This Author published in this journals
All Journal Naditira Widya
Yogi, Ida Bagus Putu Prajna
Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

BUKTI-BUKTI PERANAN JUNG NUSANTARA DIBANDING JUNG CINA DALAM PELAYARAN PADA AWAL MASEHI Yogi, Ida Bagus Putu Prajna
Naditira Widya Vol 3, No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v3i1.152

Abstract

In the early Anno Dominium, Chinese armadas were supported by high technology Jung to travel through the seas, to conquer and monopolize trade in the Southeast Asia. Chinese Jung also reached South Asia and Afrika either to sell or seek for goods. Nevertheless, there is no significant evidence to confirm that Chinese Jung were built and navigated by the Chinese. A number of archaeological finds and Chinese chronicles indicate that they used Jung originally came from Kunlun (Indonesian Archipelago). The journals also stated that Nusantara Jung had made voyages until Madagascar and were used by the Chinese and Persian for trade. This article discusses the contribute of Nusantara Jung in maritime voyaging in the ealy Anno Dominium
MEMPOSISIKAN PENGELOLA WARISAN BUDAYA DALAM PELESTARIAN DAN PEMANFAATAN SITUS BENTENG TABANIO DI KALIMANTAN SELATAN Yogi, Ida Bagus Putu Prajna
Naditira Widya Vol 5, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i2.78

Abstract

Abstrak. Benteng Tabanio telah diteliti secara intensif selama 1994 sampai dengan 1999 oleh Balai ArkeologiBanjarmasin. Namun, sampai dengan saat ini pengelolaan situs ini tidak jelas. Sebenarnya pengelolaan yang tidakjelas ini tidak hanya terjadi pada Situs Benteng Tabanio. Selama 10 tahun belakangan ini ketidakjelasan pelestariandan pemanfaatan sebuah situs arkeologi di Indonesia hingga saat ini memang menjadi suatu polemik yang tidak adahabis-habisnya. Tulisan ini membahas tentang permasalahan pengelolaan yang muncul dilandasi oleh perbedaankepentingan antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pengelola warisan budaya, upaya mengelola konflik, danlangkah-langkah pemanfaatan warisan budaya yang memberikan manfaat kepada masyarakat. Pada akhirnya,diharapkan adanya perubahan dinamika sikap pengelola warisan budaya dalam mengantisipasi perkembanganorientasi kepentingan masyarakat.
PENGGUNAAN GROUND PENETRATING RADAR (GPR) DALAM PENELITIAN ARKEOLOGI Yogi, Ida Bagus Putu Prajna
Naditira Widya Vol 3, No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v3i2.146

Abstract

The core of archaeological research is excavation, a destructive and unrepeatabl method employed to collect data buried underground. Today, there is a device which can reduce excavation failure and harmful impact upon archaeological date i.e. ground penetrating radar (GPR). Many archaeological research carried out abroad have been using the GPR, since it is considered one of the most effective methods to identify the condition beneath the ground before starting an excavation. Unfotunately, it is still infrequently employed in archaeological research in Indonesia. This article discussed the benefing of GPR methos for archaeological research and excavation in Indonesia.
POTENSI SUMBER DAYA ARKEOLOGI BAWAH AIR DI KALIMANTAN Yogi, Ida Bagus Putu Prajna
Naditira Widya Vol 4, No 1 (2010): April 2010
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v4i1.136

Abstract

Many shipwrecks have been found in the Indonesian waters loaded with ceramics, ship components and others. There are at the least 463 shipwrecks loaded with invaluable artefacts; however, such number is too small compared to the vastness of the Indonesian waters and the maritime history in regard to Indonesian Archipelago. One of islands which provide data on shipwreck is Kalimantan; it lies practically in the centre of the Indonesian Archipelago and has the longest beach and large rivers that cuts into the interior of the island and functions as the artery of water transfortation in the past. The suggest prospective archaeological data to be unearhed. Unfortunately, up until today, little underwater archaeological research has been carried out in Kalimantan. This article discusses the importance of carrying out underwater archaeological research in Kalimantan waters.
PELESTARIAN KAWASAN PECINAN SINGKAWANG, PROVINSI KALIMANTAN BARAT Yogi, Ida Bagus Putu Prajna
Naditira Widya Vol 7, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v7i1.93

