Fajar Sulistya
Program Studi Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Hidup dengan Bencana Pariwisata Gunung Berbasis Masyarakat di Yogyakarta, 1925 -2020 Fajar Sulistya; Pujo Semedi; Mohamad Yusuf; Agung Wicaksono
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.1-15

Abstract

Secara statistik, obyek pariwisata kaliurang menyedot ratusan ribu pengunjung tiap tahunnya sehingga menjadi salah satu community-based tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat yang paling berhasil di Provinsi D.I. Yogyakarta. Berdasarkan telaah historis, berkembangnya CBT di kaliurang bukanlah suatu hal yang hadir secara tiba-tiba, namun merupakan implikasi dari resiliensi menyejarah masyarakat yang awalnya tinggal di Kawasan marjinal dan rawan bencana. Pada awalnya, mereka merupakan hamba orang kaya pemilik villa yang secara perlahan bertransformasi menjadi pegiat pariwisata yang mandiri. Proses ini tidaklah mudah karena upaya membangun pariwisata berhadapan dengan erupsi Gunung Merapi yang, meski tak terprediksi, senantiasa berlangsung secara berulang. Pada 2020, wabah Covid-19 yang melumpuhkan ekonomi juga berdampak besar pada wisata Kaliurang. Lagi-lagi, kita melihat bagaimana resiliensi pelaku wisata Kaliurang mampu menghindarkan sector ini dari kebangkrutan sehingga secara perlahan bangkit Kembali. Secara historis, meski Kaliurang, dan pelaku wisatanya, menghadapi beragam tekanan social dan bencana dalam satu abad terakhir, fakta etnografis menunjukkan bahwa mereka adalah masyarakat yang resilien. Oleh karenanya, pertanyaan krusial yang dihadirkan dalam artikel ini adalah, relasi-relasi sosial ekonomi seperti apakah yang hidup di Kaliurang sehingga mereka tidak hanya mampu bertahan meski dihantam berbagai bencana, tetapi juga –pada beberapa kesempatan–, mengubahnya menjadi peluang usaha baru yang berkontribusi besar meningkatkan kondisi ekonomi?