Muhammad Alfarizi
Departemen Manajemen Bisnis, Fakultas Desain Kreatif Dan Bisnis Digital, Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Technological Support, Hybrid Work, and National Employment Policies: Catalysts for Worker Productivity and SDG 8 Achievement in Indonesia’s Gig Economy Muhammad Alfarizi; Lissa Rosdiana Noer; Bustanul Arifin Noer
Jurnal Ketenagakerjaan Vol 20 No 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Kebijakan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47198/jnaker.v20i1.440

Abstract

The rapid advancement of digital technologies has reshaped Indonesia’s labor market, with the gig economy emerging as a significant component. This study aims to analyze how technological support, hybrid work models, and national employment policies influence gig workers’ productivity and engagement, and how these factors contribute to achieving Sustainable Development Goal (SDG) 8 in Indonesia. Using a cross-sectional quantitative approach, structured questionnaires were distributed to 218 gig workers across various sectors. The data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) to identify the strength and direction of relationships among key variables: technological support, hybrid working, national employment policy, productivity, engagement, and SDG 8 outcomes. The results show that technological support significantly improves both productivity and engagement, particularly through the availability of digital platforms and real-time work coordination tools. Hybrid work models emerged as the strongest factor influencing worker outcomes, combining flexibility with structured task management. While national employment policies had a positive impact, their effectiveness remains limited due to gaps in legal protection and social inclusion for gig workers. Importantly, the analysis reveals that engagement has a greater impact than productivity in contributing to SDG 8, emphasizing the need to foster a sense of involvement and motivation among gig workers. These findings underline the practical importance of enhancing platform responsibility, promoting digital inclusion, and redesigning employment policies to ensure fair and sustainable working conditions. This study provides actionable insights for policymakers and platform providers to better support the evolving nature of gig work in Indonesia.
Praktik Transformatif E-Government Tingkat Lokal Era Society 5.0 untuk Tata Kelola Daerah Berkelanjutan: Teropong Ekosistem Intelektual Sistematis Muhammad Alfarizi
Nusantara Innovation Journal Vol. 3 No. 1 (2024): December
Publisher : Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70260/nij.v3i1.54

Abstract

Pada era Society 5.0, teknologi digital berkembang pesat dan memengaruhi berbagai sektor, termasuk pemerintahan. Society 5.0 mengintegrasikan dunia fisik dan virtual untuk meningkatkan kualitas hidup melalui teknologi seperti AI, IoT, dan big data, yang membawa peluang baru bagi optimalisasi pelayanan publik. E-government, sebagai upaya pemerintah memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan keterlibatan warga, menjadi fokus penting dalam transformasi ini. Dalam sistem pemerintahan Indonesia, pemerintah daerah tingkat provinsi dan kabupaten/kota menghadapi tantangan dalam mengadopsi teknologi untuk meningkatkan layanan publik yang inklusif dan akuntabel. Studi ini mengeksplorasi penerapan teknologi canggih di tingkat pemerintah lokal untuk mendukung tata kelola berkelanjutan. Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan literatur sistematis tiga fase: perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan. Dimulai dengan merumuskan pertanyaan penelitian, studi ini menyusun kata kunci terkait faktor e-government dalam Society 5.0. Data dikumpulkan dari basis data Scopus, difilter berdasarkan kriteria tahun dan topik, lalu dianalisis menggunakan VOSViewer untuk pemetaan kata kunci. Studi ini mengidentifikasi variabel yang mempengaruhi adopsi e-government, mengkategorikannya dalam konteks teknologi, organisasi, lingkungan, dan individu, serta menghasilkan analisis mendalam sebagai dasar rekomendasi untuk tata kelola daerah berkelanjutan. Kajian menunjukkan bahwa integrasi teknologi maju berpotensi mengoptimalkan manajemen kota pintar, mengurangi birokrasi, serta meningkatkan respons terhadap kebutuhan masyarakat. Contohnya, AI mendukung analisis prediktif untuk mengidentifikasi pola sosial, sementara IoT memungkinkan pengumpulan data real-time guna pengelolaan sumber daya. Cloud Computing menyediakan infrastruktur fleksibel yang mendukung skalabilitas, sedangkan Big Data memungkinkan analisis data besar untuk perencanaan berbasis bukti. Blockchain, dengan transparansi dan keamanan tinggi, cocok untuk pencatatan digital seperti sistem pemilu. Namun, implementasi teknologi ini membutuhkan kebijakan privasi, keamanan data yang kuat, dan strategi digital yang inklusif. Transformasi digital diharapkan menciptakan pemerintahan lokal yang responsif, efisien, dan berfokus pada layanan publik yang inklusif.