Ernawati, Naya
Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Malang, Malang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Faktor Lingkungan Sebagai Determinan Dominan Burnout Syndrome pada Perawat Puskesmas Raihan, Moh Fadhil; Ernawati, Naya; Yuswanto, Tri Johan Agus; Nataliswati, Tri
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16404

Abstract

Burnout syndrome often occurs in nurses due to prolonged stress, which impacts mental and physical well-being and the quality of healthcare services. The purpose of this study was to determine the dominant factors most influential in the incidence of burnout syndrome among nurses in community health centers. This study used a cross-sectional design, with 58 nurses as respondents. Data were collected through personal questionnaires adapted from Bortner, modified psychological questionnaires from Maslach & Leiter, environmental questionnaires from Nursalamet, spiritual questionnaires (SWBS) from Ellison and Paloutzia, and Burnout questionnaires (MBI-HSS-MP) from Maslach. The collected data were analyzed using the Spearman rank test and multiple linear regression. The results showed that psychological and spiritual factors had p-values greater than 0.05, while environmental factors (inadequate rewards) had a p-value of 0.000. Therefore, it can be concluded that the most dominant factor associated with the incidence of burnout syndrome among nurses in community health centers is environmental factors.Keywords: nurses; burnout syndrome; environment ABSTRAK Burnout syndrome sering terjadi pada perawat akibat stres berkepanjangan, yang dampat berdampak pada kesejahteraan mental dan fisik serta kualitas pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan yang paling berpengaruh dengan kejadian burnout syndrome pada perawat di puskesmas. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional, dengan jumlah responden 58 perawat. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner personal yang diadaptasi dari Bortner, modifikasi kuesioner psikologis dari Maslach & Leiter, kuesioner lingkungan dari Nursalamet, kuesioner spiritual (SWBS) dari Ellison dan Paloutzia, dan kuesioner Burnout (MBI-HSS-MP) dari Maslach. Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan uji Spearman rank dan uji regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor psikologis dan faktor spiritual memiliki nilai p lebih besar darpada 0,05, sedangkan faktor lingkungan (penghargaan yang tidak memadai) memiliki nilai p 0,000. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian burnout syndrome pada perawat di puskesmas adalah faktor lingkungan.Kata kunci: perawat; burnout syndrome; lingkungan
Potensi Berat Badan Lahir Rendah Sebagai Faktor Risiko Gangguan Pertumbuhan Bayi Berusia 0-12 Bulan Syahida, Alimatul Izza; Astuti, Erlina Suci; Ernawati, Naya; Solikhah, Fitriana Kurniasari
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 2 (2025): April-Juni 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16228

Abstract

Low birth weight remains a health problem in Indonesia because it impacts subsequent growth. The purpose of this study was to analyze the correlation between a history of low birth weight and the growth of infants aged 0-12 months. The study used a cross-sectional design. A total of 48 infants were included in the study, selected using a total sampling technique. Data on birth weight were collected through documentation studies in community health center medical records, while infant growth was determined through weight and length measurements, then referenced to growth standards for weight-for-age, length-for-age, and length-for-weight. The data were then analyzed using the Spearman correlation test. The results showed a p-value of 0.1094, indicating no correlation between a history of low birth weight and the growth of infants aged 0-12 months. Furthermore, it was concluded that there was a tendency for low birth weight to increase the risk of malnutrition, but this was not significant enough. Therefore, a history of low birth weight can still be considered a potential risk factor for malnutrition in infancy, which requires further in-depth research.Keywords: infant; low birth weight; infant growth ABSTRAK Setiap bayi dengan yang berat badan lahir rendah masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, karena berdampak pada pertumbuhan selanjutnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis korelasi antara riwayat berat badan lahir rendah dengan pertumbuhan bayi berusia 0-12 bulan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi adalah rancangan cross-sectional. Sejumlah 48 bayi dilibatkan dalam penelitian, yang dipilih dengan teknik total sampling. Data tentang berat badan lahir dikumpulkan melalui studi dokumentasi pada rekam medis puskesmas, sedangkan pertumbuhan bayi diketahui melalui pengukuran berat badan dan panjang badan, lalu dirujuk pada ketentuan pertumbuhan berat badan menurut umur, panjang badan menurut umur dan panjang badan menurut berat badan. Selanjutnya dilakukan analisis data dengan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p adalah 0,1094, sehingga dapat ditafsirkan bahwa tidak ada korelasi antara riwayat berat badan lahir rendah dengan pertumbuhan bayi berusia 0-12 bulan. Selanjutnya disimpulkan bahwa ada kecenderungan bahwa BBLSR lebih besar untuk potensi terjadinya kekurangan gizi namun belum cukup signifikan, sehingga bisa dikatakan bahwa riwayat BBLR masih bisa dianggap sebagai potensi risiko terjadinya masalah kekurangan gizi pada masa bayi, yang memerlukan penelitian lebih mendalam.Kata kunci: bayi; berat badan lahir rendah; pertumbuhan bayi