Nyeri merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan pada kulit maupun organ dalam. Mekanisme nyeri melibatkan proses nosisepsi, sensitisasi perifer, perubahan fenotipe neuron, penurunan inhibisi, serta reorganisasi jalur nyeri. Tanaman obat seperti Curcuma longa dan Aloe vera diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi dan analgetik. Kurkumin pada kunyit berperan dalam menghambat mediator inflamasi dan memodulasi jalur transduksi nyeri, sedangkan lidah buaya mengandung polisakarida, flavonoid, dan salisilat yang berpotensi menekan respons inflamasi. Kombinasi keduanya diduga memberikan efek sinergis dalam menurunkan nyeri. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efek analgetik kombinasi ekstrak rimpang kunyit dan daging lidah buaya pada mencit jantan (Mus musculus) yang diinduksi dengan formalin 1%. Ekstrak rimpang kunyit (ERK) diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 70%, sedangkan lidah buaya (LB) digunakan dalam bentuk segar. Sebanyak 12 ekor mencit dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kontrol negatif (Na-CMC), kelompok perlakuan kombinasi ekstrak rimpang kunyit dan lidah buaya (ERK+LB), serta kontrol positif (krim metil salisilat 30%). Parameter yang diamati meliputi frekuensi hentakan dan jilatan kaki selama 60 menit pascainduksi. Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji post hoc. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi ERK+LB secara signifikan menurunkan frekuensi hentakan kaki (proteksi 88,79%) dan jilatan kaki (proteksi 72,24%) dibandingkan dengan kontrol negatif (p < 0,0001). Efek analgetik kombinasi sebanding dengan kontrol positif. Kesimpulan, bahwa kombinasi ERK+LB memiliki efek analgetik yang signifikan dan berpotensi dikembangkan sebagai alternatif terapi nyeri berbasis bahan alam.