Iqbal Ahmady
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, USK

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KETERWAKILAN POLITIK PEREMPUAN DALAM LEMBAGA LEGISLATIF (STUDI KASUS : FAKTOR PEMENANGAN CALEG PEREMPUAN TERPILIH DPRK ABDYA 2019 ) Wandi Syahputa; Muliawati Darkasyi; Iqbal Ahmady
Journal of Political Sphere Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Journal of Political Sphere

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jps.v2i1.22525

Abstract

ABSTRAKKeterwakilan perempuan di ranah politik dapat dimaknai sebagai bentuk partisipasi berpendapat sehingga kebijakan yang dihasilkan akan memuat kepentingan semua pihak, baik ditingkat lokal, nasional, maupun internasional. Dalam proses demokrasi persoalan partisipaasi perempuan yang lebih besar, representasi, dan akuntanbilitas menjadi prasyarat mutlak bagi terwujudnya demokrasi yang lebih bermakna. Pada pemilihan legislatif Aceh Barat Daya Tahun 2019 berhasil meloloskan satu orang calon legislatif prempuan dikursi legislatif Aceh Barat Daya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran partai politik dalam menjamin keterwakilan perempuan di kursi legislatif dan faktor pemenangan calon legislatif perempuan terpilih di pileg Abdya 2019. Adapun dalam penelitian ini menggunakan tiga teori pendekatan dalam melihat faktor pemeanangan, yaitu teori oligarki, teori institusional dan konsep kebijakan affirmative action sebagai alat analisis menjawab permasalahan penelitian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif sebagai pendekatan penelitian. Hasil dari penelitian ini, bahwa peran partai dalam menjamin keterwakilan perempuan pada lembaga legislatif berhasil dilakukan oleh Partai Aceh. Dengan mengupayakan partai sebagai pendorong keterwakilan perempuan di legislatif dan juga peran yang dilakukan partai untuk mengusung perempuan di wilayah dapil strategis, kemudian ditemukan beberapa faktor yang mempengaruhi pemenangan dari calon perempuan yaitu pengaruh figur dibelakang calon legislatif perempuan, kesolidan tim sukses dan faktor finansial. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa tindak afirmasi untuk menjamin keterwakilan perempuan di legislatif hanya berhasil diterapkan oleh Partai Aceh, dimana mereka cenderung lebih unggul dalam mendorong kesiapan kader perempuannya. Adapun faktor pemenangan caleg perempuan terpilih didasari oleh pengaruh figur dibelakang dari perempuan yaitu orang tuanya yang seorang pengusaha dan mempunyai jaringan politik yang cukup baik. Oleh karena itu diharapkan perlu adanya pembenahan dan keseriusan dari semua partai politik untuk menjadikan politik affirmasi perempuan sesuai dengan tujuan awalnya, yaitu agar golongan tertentu (gender ataupun profesi) memperoleh peluang yang setara dengan golongan lain dalam bidang yang sama.Kata Kunci: Perempuan, Pemilu Legislatif, Pemenangan
Degradasi Budaya Akibat Asimilasi Pada Masyarakat Melayu Tamiang: Analisis Praktik Sosial Pierre Bourdieu Sigit Suryanda; Faradilla Fadlia; Iqbal Ahmady
Journal of Political Sphere Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Journal of Political Sphere

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jps.v2i1.22523

Abstract

ABSTRAKAsimilasi identik dengan pembauran suatu kebudayaan. Asimilasi dapat menyebabkan berkembang dan majunya sumber daya manusia, hal ini dikarenakan masyarakat lokal yang lebih menerima masyarakat pendatang dan lebih terbuka dengan setiap hal baru, selain itu asimilasi menciptakan toleransi yang besar di suatu daerah. Seharusnya asimilasi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di suatu daerah, namun berbeda dengan yang terjadi di Aceh Tamiang. Asimilasi yang terjadi mengakibatkan pudarnya budaya lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis degradasi budaya akibat asimilasi yang terjadi pada suku pribumi Tamiang pasca masuknya masyarakat pendatang di Aceh Tamiang. Dalam Penelitian ini penulis menggunakan teori Praktik Sosial Pierre Bourdieu sebagai alat analisis terhadap fenomena degradasi budaya pada masyarakat pribumi Aceh Tamiang. Penelitian ini menggunakan metode campuran. Penelitian ini dilakukan di Aceh Tamiang, Aceh, Indonesia. Penelitian ini menunjukkan bahwa pasca masuknya masyarakat pendatang menyebabkan degradasi budaya yang berdampak tidak hanya hilangnya budaya asli, namun juga mengancam eksistensi masyarakat Tamiang. Karena masyarakat Tamiang tidak memiliki keahlian dalam berdagang mengakibatkan mereka tersisihkan dari wilayah kota (daerah tengah). Masyarakat suku asli Tamiang pada dasarnya menggantungkan hidupnya dengan bertani dan berkebun, karena sebab itu masyarakat suku asli Tamiang hanya mendominasi di wilayah hulu dan hilir, namun menjadi minor pada wilayah kota dimana adalah pusat perdagangan dan ekonomi.Kata Kunci: Degradasi Budaya, Suku Tamiang, Praktik Sosial, Aceh Tamiang