Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Gerakan Tarekat Tijaniyah di Garut, Jawa Barat, Indonesia, 1935-1945 Hidayat, Asep Achmad; Gumilar, Setia
SOSIOHUMANIKA Vol 9, No 1 (2016)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Penelitian ini ingin merekonstruksi ajaran tarekat Tijaniyah dan perkembangannya di daerah Garut, Jawa Barat, Indonesia, pada tahun 1935-1945. Masalah ini didasarkan pada realitas bahwa masuk dan berkembangnya tarekat Tijaniyah di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, yang diwarnai oleh pertentangan di antara para ahli tarekat di Indonesia, telah dilakukan dengan berbagai cara. Pertentangan ini timbul karena adanya anggapan dari para penganut tarekat non-Tijaniyah bahwa dalam tarekat Tijaniyah terdapat kejanggalan-kejanggalan. Meskipun sejarah perjalanan tarekat Tijaniyah diwarnai oleh kontroversi dan pertentangan dari para tokoh tarekat lain (non-Tijnaiyah), namun jumlah pengikut tarekat Tijaniyah terus bertambah dari waktu ke waktu. Penelitian menunjukan bahwa perkembangan tarekat Tijaniyah di daerah Garut, Jawa Barat, sejak pertama kali disebarkan oleh K.H. (Kyai Haji) Badruzaman pada tahun 1935, mengalami perkembangan yang sangat pesat dan berjalan dengan mulus tanpa pertentangan dari golongan non-Tijaniyah. Bahkan, berdasarkan sumber-sumber lisan yang didapatkan dari para tokoh tarekat Tijaniyah di Garut, sejak kedatangannya, gerakan tarekat Tijaniyah ini mulai bersentuhan dengan pergerakan nasional untuk menentang pemerintahan kolonial Belanda. Pada zaman pendudukan Jepang (1942-1945), kaum Tijaniyah di Garut ikut juga melakukan penentangan terhadap pemerintahan Jepang di Garut. Sedangkan pada masa awal revolusi Indonesia (1945), kaum Tijaniyah di Garut ikut bergabung dengan organisasi “Hizbullah” (Barisan Allah) dan “Sabilillah” (Jalan Allah) untuk mempertahankan kemerdekaan melalui gerakan “khalwat” (mengasingkan diri) dan “hijrah” (berpindah ke tempat lain).KATA KUNCI: Tarekat Tijaniyah; Ajaran dan Perkembangan Tarekat; Kabupaten Garut; Tokoh Tarekat; Peran Tarekat. ABSTRACT: “Movement of Tijaniyyah Sufi Order in Garut, West Java, Indonesia, 1935-1945”. This study wants to reconstruct the teachings of Tijaniyyah and its developments in the area of Garut, West Java, Indonesia, in the year 1935-1945. This issue is based on the reality that the entry and development of Tijaniyyah in Indonesia, especially in West Java, which is characterized by contradiction among the members of Islamic mysticism order in Indonesia, has been done in various ways. This contradiction arises because of the assumption of the non-members of Tijaniyyah that there are irregularities in Tijaniyah order. Despite the long history of Tijaniyyah marred by controversy and opposition from other religious leaders who non-Tijnaiyah, but the number of Tijaniyyah followers continue to grow over time. Research shows that the development Tijaniyyah in Garut, West Java, since it was first propagated by K.H. Badruzaman in 1935, has developed very fast and run smoothly without any opposition from the non-Tijaniyah members. In fact, based on oral sources obtained from figures of Tijaniyyah in Garut, since its arrival, Tijaniyyah movement began contact with the national movement against Dutch colonial rule. At the time of Japanese occupation (1942-1945), the Tijaniyah in Garut come too did opposition to Japanese rule in Garut. Meanwhile, during the early period of Indonesian revolution (1945), the Tijaniyah in Garut joined the organizations of “Hezbollah” (Army of God) and “Sabilillah” (Way of God) to maintain independence through the movement of “khalwat” (exile) and “hijrah” (move to another place).KEY WORD: Tijaniyyah Sufi Order; Doctrine and Development of Sufi Order; Garut District; Figures of Sufi Order; Role of Sufi Order.  About the Authors: Dr. Asep Achmad Hidayat dan Dr. Setia Gumilar adalah Dosen di Fakultas Adab dan Humaniora UIN SGD (Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati) Bandung, Jalan A.H. Nasution No.105 Cipadung, Bandung 40614, Jawa Barat, Indonesia. Alamat emel penulis: gumilarsetia@yahoo.comHow to cite this article? Hidayat, Asep Achmad & Setia Gumilar. (2016). “Gerakan Tarekat Tijaniyah di Garut, Jawa Barat, Indonesia, 1935-1945” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.9(1) May, pp.31-48. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press and UPI Bandung, ISSN 1979-0112. Chronicle of the article: Accepted (April 5, 2016); Revised (April 25, 2016); and Published (May 20, 2016).
Friction in MASYUMI: A Historical Studies on Internal Conflict Event of Islamic Party in Indonesia, 1945-1960 Hidayat, Asep Achmad; Gumilar, Setia
TAWARIKH Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.794 KB)

