Annis Nurfitriana Nihayah
Ekonomi Pembangunan, Universitas Negeri Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGUATAN KAPASITAS EKONOMI PETANI KOPI MELALUI AGRO-ROASTING OPTIMAL Dwi Rahmayani; Annis Nurfitriana Nihayah; Detalia Noriza Munahefi; Fredericho Mego Sundoro; Bhanu Rasendriyo; Grace Natalia Marpaung
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 6 (2024): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i6.26769

Abstract

Abstrak: Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia dengan potensi tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat petani. Namun, sebagian besar nilai keuntungan kopi hanya dirasakan di tingkat distributor dan produsen besar, sementara petani kopi di daerah cenderung menerima hasil yang minim. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan hardskill dan softskill petani kopi di Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang melalui program Agro-Roasting Optimal (AROMA). Melalui program ini, petani diberikan pelatihan teknis dalam pengolahan pasca panen kopi, seperti pemanggangan (roasting), penyeduhan (brewing), serta pengujian cita rasa (cupping), disertai dengan inovasi produk hilir berupa sabun kopi dan pelatihan digitalisasi pemasaran produk. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi ceramah, praktik langsung, dan Focus Group Discussion (FGD). Sebanyak 30 peserta yang terdiri dari petani kopi, pelaku UMKM, serta masyarakat umum di Kecamatan Jambu turut serta dalam kegiatan ini. Evaluasi dilakukan melalui angket dan observasi langsung untuk mengukur pemahaman dan keterampilan peserta sebelum dan sesudah kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan teknis peserta sebesar rata-rata 28,4%. Peningkatan ini terlihat pada kemampuan penggunaan metode cupping (36,1%), pengelolaan limbah kopi (34,9%), dan standar pengolahan kopi yang baik (34,4%).Abstract: Coffee is one of Indonesia's leading commodities with high potential to enhance the economic well-being of farming communities. However, most of the coffee's profit value is enjoyed only at the distributor and large-scale producer levels, while local coffee farmers often receive minimal benefits. This community service activity aims to improve the hardskills and softskills of coffee farmers in Jambu District, Semarang Regency, through the Agro-Roasting Optimal (AROMA) program. Through this program, farmers received technical training in post-harvest coffee processing, including roasting, brewing, and cupping, along with product innovation training on coffee-based products like coffee soap and digital marketing. The methods used in this activity included lectures, hands-on practice, and Focus Group Discussions (FGD). A total of 30 participants, consisting of coffee farmers, MSME actors, and the general community in Jambu District, participated in the program. Evaluation was conducted using questionnaires and direct observation to assess participants' knowledge and skills before and after the activity. The evaluation results showed an average improvement in participants' knowledge and technical skills by 28.4%. This increase was observed in areas such as the use of cupping methods (36.1%), coffee waste management (34.9%), and compliance with good coffee processing standards (34.4%).
TRANSFORMASI EKONOMI DESA MELALUI INOVASI MASYARAKAT EKONOMI KREATIF, AKSELERATIF, DAN RAMAH LINGKUNGAN Annis Nurfitriana Nihayah; Dwi Rahmayani; Rahmadani Nur Permanawati; Nuuferulla Kurniantyas; Ayuntavia Ayuntavia
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 5 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i5.26410

Abstract

Abstrak: Desa Banyumeneng di Demak memiliki komoditas utama kunyit, namun hanya dijual dalam bentuk kunyit rajang kering dengan harga yang rendah karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam inovasi produk dan kurangnya adopsi teknologi. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dilakukan kegiatan PKM yang bertujuan untuk meningkatkan wawasan, keterampilan, dan kapabilitas masyarakat dalam menghasilkan produk olahan kunyit yang bernilai jual tinggi dan menumbuhkan ide bisnis yang inovatif. Kegiatan ini meliputi pelatihan diversifikasi produk, prinsip-prinsip GMP, desain logo dan kemasan, serta pemasaran melalui media sosial. Pelatihan ini diikuti oleh 20 orang perempuan dari kelompok tani kunyit di Desa Banyumeneng. Evaluasi dari kegiatan ini dilakukan dengan metode diskusi atau wawancara langsung serta melakukan pencatatan informasi tentang hambatan dan motivasi dalam melaksanakan kegiatan, indikator keberhasilan dari kegiatan ini adalah 75% peserta yang merupakan kelompok tani mengalami peningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang diversifikasi kunyit, prinsip GMP, dan branding produk, serta dapat mempraktekkannya. Hasil evaluasi dari kegiatan tersebut menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan, dimana 90% peserta mampu memahami dan mempraktikkan teknik yang diajarkan. Inisiatif ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan meningkatkan prospek ekonomi desa dengan menambahkan nilai tambah pada produk kunyit mereka.Abstract: Banyumeneng Village in Demak has turmeric as its main commodity, but it is only sold in the form of dried turmeric with low prices due to limited knowledge and skills in product innovation and lack of technology adoption. To overcome this, PKM activities were carried out which aimed to improve the insights, skills, and capabilities of the community in producing high-value turmeric processed products and fostering innovative business ideas. This activity includes training on product diversification, GMP principles, logo and packaging design, and marketing through social media. The training was attended by 20 women from the turmeric farmer group in Banyumeneng Village...The evaluation of this activity was carried out using the discussion or direct interview method and recording information about obstacles and motivation in carrying out the activity, the success indicator of this activity is 75% of the participants who are farmer groups are able to understand the material to increase their knowledge about turmeric diversification, GMP principles, and product branding, and practice it. The evaluation results of the activity showed an increase in knowledge and skills, where 90% of participants were able to understand and practice the techniques taught. This initiative aims to empower the community and improve the economic prospects of the village by adding value to their turmeric products.