Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Peranan Empati Sebagai Mediator dalam Hubungan Antara Burnout dan Self-Efficacy pada Guru Sekolah Dasar di Jakarta Ineke Putri Margaretha; Riana Sahrani; Pamela Hendra Heng
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 5 No. 11 (2024): Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v5i11.5912

Abstract

Guru saat ini tengah menghadapi transisi sistem pembelajaran online ke pembelajaran tatap muka. Hal ini tentunya membuat guru mengalami stres yang menumpuk sehingga berpotensi besar untuk burnout. Teachers’ burnout adalah respon berkepanjangan terhadap stres emosional di tempat kerja. Situasi ini pada akhirnya akan berdampak negatif kepada teachers’ self-efficacy, yaitu menurunnya keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri. Sementara teachers’ self-efficacy memiliki hubungan positif terhadap teachers’ empathy, dimana teachers’ empathy adalah kemampuan seseorang untuk merasakan apa yang orang lain rasakan. Hal inilah yang mendasari peneliti memilih teachers’ empathy sebagai mediator terhadap hubungan antara teachers’ burnout dan teachers’ self-efficacy. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasi dan non eksperimen dengan mengumpulkan data melalui kuesioner yang disebarkan kepada 121 guru Sekolah Dasar di Jakarta, berusia 21-55 tahun, dan mengajar kelas 1-6 SD. Self-Efficacy Scale digunakan untuk mengukur tingkat self-efficacy guru, kemudian Manual Burnout Assessment Tool (BAT) untuk mengukur teacher burnout, sementara The Basic Empathy Scale in Adults (BES-A) dipakai untuk mengukur empati guru. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan tiga temuan, yaitu terdapat hubungan yang negatif antara burnout kepada self-efficay guru sekolah dasar di Jakarta (β = -0,3216, p = 0,0035), kemudian burnout dapat berpengaruh negatif kepada empathy pada guru sekolah dasar di Jakarta (β = -0,377, p = 0,0032), dan yang terakhir empati berperan sebagai mediator antara burnout dan self-efficacy pada guru sekolah dasar di Jakarta (β = -0,0013, p = 0,9411).
Peran Regulasi Emosi Sebagai Mediator Hubungan Antara Depresi dan Kualitas Hidup Mantan Pecandu Alkohol Elisa Carolina Jean Malaihollo; Roswiyani Roswiyani; Riana Sahrani
JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN ILMU SOSIAL Vol. 5 No. 6 (2024): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Oktober - November 2024)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v5i6.3238

Abstract

Melewati proses menjadi mantan pecandu alkohol tidaklah mudah terutama bagi mereka yang sebelumnya adalah pecandu berat alkohol. Banyaknya pengaruh baik secara fisik dan juga secara psikologi yang akan dialami oleh para mantan pecandu alkohol jika mereka ingin mengurangi atau berhenti mengonsumsi alkohol tersebut. Pengaruh secara psikologis yang mungkin dapat dialami selama proses tersebut sangat berkaitan dengan emosi yang akan berkaitan dengan stress, kecemasan dan juga depresi. Hal yang paling dihindari oleh mantan pecandu alkohol adalah relapse untuk kembali mengonsumsi alkohol kembali. Kekhawatiran relapse ini pun menjadi salah satu pemicu para mantan pecandu alkohol mengalami depresi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran regulasi emosi sebagai mediator terhadap hubungan antara depresi dan kualitas hidup pada mantan pecandu alkohol. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan kuantitatif korelasional yang melihatkan 150 mantan pecandu alkohol dengan rentang usia 20-40 tahun. Pengumpulan data diukur dengan menggunakan Beck’s Depression Inventory (BDI; Beck et al., 1961), Cognitive Regulation Question (CERQ; Garnefski et al., 2001) dan Quality of Life Scale (WHOQOL) dari WHO (TH). Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan PROCESS versi 4.2 SPSS yang menguji peran regulasi emosi sebagai mediator pada hubungan antara depresi dan kualitas hidup. Terdapat 3 hasil analisis yang ditemukan yaitu (1) diketahui bahwa adanya direct effect yang signifikan antara depresi (X) dan kualitas hidup (Y) dengan dengan nilai ? = -0.5985, LLCI -0.7651 dan nilai ULCI -0.4318. (2) Hasil indirect effect mendapatkan hasil bahwa tidak ditemukan effect yang signifikan dengan nilai dengan nilai ? = -0.0052, LLCI -0.569 dan nilai ULCI 0.54, dan (3) Hasil mediasi indirect effect dari regulasi emosi maladaptif (M) ditemukan bahwa nilai ? = -0.0698, BootLLCI -0.254 dan nilai ULCI 0.1755, maka berdasarkan hasil ini dapat digambarkan regulasi emosi dimensi maladaptif (M) tidak memediasi depresi (X) dan kualitas hidup (Y).
Hubungan Antara Loneliness dan Subjective Well-being yang Dimediasi oleh Online Social Support dan Self-efficacy pada Individu Dewasa Awal yang Menggunakan Media Sosial di Indonesia Joan Victory; Riana Sahrani
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 6 No. 1 (2024): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Desember 2024 - Januari 2025)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v6i1.3089

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara kesepian dan kesejahteraan subjektif pada pengguna media sosial dewasa awal di Indonesia, serta peran mediasi dukungan sosial online dan efikasi diri dalam hubungan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah survei kuantitatif yang melibatkan 411 responden dewasa awal yang aktif menggunakan media sosial. Penelitian ini menggunakan instrumen UCLA Loneliness Scale, Skala Kesejahteraan Subjektif Indonesia, Skala Dukungan Sosial, dan Skala Efikasi Diri. Hasil analisis data menunjukkan bahwa variabel kesepian memiliki hubungan terhadap subjective well-being (0.641>0.089), namun variabel kesepian tidak berpengaruh terhadap subjective well-being (0.961<0.001), oleh karena itu diperlukan peran efikasi diri dan dukungan sosial online sebagai mediator. Efikasi diri dan dukungan sosial memiliki tingkat pengaruh yang signifikan sebagai mediator kesepian dan kesejahteraan subjektif. Dukungan sosial online memiliki angka yang signifikan melalui uji Hayes Process Macro sebesar 0.242, dan efikasi diri sebesar 0.367, kedua variabel ini memiliki nilai yang berbeda namun tetap signifikan sebagai mediator antara variabel kesepian dan kesejahteraan subjektif. Hal ini dapat diartikan bahwa variabel efikasi diri lebih efektif sebagai mediator bagi individu yang kesepian untuk mencapai kesejahteraan subjektif. Tingkat efikasi diri yang tinggi dapat mengurangi dampak negatif kesepian terhadap kesejahteraan subjektif, namun temuan ini mengindikasikan bahwa dukungan sosial dapat menjadi mediator bagi individu yang kesepian untuk mencapai kesejahteraan subjektif melalui platform media sosial.