Fahimah, Rif’iyatul
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kontribusi Ibnu Mujahid dalam Ilmu Qira’at Fathurrozi, Moh; Fahimah, Rif’iyatul
HERMENEUTIK Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i1.17641

Abstract

Ilmu Qira’at merupakan bagian dari ilmu Al-Qur’an yang membahas tentang tata cara serta ragam perbedaan bacaan lafal Al-Qur’an yang disandarkan kepada perawi yang mentransmisikannya. Keberadaan ilmu ini sangat urgen untuk mempermudah umat Islam dalam membaca dan memahami Kalamullah. Pada permulaan turunnya, Al-Qur’an hanya dibaca menggunakan satu huruf, kemudian atas kemurahan Allah, dijadikan menjadi tujuh huruf. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, tersebar banyak sekali qira’at yang tidak shahih sehingga para ulama berupaya untuk memilih dan memilah qira’at yang sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw. Di antara ulama tersebut adalah Ibnu Mujahid yang menjadi pioneer dalam meneliti qira’at yang shahih dengan menetapkan beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh seorang Imam qira’at. Hinggakemudianiamenetapkantujuh Imam qira’at yang menurutnya sesuai dengan criteria tersebut. Ketujuh Imam tersebut adalah Imam Nafi’ bin Abdurrahman, Imam Abdullah bin Katsir, Imam Abu Amr, Zabban bin Al-Ala’ Al-Bashriy, Imam Abdullah Ibnu AmirAl-Syamiy, Imam Ashim bin Abi Al-Najud Al-Kufiy, Imam Hamzah bin Al-Zayyat, dan Imam Ali bin Hamzah Al-Kisa’i. Jerih payah Ibnu Mujahid dalam menghimpun qira’at-qira’at yang shahih sangat diapresiasi oleh para ulama dan ummat Islam pada umumnya hingga dijadikan bahanrujukan ulama-ulama setelahnya. Namun, terdapat pula pihak yang tidak sepakat dengan penetapan tersebut, terutama yang berkaitan dengan penetapan Imam yang ketujuh yaitu Imam Al Kisa’i. Di antara yang tidak sepakat adalah Imam Makki yang berpendapat bahwa Imam Ya’qub lebih berhak untuk dijadikan Imam ketujuh. Ia menganggap penetapan yang dilakukan Ibnu Mujahid tidak fair dan mengandung unsure politik. Akan tetapi anggapan tersebut dibantah oleh Ibnu Mujahid dengan menyatakan bahwa terdapat dua faktor yang menjadikan qira’at Imam Ya’qub tidak termasuk dalam kategori kriterianya. Pertama, karena transmisi sanadnya yang rendah. Beliau membaca kepada Salam bin Sulaiman, dan Salam membaca kepada Imam Ashim. Kedua, karena di antara bacaannya keluar dari bacaan mayoritas. Buah pemikiran Imam Mujahid ini memunculkan opini pada masyarakat awam bahwa tujuh qira’at yang ia pilih merupakan representasi dari ungkapan “ahrufsab’ah”. Padahal faktanya tidak demikian. Namun hal ini justru memberikan dampak positif yang mampu memacu ulama selanjutnya untuk berkarya dalam ilmu qira’at.Contribution of Ibn Mujahid in the Science of Qira'at. The science of Qira'at is part of the science of the Qur'an, which discusses the procedures and the differences in the recitation of the Qur'an, which are based on the narrator who transmitted it. The existence of this knowledge is very urgent to make it easier for Muslims to read and understand the Kalamullah. At the beginning of its descent, the Koran was only read using one letter; then, by the grace of Allah, it was made into seven letters. However, over time, many qira'at needed to be more authentic, so the scholars tried to choose and sort out qira'at that followed the teachings of the Prophet Muhammad. Among these scholars was Ibn Mujahid, who began researching authentic qira'at by establishing several criteria a qira'at Imam had to have. Until then, he determined seven qira'at Imams who according to him, fit these criteria. The seven Imams are Imam Nafi 'bin Abdurrahman, Imam Abdullah bin Katsir, Imam Abu Amr, Zabban bin Al-Ala' Al-Bashriy, Imam Abdullah Ibn Amir Al-Syamiy, Imam Ashim bin Abi Al-Najud Al-Kufiy, Imam Hamzah bin Al-Zayyat, and Imam Ali bin Hamza Al-Kisa'i. The efforts of Ibn Mujahid in compiling authentic qira'ats were highly appreciated by the scholars and the Muslim community in general, so they were used as reference material for subsequent scholars. However, some parties disagree with this determination, especially about the determination of the seventh Imam, namely Imam Al Kisa'i. Among those who disagreed was Imam Makki, who argued that Imam Ya'qub had more right to be made the seventh Imam. He considered that the determination made by Ibn Mujahid was unfair and contained political elements. However, this assumption was refuted by Ibn Mujahid by stating that two factors made Imam Ya'qub'sqira'at not included in the category of criteria first because of its low transmission. He read to Salam bin Sulaiman, and Salam read to Imam Asim, second, because among the readings out of the majority reading. The fruit of Imam Mujahid's thoughts gave rise to the general public's opinion that the seven qira'ats he chose represented the expression "ahrufsab'ah." This is not the case. However, this positive impact can spur subsequent scholars to work in the science of qira'at.