Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Kadar Glukosa Darah dan Kepatuhan Perawatan Ulkus dengan Derajat Keparahan Ulkus di Klinik Griya Puspa Yogyakarta Rima Mauliddiana; Muhammad G.A Putra; Deny Yuliawan
Syntax Idea 3968-3975
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/syntax-idea.v6i9.4408

Abstract

Masalah pada pankreas yang menyebabkan penyakit kronis, dimana insulin (hormon pengatur gula darah) tidak dapat diproduksi dan digunakan secara efektif sehingga menyebabkan hiperglikemia yang merupakan ciri khas diabetes. Mengetahui hubungan antara kadar glukosa darah dan kepatuhan perawatan ulkus dengan derajat keparahan ulkus di klinik griya puspa Yogyakarta. Metode: Menggunakan rancangan penelitian kuantitatif korelasional dengan pendekatan Cross Sectional. Penelitian ini dilakukan di klinik griya puspa Yogyakarta yaitu klinik perawatan luka dengan populasi sebanyak 35 responden. Pengambilan sampel menggunakan total sampling yang termasuk dengan kriteria inklusi. Instrument penelitian ini berupa kuesioner data demografi, kuesioner kepatuhan perawatan ulkus, dan lembar ceklist. Analisa bivariat dengan uji korelasi Rank Spearman. Hasil analisis dengan uji korelasi Rank Spearman pada hubungan kadar glukosa darah dengan derajat keparahan ulkus yaitu p-value 0,046<0,05 maka H0 ditolak bermakna ada hubungan kadar glukosa darah dengan derajat keparahan ulkus, sedangkan pada kepatuhan perawatan ulkus dengan derajat keparahan ulkus menunjukkan hasil p-value 0,017<0,05 maka H0 ditolak bermakna ada hubungan antara kepatuhan perawatan ulkus dengan derajat keparahan ulkus. Faktor paling dominan pada derajat keparahan ulkus di Klinik Griya Puspa Yogyakarta adalah kepatuhan perawatan ulkus yakni empat kali lipat lebih berpengaruh dibandingkan kadar glukosa darah
Body Mass Index, Blood Pressure, and Glucose Profiles in the AKRABI TENSI Exercise Program: Screening and Prevention of Non-Communicable Diseases Deny Yuliawan; Alvi Annastasya; Era Ledi Diana; Ucup Firdaus; Windu Santoso; Wulandari Wulandari; Yudis Dwipa Yolan Anugrah; I’ana Aulia Andari
Warta LPM WARTA LPM, Vol. 28, No. 3, November 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/warta.v28i3.10867

Abstract

Non-communicable diseases (NCDs), including hypertension, are major health problems commonly found in communities and are among the leading causes of death globally, including in Indonesia. The management of hypertension requires family support, adherence to antihypertensive medication, and the promotion of a healthy lifestyle. This community service program aimed to educate the elderly through the “AKRABI TENSI” exercise movement and to provide an overview of body mass index (BMI), blood pressure, and random blood glucose levels (RBG) as a screening and prevention effort for NCDs at the Elderly Posyandu in Padukuhan Karang Lo. This activity was carried out over seven days, from observation to evaluation, by the team as part of the Clinical Exposure (CE) 3 practice block. There were four series of activities during the implementation, including: (1) “AKRABI TENSI” exercise and deep breathing relaxation; (2) health education on hypertension prevention using the “CERDIK” approach; (3) routine health checks including blood pressure, random blood glucose (RBG), weight, and height measurements; and (4) evaluation of health education using a crossword puzzle. The educational media used included PowerPoint presentations, small banners, manual sphygmomanometers, and basic health check devices. Evaluation results showed that 78% of participants had a sufficient level of knowledge. Health screening results revealed that 33 participants (72%) had high blood pressure, while 13 participants (28%) were within the normal range. Among 46 participants, 16 had elevated blood glucose levels, while 30 had normal levels. This program highlights the need to optimize elderly Posyandu activities through continuous education and health screenings to reduce the prevalence of non-communicable diseases (NCDs) in the community.