Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hakikat Dan Inovasi Kewirausahaan Dakwah Di Era Disruptif Muhammad Farid Abi Ardiansyah; Cecep Castrawijaya
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Nusantara (JIMNU) Vol. 2 No. 3 (2024): JIMNU - NOVEMBER
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/jimnu.v2i3.433

Abstract

Melihat perkembangan komunikasi dan teknologi yang semakin maju menjadi tantangan yang berat bagi dakwah, umumnya para da’i ini perlu memahami Hakikat dan filosofi inovasi dalam melakukan langkah-langkah dakwah. Secara kondisi ini di sisi lain menjadi suatu peluang juga bagi para da’i berdakwah dengan pendekatan kewirausahaan melalui lembaga dakwah atau semacamnya. Secara masa era Dirupsi ini lah pantasnya kita mengembangkan diri, secara Indonesia merupakan nega yang amat padat penduduk dan memilki keanekaragaan suku, ras, budaya dan bahasa. Kebutuhan kohesi sosial ini menjadi tanggung jawab untuk kita merefleksikan diri sebagai seorang da’i untuk menerapkan nilai-nilai yang rahmataan lil alamien. Penelitian ini menitik beratkan pada bagaimana Hakikat dan inovasi dalam kewirausahaan Lembaga atau individu dakwah di era Dirupsi. Terkait era dirupsi, pendekatan dakwah akan memerlukan perubahan dan penyusuaian, baik dari segi bentuk, media, isi (peran) maupun paradigma yang mendasarinya. Penulis menawarkan beberapa strategi yang menyimpulkan penguatan kekuluargaan, menumbuhkan kesamaan presepsi antar kelompok masyarakat dengan memperkuat nilai-nilai universal dan mengembangkan sistem informasi yang mampu menjangkau secara luas dan menumbuhkan komunikasi yang efektif dan humoris.
Certification Model of Islamic Preachers in Muslim-Majority Countries: Experience from Indonesia and Malaysia Cecep Castrawijaya; Ihsan Rahmat
DAWUH : Islamic Communication Journal Vol. 6 No. 2 (2025): July
Publisher : Yayasan Darussalam Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62159/dawuh.v6i2.1780

Abstract

In the context of the escalating threat of global radicalism, the regulation of religious discourse has emerged as a pivotal concern for Muslim-majority nations. The present article endeavors to undertake a comparative analysis of Islamic preacher certification policies in Indonesia and Malaysia. The present study aims to elucidate the fundamental discrepancies in objectives, mechanisms, and implementing authorities. An exploratory qualitative study was conducted using a literature review. A comprehensive data set was meticulously gathered from both primary and secondary sources. The primary sources encompassed government policies, fatwas, and regulations, while the secondary sources included journals, books, and think tank reports. These data were then subjected to a rigorous thematic analysis and comparative scrutiny through a comparative matrix. The findings indicate that Islamic preacher certification in Indonesia is driven by a national security agenda to counter radicalism and represents a compromise between the state and civil society organizations. In contrast, Malaysia's mandatory tauliah (Islamic preacher certification) system prioritizes the preservation of doctrinal orthodoxy and is legally enforced by religious authorities at the state level. These disparate models reflect the distinct political landscapes and state-religion relations in both countries. Implications are both models encounter substantial challenges in regulating digital da'wah that is not bound by jurisdiction, underscoring the need for further research on religious governance in the digital age. Future studies should explore the impact of preacher certification on radicalism prevention