“Artikel ini membahas tentang gabungan Self Assessment Methodology Plus untuk ISO 55001: 2014 dan menajemen risiko dalam rangka meningkatkan kinerja dari sistem manajemen asset. Kedua pendekatan ini diimplementasikan di sebuah perusahaan yang fokus pada perawatan berat lokomotif dan variannya. Studi pendahuluan telah dilakukan menggunakan wawancara terhadap beberapa sumber daya manusia yang bekerja di perusahaan ini dan hasilnya menunjukkan bahwa terdapat kerugian yang hingga ratusan juta rupiah akibat implementasi manajemen aset yang kurang matang. Isu lain lain yang menjadi fokus penelitian ini adalah belum pernah dilakukannya pengukuran tingkat kematangan manajemen aset sehingga organisasi belum mempunyai suatu tolak ukur untuk dapat meningkatkan kematangan manajemen asetnya. sehingga perlu dilakukan analisis penerapan asset management maturity model untuk mengetahui bagaimana kondisi manajemen aset di organisasi tersebut sehingga dapat dilakukan penyusunan usulan strategi dan mitigasi risiko. Pada penelitian ini dilakukan pada tiga departemen di perusahaan ini. Pengukuran dilakukan menggunakan software Self-Assessment Methodology Plus (SAM+) berbasis ISO 55001:2014 yang dikembangkan oleh The IAM. Manajemen risiko dalam manajemen aset juga dilakukan untuk penyusunan mitigasi risiko sesuai dengan benefit of asset management. Setelah dilakukan penilaian, golongan perangkat tukar menjadi golongan yang diprioritaskan untuk mendapatkan usulan strategi perbaikan peningkatan tingkat manajemen aset karena memiliki nilai kematangan rendah yaitu 1,9. Usulan mitigasi risiko juga diberikan terhadap golongan ini dengan dilakukannya pemetaan risiko berdasarkan nilai severity dan likelihood terlebih dahulu. Mitigasi risiko dilakukan terhadap tujuh risk event yang setelah root cause analysis menggunakan FTA. Hasil analisis strategi mitigasi yang bisa dimplementasikan oleh organisasi untuk meningkatkan kinerja dari sistem manajemen asset.