Abstract

ABSTRACT: As one of the modern Islamic organizations, MASYUMI (Majelis Syuro Muslimin Indonesia or Council of Indonesian Muslim Association), in its development, cannot be separated from the internal dynamics. The dynamics influenced toward the pattern of the struggle that it did. The differences of MASYUMI’s characteristics are the main reasons for the friction. Besides, internal political interests became the other causes of MASYUMI’s discordance. Different characters and their political interests led to the domination of one group in MASYUMI. The political domination impacts on the integrity of the members in it. This study tries to elaborate of friction in MASYUMI as modern political party in Indonesia, since 1940s to 1960s in Indonesian political landscape. The method of study is a qualitative research, especially historical method, in which the Heuristic, Critics, Analysis, and Historiography are the steps in historical research. The findings show that as a result of these frictions in MASYUMI, the authority and dignity of the organization has decreased. MASYUMI was no longer become covered Islamic organizations, as well as on the initial formation. Many Muslims did not want to join again with MASYUMI. Inequalities in the management of distributing the resources unevenly became the early setback that MASYUMI up cannot be glimpsed again by Muslims, either personally or collectively. KEY WORDS: Modern Islamic Party; Internal Conflict; Domination; Political Interests; Indonesian Political Landscape.  About the Authors: Dr. Asep Achmad Hidayat and Dr. Setia Gumilar are the Lecturers at the Faculty of Adab and Humanities UIN SGD (State Islamic University, Sunan Gunung Djati) Bandung, Jalan A.H. Nasution No.105 Cipadung, Bandung 40614, West Java, Indonesia. E-mail address is: gumilarsetia@yahoo.comHow to cite this article? Hidayat, Asep Achmad & Setia Gumilar. (2016). “Friction in MASYUMI: A Historical Studies on Internal Conflict Event of Islamic Party in Indonesia, 1945-1960” in TAWARIKH: International Journal for Historical Studies, Vol.8(1) October, pp.59-68. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press and UIN SGD Bandung, ISSN 2085-0980. Chronicle of the article: Accepted (September 8, 2016); Revised (October 5, 2016); and Published (October 28, 2016).
PELARANGAN DAN PERJUANGAN: PEMAKAIAN JILBAB PELAJAR PUTRI PADA MASA ORDE BARU TAHUN 1982-1991 Nuraeni, Leni; Nuraeni, Leni; Gumilar, Setia
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 18, No 2 (2021): Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v18i2.15119

