UHAMKA, Winaresmi
Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

HUBUNGAN FAKTOR INTERNAL DAN FAKTOR EKSTERNAL KARYAWAN DENGAN KELELAHAN KERJA PADA KARYAWAN LAUNDRY GARMENT DI BAGIAN PRODUKSI CV. SINERGIE LAUNDRY JAKARTA BARAT TAHUN 2013 UHAMKA, Sartono; UHAMKA, Martaferry; UHAMKA, Winaresmi
ARKESMAS [Arsip Kesehatan Masyarakat] Vol 1 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTAlmost every year as many as 2 million workers died from workplace accidents are caused by work fatigue factors). In Indonesia, every day an average of 414 workplace accidents due to fatigue27.8% is quite high approximately 9.5% or 39 people experiencing disability. Industrial washingjeans is one part of the textile industry and is engaged in the laundering and discoloration. Fatigueoccurs because workers are often faced with a workload that is as diverse as the target resolutionof the work to be timely. Thus the need to know the relationship of internal factors and externalfactors of employees with job burn out of employees in the production of laundry garment LaundryCV Sinergie West Jakarta in 2013. The study was conducted in laundry CV Sinergie located in Jalan Pos Pengumben No. 12 KebonJeruk, West Jakarta. The timing of this study from March 2013 until October 2013. It was startedwith preparing a research proposal to the seminar results. This study used a cross sectional design.The study population was all employees CV Sinergie Laundry in the production of as many as 74people. Determination of the number of samples used saturated sampling method.The analysistechnique used is the analysis of univariate and research bivariat. The results of analysis showed70.6% of employees experience fatigue high category, employees with older age (≥35 years)52.7%, long working life (> 5 years) 58.1% , poor nutrition status / underweight 59.5%, 70.3%marital status, mental workload low category 62.2%, smoking 85.1%, 55.4% breakfast habits,the condition of the building uncomfortable 66.2%. There is a relationship between age (pvalue0.000), marital status (pvalue 0.034), mental workload (pvalue 0.036), smoking (pvalue 0,000),breakfast habit (pvalue 0.016), the condition of buildings (pvalue 0,033) with work fatigue. No relationship between tenure (pvalue 0.250), nutritional status / IMT (pvalue 0.798) with work fatigue so that interventions can be expected were the entrepreneur can apply a more ergonomicway of working, doing job rotation more often, not too often provide overtime work and providefor their employees wheeler cart.Keywords: employees, fatigue, occupational risk ABSTRAKHampir setiap tahun sebanyak 2 juta pekerja meninggal dunia karena kecelakaan kerja yang disebabkan oleh faktor kelelahan kerja. Di Indonesia setiap hari rata-rata terjadi 414 kecelakaankerja, 27,8% disebabkan kelelahan yang cukup tinggi dan lebih kurang 9,5% atau 39 orangmengalami cacat. Industri pencucian jeans merupakan salah satu bagian dari industri tekstil dan bergerak di bidang pencucian dan pelunturan warna. Kelelahan terjadi karena pekerja sering dihadapkan pada beban kerja yang beragam seperti target penyelesaian pekerjaan yangharus tepat waktu. Dengan demikian perlu diketahui adanya hubungan faktor internal danfaktor eksternal karyawan dengan kelelahan kerja pada karyawan garment laundry di bagianproduksi CV Sinergie Laundry Jakarta Barat tahun 2013. Penelitian dilakukan di CV Sinergie Laundry yang berada di Jalan Pos Pengumben No. 12Kebon Jeruk Jakarta Barat. Waktu pelaksanaan penelitian ini mulai bulan Maret 2013 sampaidengan bulan Oktober 2013. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Populasipenelitian adalah seluruh karyawan CV Sinergie Laundry di bagian produksi sebanyak 74orang. Penentuan jumlah sampel menggunakan metode sampling jenuh. Teknik analisis yangdigunakan yaitu analisis univariat dan analisis bivariat. Hasil penelitian menunjukkan 70,6%karyawan mengalami kelelahan kategori tinggi, karyawan dengan umur tua (≥35 tahun) 52,7%,masa kerja lama (>5 tahun) 58,1%, status gizi kurang baik/kurus 59,5%, status kawin 70,3%,beban kerja mental dengan kategori rendah 62,2%, kebiasaan merokok 85,1%, kebiasaan tidaksarapan 55,4%, dan kondisi bangunan gedung tidak nyaman 66,2%. Terdapat hubungan antaraumur (p-value 0,000), status perkawinan (p-value0,034), beban kerja mental (p-value 0,036),kebiasaan merokok (p-value 0,000), kebiasaan sarapan (p-value 0,016), kondisi bangunangedung (p-value 0,033) dengan kelelahan kerja.Tidak ada hubungan antara masa kerja (p-value0,250), status gizi/IMT (p-value 0,798) dengan kelelahan kerja. Intervensi yang bisa diharapkanadalah pengusaha dapat menerapkan cara kerja yang lebih ergonomis, melakukan rotasi kerjalebih sering, jangan terlalu sering memberikan kerja lembur, dan menyediakan troli berodabagi karyawan.Kata kunci: karyawan, kelelahan, risiko kerja