Yulia Permata Sari
Magister Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Padang

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

HONEY BEE SCHOOL: EDUKASI LINGKUNGAN BERBASIS BUDIDAYA LEBAH MADU DI KABUPATEN KEPULUAN MENTAWAI Triyatno Triyatno; Febriandi Febriandi; Lailatur Rahmi; Yulia Permata Sari
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 1 (2025): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i1.27936

Abstract

Abstrak: Potensi lebah madu Mentawai sangat besar, hal ini dapat menjadi mata pencarian Masyarakat yang dapat meningktakan perekonomian. Namun, saat ini madu di panen dengan cara tradisional sehingga menyebabkan koloni lebah madu berkurang bahkan terancam keberadaannya. Pengabdian kepada masyarakat melalui pendirian Honey Bee School di Kabupaten Kepulauan Mentawai bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pelestarian lebah madu dan ekosistemnya, serta memberikan edukasi yang berbasis lingkungan. Metode program ini terdiri dari pelatihan calon trainer untuk menciptakan tenaga pendidik yang profesional, menyiapkan sarana dan prasarana yang mendukung proses belajar-mengajar, pembentukan struktur organisasi yang baik, penyiapan berkas administrasi sesuai standar pendidikan nonformal, serta merancang kelas-kelas edukasi tematik yang berfokus pada pembelajaran interaktif dan berbasis praktik, seperti budidaya lebah madu dan panen lebah madu hutan. Tim pengabdian bermitra dengan karang taruna desa Matobe yang beranggotakan 38 orang dengan rentang usia 20-50 tahun. Hasil dari pengabdian ini menunjukkan bahwa pelatihan dan edukasi yang diberikan mampu meningkatkan kompetensi masyarakat dalam budidaya lebah madu dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan sebanyak 80 persen. Program ini juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal melalui pengembangan produk madu. Dengan dukungan yang berkelanjutan dan kolaborasi dari berbagai pihak, Honey Bee School dapat menjadi model pendidikan nonformal dalam pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.Abstract: The potential of Mentawai honeybees is huge, this can be a livelihood for the community that can improve the economy. However, honey is currently harvested in a traditional way, causing honey bee colonies to decrease and even threaten their existence. Community service through the establishment of Honey Bee School in the Mentawai Islands Regency aims to increase community awareness and understanding of the importance of conserving honey bees and their ecosystems, as well as providing environmentally-based education. The program method consists of training prospective trainers to create professional educators, preparing facilities and infrastructure that support the teaching and learning process, establishing a good organisational structure, preparing administrative files according to non-formal education standards, and designing thematic educational classes that focus on interactive and practice-based learning, such as honey bee cultivation and forest honey bee harvesting. The service team partnered with the Matobe village youth organisation, which consists of 38 members with an age range of 20-50 years. The results of this service showed that the training and education provided were able to increase community competence in honey bee cultivation while maintaining environmental sustainability by 80 per cent. This programme also has the potential to improve local economic welfare through honey product development. With continued support and collaboration from various parties, Honey Bee School can become a model of non-formal education in environmental conservation and community empowerment.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI DIVERSIFIKASI PRODUK KAYU MANIS DALAM MENDUKUNG EKONOMI SIRKULAR Syafri Anwar; Febriandi Febriandi; Surtani Surtani; Lailatur Rahmi; Yulia Permata Sari
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 3 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i3.39149

Abstract

Abstrak: Nagari Malalak Barat, Kabupaten Agam, merupakan salah satu sentra penghasil kayu manis di Sumatera Barat dengan potensi besar untuk dikembangkan dalam kerangka ekonomi sirkular. Namun, masyarakat setempat masih menghadapi kendala dalam diversifikasi produk, pemanfaatan teknologi, akses pasar, dan pengelolaan usaha. Program pengabdian ini dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas ibu-ibu PKK melalui sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, serta pendampingan dan monitoring usaha berbasis kayu manis. Metode pelaksanaan meliputi pelatihan diversifikasi produk (minyak esensial, teh herbal, olahan pangan), pemasaran digital, manajemen usaha, serta desain kemasan dan branding. Peserta juga dilatih dalam penggunaan teknologi produksi dan pemasaran, pengelolaan database pelanggan, serta analisis pasar. Hasil evaluasi pretest dan posttest menunjukkan peningkatan signifikan, dari skor awal 30–45% menjadi 75–85% setelah program, terutama pada aspek diversifikasi produk, kesadaran ekonomi sirkular, dan keterampilan pemasaran digital. Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas 14 ibu-ibu PKK di Nagari Malalak Barat melalui diversifikasi produk kayu manis berbasis ekonomi sirkular dengan metode pelatihan, pendampingan, dan penerapan teknologi, yang terbukti meningkatkan keterampilan peserta dari 30–45% menjadi 75–85% terutama pada aspek produksi, pemasaran digital, dan manajemen usaha.Abstract: Malalak Barat Village, Agam Regency, is one of the major cinnamon-producing centers in West Sumatra with significant potential for development within the framework of a circular economy. However, the local community still faces challenges in product diversification, technology adoption, market access, and business management. This community service program was implemented to enhance the capacity of PKK women through outreach, training, technology adoption, as well as business mentoring and monitoring focused on cinnamon-based enterprises. Implementation methods included training on product diversification (essential oils, herbal tea, processed foods), digital marketing, business management, and packaging design and branding. Participants were also trained in the use of production and marketing technologies, customer database management, and market analysis. Results from pre- and post-test evaluations showed a significant improvement, from initial scores of 30–45% to 75–85% after the program, particularly in the areas of product diversification, circular economy awareness, and digital marketing skills. This community service program aims to enhance the capacity of 14 PKK women in Nagari Malalak Barat through the diversification of cinnamon-based products using a circular economy approach, employing training, mentoring, and technology implementation. This approach has proven to improve participants’ skills from 30–45% to 75–85%, particularly in the areas of production, digital marketing, and business management.
UPAYA PENINGKATAN KESADARAN PENDIDIKAN DAN KECAKAPAN HIDUP BAGI ANAK PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI Lailatur Rahmi; Syafri Anwar; Rahmulyani Fitriah; Yulia Permata Sari
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 5 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i5.26390

