In general, Christians understand theology as the science that speaks about God and His relationship with man insofar as He is revealed, already existing from the beginning or coming down from heaven as a finished product. This understanding is very wrong. For this reason, this article aims to provide a description of the coexistence between theology and philosophy from the medieval era (Medioevo) which actually gave birth to a stable and solid form of theology. This description is the focus of the purpose of this article. The research method used in the process of writing this article is a qualitative method by applying a literature study. The research of this article found that philosophy has an important role in the process of forming a solid and time-resistant theology so that the adage emerged; philosophia ancilla teologiae and until this modern era, the coexistence of the two cannot be separated because they have permeated each other. AbstrakSecara umum, jemaat Kristen memahami bahwa teologi sebagai ilmu yang berbicara tentang Tuhan dan relasi-Nya dengan manusia sejauh Ia diwahyukan, sudah ada sejak semula atau diturunkan dari langit sebagai barang jadi. Pemahaman seperti ini sungguh sangat keliru. Untuk itu, artikel ini hendak memberikan suatu uraian tentang koeksistensi antara teologi dan filsafat dari zaman abad pertengahan (Medioevo) yang sejatinya melahirkan suatu bentuk ilmu teologi yang mantap dan kokoh. Uraian tersebut merupakan fokus yang menjadi tujuan dari artikel ini. Metode penelitian yang digunakan dalam proses penulisan artikel ini adalah metode kualitatif dengan menerapkan studi kepustakaan. Penelitian artikel ini menemukan bahwa filsafat memiliki peran penting dalam proses pembentukan teologi yang kokoh dan tahan zaman sehingga muncullah adagium; philosophia ancilla teologiae serta hingga era modern ini, koeksistensi keduanya tak dapat dipisahkan karena sudah saling meresapiKata-kata Kunci: Filsafat, Jemaat, Iman Kristiani, Medieval, Teologi.