Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL UNTUK MEMBANGUN PELINDUNGAN BUDAYA LOKAL (Seni Tutur Aceh PM TOH) Erlinda
Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni (Sesanti) Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni (Sesanti) 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan media sosial dalam upaya pelestarian dan penguatan budaya lokal yang dilakukan oleh petutur Aceh dalam menjaga Seni tutur Aceh (PM TOH). Harapan dapat dijadikan sebagai pembelajaran oleh muda dan mudi di seluruh pelosok Indonesia dalam upaya menjaga budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan instrumen penelitian, Observasi, wawancara dan dokumen. Populasi dalam penelitian adalah masyarakat Aceh dan sampelnya adalah tiga orang seniman Aceh yang aktif melakukan pertunjukan hikayat PM TOH di Banda Aceh dan satu orang seniman Aceh yang aktif melakukan pertunjukan di seluruh Indonesia dan luar Negeri. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa, dari sekian banyak Seni tutur Masyarakat Aceh, ada daerah-daerah tertentu yang budaya seni Tutur dipertahankanolehmasyarakatAcehdanadapulayangditinggalkan. Seni tutur Aceh (PM TOH) dewasa ini mendapatkan perhatian khusus oleh para pemuda Aceh sehingga menjadi populer dan terus berkembang hingga ke ibukota Indonesia. Kepopuleran seni tutur PM TOH akibat dari tepatnya pemanfaatan media sosial seperti Instagram, facebook dan you tube oleh seniman tutur Aceh dalam mempromosikan pertunjukan budaya lokal. Media sosial mempunyai fungsi penting dalam peningkatan promosi dan daya tarik masyarakat akan seni tutur Aceh yang dulunya seni ini sangat populer dan dinanti oleh masyarakat. Masuknya Era Milenial membawa manfaat tersendiri bagi seni dan budaya di Aceh. Khususnya seni tutur PM TOH.
Kesenian Rapa’i Bubee: Realisme Magis dalam Seni Tradisi Masyarakat Pidie Jaya Tria Ocktarizka; Rizki Mona Dwi Putra; Erlinda
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol. 15 No. 1 (2026): Grenek: Jurnal Seni Musik (June)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v15i1.73604

Abstract

Rapa'i Bubee is a traditional art form from Meureudu, Pidie Jaya Regency, which represents an oral narrative about the efforts of religious scholars to conquer Jin Pari through rapa'i percussion and traditional media such as aree, jeuee, and bubee. This study aims to describe the transformation of function, structure, and mystical meaning in the Rapa'i Bubee performance. The study used a qualitative descriptive method with data collection techniques through observation, interviews, and documentation studies. Data analysis was carried out through the stages of reduction, presentation, and drawing conclusions. The results show that Rapa'i Bubee has undergone a transformation from a supernatural healing ritual to entertainment and a medium for historical education. Elements considered contrary to Islamic teachings, such as the burning of incense, have been removed without losing the cultural identity of the performance. Despite the change in function, the magical dimension is still apparent through the phenomenon of trance of the performers who are controlled by the Caliph through the regulation of the tempo of the percussion as a symbol of the conquest of astral beings.