Abstract

Jilbab merupakan baju kurung atau penutup kepala yang lapang dan dapat menutupi aurat perempuan kecuali wajah. Di Indonesia jilbab mulai populer dan digunakan oleh masyarakat khususnya para pelajar pada tahun 80an. Pemakaian jilbab dikalangan pelajar tersebut disebabkan oleh adanya gerakan-gerakan dakwah seperti yang terjadi di Mesjid Salman ITB dalam bentuk pelatihan LMD, SII, dan sebagainya. Maraknya pemakaian jilbab pada masa pemerintahan Orde Baru tahun 1982-1991 menimbulkan tantangan dan perjuangan bagi para pelajar, karena bertentangan dengan kebijakan  pemerintah. Untuk menjawab masalah tersebut, arah penulisan dalam artikel ini menggunakan metode penelitian sejarah yang bertujuan untuk menjelaskan Pelarangan dan Perjuangan Pemakaian Jilbab Bagi Kalangan Pelajar pada Masa Orde Baru Tahun 1982-1991. Pengumpulan data mengenai tema tersebut dilakukan melalui penelusuran literature. Temuan-temuannya yaitu berupa polemik yang terjadi antara para pelajar dan sekolah-sekolah negeri. Para pelajar memakai jilbab ke sekolah telah melanggar SK 052/C/Kep/D.1982. Polemik pemakaian jilbab tersebut tidak bisa dilepaskan dari hubungan antara umat Islam dan pemerintah Orde Baru. Dimana pada masa itu pemerintah banyak mencurigai umat Islam. Namun, diakhir pemerintahannya, pemerintah Orde Baru mendekati dan mengakomodasi Islam. Kebijakan mengenai seragam sekolah diperbaharuhi hingga di keluarkanlah SK No. 100/C/Kep/D/1991 yang memperbolehkan para pelajar memakai jilbab ke sekolah. Keluarnya SK 100, selain disebabkan oleh akomodasi pemerintah terhadap Islam, tetapi juga adanya upaya penyelesaian dari beberapa Organisasi-organisasi Massa dan MUI.
Kontribusi Aktivis Mesjid Lautze 2 Bandung dalam Merangkul Mualaf Tionghoa Tahun 2016-2021 Ilham Muhamad Nurjaman; Setia Gumilar
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 1, No 4 (2021): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v1i4.13193

Abstract

Lautze 2 Mosque in Bandung was established in January 1997. The location of Lautze 2 Mosque is on Jl. Tamblong number 27 Bandung City. Lautze 2 Mosque is a branch of Lautze 1 Mosque in Jakarta. Lautze 2 Mosque in Bandung has its uniqueness, especially in the architecture of the building. Lautze 2 Mosque, conceptualized in the shape of a temple. The red, yellow, and gold paint colors that adorn the walls of the Lautze 2 Mosque reflect Chinese culture. In addition to the paint color, the ornaments that adorn the mosque also have a Chinese nuance. From 2016 to 2021, there were 151 who took the oath of faith at the Lautze 2 Mosque. In addition to religious activities, the Lautze 2 Mosque always held social programs. One of them is the iftar program and on the road a thousand dates. This activity was supported by various parties, one of which was the Salman Charity House. Not only Muslims who support this, but even many interfaith also donate to keep this activity. In writing this article, the theory used is the racial theory proposed by Murtadha Muttahari. According to him, the leading cause of historical progress is certain races.
Penggunaan Experience Based Learning Pada Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Untuk Meningkatkan Kesadaran Beragama dan Daya Kritis Siswa MAN di Kabupaten Bekasi Yasir Amrullah; Supiana; Sulasman; Setia Gumilar
Andragogi: Jurnal Diklat Teknis Pendidikan dan Keagamaan Vol 8 No 2 (2020): Andragogi: Jurnal Diklat Teknis Pendidikan dan Keagamaan
Publisher : Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36052/andragogi.v8i2.192

