Lamhot Naibaho
Universitas Kristen Indonesia, Jl, Mayor Jendral Sutoyo No.2, Cawang, Kec. Keramat Jati, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 13630

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Watu Pinawetengan Sebagai Place-Lore dan Simbol Civil Sphere di Minahasa Really Pelita Tumengkol; Djoys Anneke Rantung; Lamhot Naibaho; Thiosani Kaat; Valentino R. Mokalu
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.136-150

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi Watu Pinawetengan sebagai tempat sakral atau Place-Lore (ruang pengetahuan) dalam keterkaitannya dengan pengetahuan serta spiritual masyarakat Minahasa. Masa kolonialisme sampai pascakolonialisme mentransformasi setiap aspek kebudayaan termasuk pola pikir masyarakat mengenai Watu Pinawetengan. Sebelumnya Watu Pinawetengan dimaknai sebagai ruang sakral dan Place-Lore, kini masyarakat melihat sebagai tempat penyembahan berhala. Penelitian ini memakai metode kualitatif dengan pendekatan etnografi kemudian deskripsi-analitis mengenai ruang keariafan lokal masyarakat Minahasa dalam keterkaitannya dengan Civil Sphere (ruang masyarakat) pembentuk demokrasi purba Minahasa. Watu Pinawetengan menjadi Place-Lore dan simbol demokrasi purba bagi masyarakat Minahasa karena pernah terjadi musyawarah negeri untuk menyelesaikan konflik antar suku. Musyawarah bukan hanya terfokus pada permasalahan politis melainkan konflik antar kepercayaan dalam konteks Minahasa. Berdasarkan temuan dapat disimpulkan Watu Pinawetengan sebagai Place-Lore menjadi tempat sakral bagi masyarakat Minahasa lintas generasi dan merupakan ruang bagi masyarakat melakukan selebrasi budaya.