Abstract

Abstrak. Indonesia adalah negara yang lambat-laun memudar sejarah eksistensinya. Kehilangan tersebut diakibatkanoleh banyaknya bukti fisik sejarah Indonesia yang dihancurkan demi sejumlah faktor. Di antara faktor-faktor tersebutyang sering dijadikan alasan penghancuran selama empat dekade belakangan ini adalah pembangunan masyarakatyang sejahtera. Salah satu bukti fisik yang sedikit demi sedikit diabaikan kelestariannya adalah kawasan Pecinan diKota Singkawang. Tulisan ini membahas komunitas Cina di Singkawang dalam perkembangan sejarah Indonesiadan strategi pelestarian kawasan Pecinannya. Studi tersebut dilakukan menggunakan metode deskriptif-analitisdengan penalaran induktif. Hasil studi menunjukkan bahwa komunitas Cina telah berkontribusi dalam perkembanganperekonomian di kawasan Singkawang. Dengan demikian, penciptaan kawasan Pecinan dapat diajukan sebagaisalah satu strategi pelestarian sekaligus pemanfaatan cagar budaya Kota Singkawang.
JOGLO GUDANG SEBUAH BUKTI EKSISTENSI CINA DI KALIMANTAN SELATAN Yogi, Ida Bagus Putu Prajna
Naditira Widya Vol 8, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v8i2.107

Abstract

Awal kedatangan masyarakat Tionghoa di Banjarmasin karena aktivitas perdagangan. Jalur transportasi yang digunakanadalah sungai. Oleh karena itu, pemukiman cenderung terkonsentrasi di wilayah daerah aliran sungai besar, yaitu di daerah Veteran,Gedangan, dan RK Ilir yang berada di sepanjang Sungai Martapura, Banjarmasin. Joglo gudang adalah salah satu budaya yangmuncul dalam masyarakat Tionghoa di Kalimantan Selatan. Artikel ini akan membicarakan sejarah pemakaian arsitektur joglo gudangtersebut dan alasan dipilihnya bentuk joglo gudang sebagai bentuk tempat tinggal mereka. Metode yang digunakan adalah metodedeskriptif-analitis. Kombinasi unsur lokal genius dari masyarakat Tionghoa dalam mendirikan usaha perumahan dan sikap adaptif untukmenyesuaikan diri dengan lingkungan di Kalimantan yang berair dan menghasilkan bentuk baru arsitektur tradisional masyarakatBanjar, disebut joglo gudang.
SEKILAS SEJARAH KEDATANGAN DAN BUDAYA KERAMIK ORANG CINA DI SINGKAWANG Yogi, Ida Bagus Putu Prajna
Naditira Widya Vol 2, No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v2i1.167

Abstract

Ceramic-making technology.Singkawang is a city in the Province of West Kalimantan, which inhabited mostly by the Chinese. The natural potency of Kalimantans western region and its strategic location on the Chinese trade route was probably one of aspects, which lead the Chinese to travel and inhabit in that specific area then. Up until now, the number of Chinese in West Kalimantan, especially in Singkawang, have been increasing and even outnumbered indigenous people of Kalimantan. Such increase in population has simultaneously encouraged the Chinese ancestral culture to flourish in Singkawang, which for instance reflected by the similary of city-form between Singkawang and those of China mainlands. Ethnoarchaeologically, the Tungku Naga or Dragon Klin stands out as the most striking phenomenon of the old Chinese tradition with its traditional ceramic production in Singkawang, which may well be rare attribute and yet scarcely found in China nowadays. This article discuss the arrival of Chinese in the Indonesian Archipelago and their