Abstract

[THE USE OF EXPERIENCED-BASED LEARNING IN LEARNING ISLAMIC CIVILIZATION HISTORY TO IMPROVERELIGIOUS AWARENESS AND STUDENTS' CRITICAL THINKING AT MADRASAH ALIYAH NEGERI IN BEKASIREGENCY]. The purpose of this study was to identify: The use of Experience-Based Learning (EBL) in learningSKI so as to foster students' religious awareness and critical power of MAN students in Bekasi Regency; This study uses a quantitative approach methods. The method used is a quasy experiment. The results of this study includes: 1) The use of EBL in learning SKI to foster religious awareness of students of MAN Bekasi Regency, it is known from the difference in the average questionnaire before learning in the experimental and control group meeting 1 of 3.60, after learning it was obtained 6.85; meeting 2 showed a greater mean difference of 10,075; and meeting 3 of 4.85. This means that H1 = i1 ≠ i2 is accepted so that there is a significant difference between the experimental class and the control class in cultivating religious awareness; The use of EBL in learning SKI to grow students' critical power can be seen from the results of the average difference between the pre test experimental class with treatment and the control class meeting 1 of 4.75, after treatment shows a greater difference between the post test experimental class and the control class of 10,875. Meeting 2 shows the difference in the average post test experimental class with control of 10,125, and meeting 3 is 9.25. This means that H1 = i1 ≠ i2 so that there is an average difference between the experimental class and the control class in growing the critical power of MAN students in Bekasi Regency
ETOS KERJA URANG SUNDA: TI BIHARI KA KIWARI Setia Gumilar; Ahmad Sahidin
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 16, No 2 (2019): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v16i2.6406

Abstract

Dinamika kehidupan di era revolusi industri 4.0 menuntut kesiapan dari berbagi komponen untuk mengahdapinya. Salah satu kesiapannya adalah sikap mental atau etos kerja yang harus dimiliki oleh setiap orang atau sekelompok orang dari sebuah entitas. Penguasaan teknologi menjadi ciri utama dari era ini yang akan memengaruhi terhadap pola interaksi manusia. Berbagai aspek kehidupan akan ditentukan oleh alat-alat teknologi yang supercanggih, bahkan keberadaan manusia pun layaknya sebagai mesin saja. Dampaknya terjadi dehumanisasi, hakekat manusia mengalami disrupsi. Kenyataann ini, menimpa salah satu etnis, yaitu etnis sunda. Oleh karena itu, keberadaan Orang Sunda di era ini sangat ditentukan oleh etos kerja yang dilakukannya. Etos kerja ini sangat dipengaruhi oleh motivasi hidup yang diperankan oleh orang Sunda yang bersumberkan pada pandangan hidupnya. Aspek lain, ditentukan oleh keyakinan yang berkembang di tatar Sunda. Dua aspek inilah yang menenetukan etos kerja orang Sunda Meningkatnya kedua aspek tersebut ditetentukan pula oleh pola pendidikan yang dikembangkan oleh orang Sunda. Pola pendidikan yang bersifat menumbuhkan kesadaran menjadi tawaran bagi problem pendidikan dewasa ini. Selain itu, faktor yang mempengaruhi etos kerja orang sunda, ditentukan oleh aspek-aspek lainnya, yang sifatnya bukan kultur, seperti peraturan formal, ekonomi, dan gaya kepemimpinan yang harus dijadikan perhatian dalam meningkatkan etos kerja. Temuan faktor-faktor inilah yang melengkapi faktor faktor yang mempengaruhi terhadap etos kerja, sebagaimana diutarakan oleh Ajip Rosjidi.Kata Kunci: Revolusi industri 4.0, etos kerja, orang Sunda
Review Book The Voice of The Past: Oral History Karya Paul Thompson Budi Sujati; Setia Gumilar
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.631 KB) | DOI: 10.30829/j.v2i2.1623

Abstract

Ingatan manusia terkandung sebuah peristiwa sejarah yang tidak akan dilupakan begitu saja oleh orang yang mengalaminya. Namun tidak semua ingatan yang ada dalam pikiran manusia bisa menjadi sebuah sejarah, karenanya berkaitan dengan ingatan/suara-suara dari masa silam jika tidak ada yang menuliskannya maka suara-suara tersebut akan hilang ditelan masa. Berkaitan dengan tersebut, Thompson menuliskan tentang teori dan praktek sejarah lisan. Dalam tulisannya menjelaskan bagaimana sejarawan menggunakan sumber berkaitan dengan bukti lisan yang bisa diandalkan. Dalam tulisannya ia membagi kedalam 8 sub tema: sejarah dan komunitas, sejarawan dan sejarah lisan, pencapaian sejarah lisan, bukti, proyek lisan, wawancara, interpretasi dalam menciptakan sejarah. Dengan  pembagian kedalam beberapa tema tersebut memudahkan proses transformasi dan transmisi dalam memudahkan sejarawan menjelaskan historiografi. Sehingga cakupan penulisan sejarah pun diperluas dan diperkaya, dan pada saat yang bersamaan, pesan sosialnya berubah. Penelitian ini menggunakan metode review buku dimana bab per bab, sehingga akan memunculkan sebuah ringkasan dalam menggunakan buku tersebut.  
NILAI-NILAI KEISLAMAN DALAM TRADISI SENI GEMBYUNG DI KABUPATEN SUBANG Lilis Liani; Setia Gumilar
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 19, No 1 (2022): AL-TSAQAFA : JURNAL ILMIAH PERADABAN ISLAM
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v19i1.15309