Abstract

Abstrak: Kabupaten Kepulauan Mentawai menghadapi tantangan serius terkait tingginya angka putus sekolah akibat faktor geografis, sosial, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi upaya-upaya strategis yang dapat meningkatkan kesadaran pendidikan dan kecakapan hidup bagi anak-anak putus sekolah di wilayah tersebut. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk melahirkan program yang berperan dalam mengedukasi anak-anak putus sekolah melalui indikator kecakapan hidup, diantaranaya kecakapan mengenal diri (self awarness) atau kemampuan personal (personal skills), kecakapan sosial (social skills), dan kecakapan vokasional (vocational skills). Kami melakukan wawancara dan observasi menyeluruh pada anak-anak desa matobe yang mengalami masalah serius pada jarak sekolah yang mengakibatkan mereka harus putus sekolah. Untuk itu, demi meningkatkan kecakapan hidup anak-anak desa matobe diberikan workshop praktik pembuatan ecoprint sederhana, memberikan sosialisasi pengenalan tentang pendidikan seks, serta kemampuan belajar berbahasa Indonesia yang baik. Hasil dari kegiatan ini yaitu anak-anak desa Matobe bisa memiliki kecakapan hidup diantaranya memiliki keterampilan pengenalan dan pendidikan seks yang berguna untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang kesehatan reproduksi dan hubungan yang sehat, mimiliki kecakapan hidup dengan mampu berbahasa Indonesia yang baik serta memiliki kecakapan membuat bahan produk dari kain dengan teknik ecoprint sederhana.Abstract: Mentawai Islands Regency faces serious challenges related to the high dropout rate due to geographical, social, and economic factors. This study aims to identify strategic efforts that can increase educational awareness and life skills for school dropouts in the region. This service activity aims to give birth to a program that plays a role in educating school dropouts through life skills indicators, including self-awareness or personal skills, social skills, and vocational skills. We conducted thorough interviews and observations on children in Matobe village who experienced serious problems with school distance resulting in them having to drop out of school. For this reason, in order to improve the life skills of the children of Matobe village, a practical workshop on making simple ecoprints was given, providing socialization of introduction to sex education, as well as good Indonesian language learning skills. The result of this activity is that the children of Matobe village can have life skills, including having sex introduction and education skills that are useful to improve their understanding of reproductive health and healthy relationships, having life skills by being able to speak good Indonesian and having the ability to make product materials from fabric with simple ecoprint techniques.
PENINGKATAN KEMAMPUAN LITERASI MEMBACA ANAK MELALUI IMPLEMENTASI POJOK BACA Lailatur Rahmi; Syafri Anwar; Rahmuliani Fitriah; Yulia Permata Sari
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.19595

Abstract

Abstrak: kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilkansakan di Kabupaten Kepuluan Mentawai dimana banyak anak-anak usia sekolah dasar yang tidak emmiliki literasi membaca dan juga literasi budaya yang diakibatkan oleh kurangnya pemahaman dan kebutuhan membaca. Rendahnya tingkat kemampuan membaca dan pengetahuan measyarakat, menyebabkan lack of knowledge yang berdampak pada berbagai bidang kehidupan massyarakat. Kegiatan pengabdian bertujuan ini untuk menyediakan fasilitas membaca dan penerapan pojok baca agar berdampak pada peningkatan kemampuan literasi membaca anak-anak. Metode pengabdian adalah sosialisasi dan pendampingan dalam pemanfaatan pojok baca serta pelatihan keterampilan soft skill bagi siswa rumah cerdas. Mitra yang terlibat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini addalah siswa SD N 18 Tua Pejat sebanyak 85 orang dan guru sebanya 10 orang. Program pojok baca dan pelatihan soft skill bagi siswa di evaluasi melalui angket yang diberikan kepada siswa yang berisikan soal-soal tentang litrasi membaca mutra yang terlibat. Setelah dilakukan sosialisasi dan pendampingan dalam pemanfaatan pojok baca serta pelatihan keterampilan soft skill bagi siswa rumah cerdas didapatkan hasil bahwa pjok baca mempu meningkatkan literasi membaca siswa sebanyak 80% melalui buku-buku yang disalurkan kepada siswa.Abstract: This community service activity was carried out in the Mentawai Islands Regency where many elementary school age children do not have reading literacy or cultural literacy due to a lack of understanding and need for reading. The low level of reading ability and community knowledge causes a lack of knowledge which has an impact on various areas of community life. This service activity aims to provide reading facilities and implement reading corners to have an impact on improving children's reading literacy skills. The service method is socialization and assistance in utilizing reading corners as well as soft skills training for smart home students. The partners involved in this community service activity are 85 students of SD N 18 Tua Pejat and 10 teachers. The reading corner program and soft skills training for students were evaluated through a questionnaire given to students containing questions about the literacy of the reading corners involved. After conducting socialization and assistance in the use of reading corners as well as soft skills training for smart home students, the results showed that reading corners were able to increase students' reading literacy by 80% through the books distributed to students.