Neneng Cucu Marlina
Universitas Bengkulu, Bengkulu, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Media Sosial Sebagai Platform Jurnalistik: Peran X dalam Pembentukan Perilaku Budaya K-Pop pada Anggota Stayville Bengkulu Evi Aprianti; Rasianna BR Saragih; Neneng Cucu Marlina
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 6 No. 1 (2024): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Desember 2024 - Januari 2025)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v6i1.3383

Abstract

Perkembangan teknologi yang semakin pesat mempermudah penyebaran informasi, termasuk informasi budaya K-pop khususnya melalui media sosial. Media sosial memungkinkan penggemar untuk berinteraksi langsung dengan konten K-pop, mulai dari mengikuti akun resmi idol, menyukai dan membagikan konten, hingga terlibat dalam interaksi penggemar. Platform ini memungkinkan pembentukan perilaku dan gaya hidup yang selaras dengan budaya K-pop secara global. Platform media sosial dalam memainkan peran besar untuk penyebaran budaya K-pop di dunia khususnya X. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan peran media sosial khususnya X dalam membentuk perilaku budaya K-pop pada anggota komunitas Stayville Bengkulu. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan analisis resepsi. Menerapkan teknik purposive sampling untuk menentukan informan. Teknik pengumpulan data menggunakan Teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan melalui tiga tahap; yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa media sosial berperan penting dalam memperkenalkan K-pop. Melalui platform X yang menjadi salah satu sumber informasi utama dan sarana penggemar untuk terhubung dan berbagi konten. Informasi K-pop melalui X membentuk gaya hidup, perilaku sehari-hari, dan keputusan pembelian merchandise, serta mendorong eksplorasi budaya Korea. Selain itu, juga membantu penggemar berinteraksi dengan sesama anggota komunitas seperti Stayville, yang menawarkan solidaritas dan dukungan serta menegaskan peran signifikan informasi K-pop X dalam membentuk identitas, perilaku, dan hubungan sosial penggemar.
Kajian Tentang Komitmen Konten Lokal oleh Media Sistem Siaran Jaringan di Bengkulu Besten Saputra; Gushevinalti; Neneng Cucu Marlina
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 6 No. 1 (2024): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Desember 2024 - Januari 2025)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v6i1.3419

Abstract

Rendahnya tayangan konten lokal pada media televisi Sistem Siaran Jaringan hampir menyeluruh di Indonesia, salah satunya pada provinsi Bengkulu, hal ini menggambarkan keberpihakan perusahaan media yang lebih memprioritaskan tayangan nasional dan kuranya dukungan dari pemerintah diĀ  setiap daerah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana komitmen dari media televisi Sistem Siaran Jaringan dalam menayangkan konten lokal Bengkulu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, informan penelitian dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria yang telah ditentukan berdasarkan fungsi dan tugas. Teknik pengumpulan data melalui wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi, unit analisis hasil penelitian menggunakan teori Ekonomi Politik Media Vincent Mosco, teknik analisis data menggunakan analisis Interaktif model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat beberapa media televisi Sistem Siaran Jaringan yang sudah berkomitmen dan beberapa media yang belum berkomitmen menayangkan konten lokal Bengkulu, terdapat juga beberapa kendala atau hambatan yang terjadi pada televisi Sistem Siaran Jaringan baik itu dalam proses produksi maupun saat penayangan konten lokal seperti, terbatasnya Sumber Daya Manusia, biaya yang sangat besar, peralatan yang kurang, keterikatan dengan produksi pusat, serta tidak adanya sanksi tegas dari Komisi Penyiaran Indonesia Pusat maupun dari Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Bengkulu.