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejarah awal kesenian Gembyung di Kabupaten Subang dari mulai penyajian Gembyung, unsur waditra, dan fungsinya serta perkembangan dan upaya pelestarian kesenian Gembyung di Kabupaten Subang dari tahun 1990 sampai 2021. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian sejarah. Dalam penelitian ini, penulis berupaya untuk menggali sejarah awal kesenian Gembyung di Kabupaten Subang agar dapat dinarasikan ke dalam tulisan sejarah. Tahapan-tahapannya sendiri memiliki empat tahap, yaitu: heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenian Gembyung merupakan kesenian peninggalan para wali yang digunakan untuk media dakwah dan tersebar sampai ke Kabupaten Subang dan mengalami banyak perubahan sampai sekarang. Hal itu bertujuan agar lebih diminati oleh masyarakat dan tidak mengalami kepunahan.
Tridharma Religion in Indonesia: Reading Hikmah Tridharma and Tjahaja Tri-Dharma Magazines during the 1970s-1980s Deni Miharja; Setia Gumilar; Asep Sandi Ruswanda; Moh Zaimil Alivin
Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/rjsalb.v6i2.17395

Abstract

In religious conversations, syncretism is often perceived negatively even though it is actually a healthy process. One form of syncretism that emerged in Indonesia is the religion of Tridharma which consists of Buddhism, Confucianism, and Daoism. This paper discusses syncretism in the religion of Tridharma in Indonesia. Using a historical approach during the 1970s, this paper is a literature study of two magazines affiliated with the religion of Tridharma, namely the Hikmah Tridharma magazine and the Tjahaja Tri-Dharma magazine. This paper rethinks the concept of syncretism as a dirty word, or at least negative form, to one of neutrality. Considering religion as dynamic, syncretism in the religion of Tridharma or Sam Kauw has been a historical process since the Ming dynasty in Mainland China. The Hikmah Tridharma magazine and the Tjahaja Tri-Dharma magazine during the 1970s illustrate how syncretism in the body of Tridharma religion occurs not only between Buddism, Confucianism, and Daoism but also with Hinduism and group of theosophy. As one element of the dynamics of religious belief, the politics of recognition is important. In Indonesia, the state gave a different attitude to Chinese religions or all things Chinese-affiliated in general during the New Order era, and the era of transition to reform, Gus Dur. This then triggered contestation between Chinese religions themselves in Indonesia, especially between the religion of Tridharma and Confucianism.
Hasan al-Banna and Ikhwanul Muslimin’s Da’wah Movement in Egypt Setia Gumilar; Firman Maulana Noor
Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies Vol 16, No 2 (2022): Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies
Publisher : Faculty of Da'wah and Communication, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/idajhs.v16i2.20982

Abstract

This study aims to explain the ability of the Ikhwanul Muslimin in mobilizing and framing their da’wah movement. The research was conducted by analyzing the concept of Hasan al-Banna’s da’wah movement and its impact on the existence of the Ikhwanul Muslimin’s da’wah movement. This study uses a qualitative method with a Social Movement Theory approach. This research seeks to explain the ability of the IM in mobilizing and framing its da’wah movement to maintain its existence against various resistances. The results of this study indicate that three important factors have caused the IM to maintain its existence until now, namely Internal Organizational Solidity, External Community Support, and the Moderation of the Ikhwanul Muslimin. With these three factors, the IM has become a modern Islamic organization that can withstand various pressures both from within the country and from outsiders.