga, terdapat kesenjangan asesmen karena instrumen yang tersedia berorientasi pada hasil akhir tanpa mekanisme AfL untuk diagnosis dan umpan balik proses. Penelitian menyimpulkan bahwa dokumen modul ajar belum mencerminkan penyelarasan konstruktif yang utuh dan belum mengintegrasikan AfL sebagai alat diagnosis pembelajaran. Kata Kunci: asesmen formatif, Kurikulum Merdeka, pendidikan jasmani, penyelarasan konstruktif