Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KRITIK TEORI BELAJAR MENURUT PANDANGAN ISLAM Sadiran Sadiran
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 2 No 1 (2011): APRIL
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v2i1.46

Abstract

Islamic Education requires that a teacher in addition to having a deep and broad knowledge of science to be taught, but also must be able to convey that knowledge effectively and efficiently and have a noble character. About the need for a noble character of a teacher has long been a concern and a review of the scholars of Islam in the century classic. For example, Ibn Muqaffa say that good teachers are teachers who want to try to start by educating themselves, improve their behavior, straightening his thoughts, and keep the words he said before delivering it to others. While the Imam Al-Ghazali said that: a teacher who deliver science should be clean, do and act as guidance as, being affectionate towards his pupils and students should treat them like his own son, the teacher must always control, advise, give a message - a message of moral about science and the future of their students and do not let them proceed to a higher learning before they have mastered the previous lesson and have a noble character. Balance the development of science (reason) and morality (the heart of behavior) is something that should always be controlled by the teacher. That is the teacher who in addition to foster reasonable intelligence can grow his thoughts also a noble character. So the theory of education according to Islamic education is to be as guidance as, being affectionate towards his pupils and students should treat them like his own son, the teacher must always control, advise, give a message - a moral message about science and the future of their students and do not let them continue learning to a higher before they have mastered the previous lesson and have a noble character. Islamic education in various aspects based on the values of noble and godlike universal, then the strategic step for us Muslims should realize the theory of learning by implementing Islamic education in accordance with the nature and character. In contrast to the theory of learning that emerged from the thinkers of the western experts educators.Key Words: Theory of learning, Islamic perspective, Islamic learning.
PENDIDIKAN MORAL PADA MASYARAKAT SAMIN BLORA Sadiran Sadiran
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 6 No 1 (2013): APRIL
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v6i1.64

Abstract

PENDIDIKAN MORAL PADA  MASYARAKAT SAMIN BLORA SadiranJurusan Tarbiyah, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) NgawiAbstrakSetiap etnis memiliki nilai-nilai tersendiri yang dijadikan pegangan dalam menjalani hidup. Tidak terkecuali pada masyarakat Samin. Mereka  sangat menjujung tinggi nilai-nilai moral dan itu tercermin dalam berbagai segi kehidupan. Etnis Samin tidak hanya menekankan aspek moralitas pada hubungan sosial masyarakat semata namun juga pada hubungan antara manusia dan lingkungannya. Moralitas dalam pergaulan antar sesama dan dengan lingkungan sekitar tersebut mereka wariskan turun temurun lewat tradisi dan kearifan lokal. Kata-kata kunci:  Pendidikan moral, tradisi, masyarakat Samin.
SAMIN TANDURAN (Upaya Mempertahankan Tradisi Nenek Moyang Sedulur Sikep di Tanduran) Sadiran Sadiran
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 9 No 2 (2015): September
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v9i2.76

Abstract

Sedulur Sikep di Tanduran tidak mengenyam pendidikan formal dan tidak suka menyekolahkan anak-anaknya, uniknya mereka selalu mengatakan bahwa anak-anaknya sudah belajar sejak kecil. Salah satu pengertian belajar yang di pahami adalah bekerja, bagi mereka hidup semata-mata hanya untuk bekerja, prinsip tersebut yang melatar-belakangi orang tua Sedulur Sikep selalu mendidik anak-anaknya bekerja untuk membantu orang tuanya sendiri kelak ketika sudah berkeluarga bisa hidup mapan, “kabeh kanggo sopo bakale kowe sing nduwe” (semua harta nantinya juga akan diberikan kepada anak-anaknya), Pola pengasuhan berupa motivasi itu cukup efektif dan cukup berhasil sehingga mampu mempengaruhi anak-anaknya. Bekerja  sudah  mempunyai makna belajar atau sekolah. Sementara anak juga mempunyai harapan besar kelak akan mendapatkan harta dari hasil kerja kerasnya tersebut ketika sudah berkeluarga. Kerja keras selalu diajarkan oleh semua agama dan melarangnya pada umatnya untuk meminta-minta. Demikian pula apa yang di lakukan oleh Sedulur Sikep di Kedungtuban Blora bahwa hidup itu harus Trokal Seseorang akan mendapatkan hidup yang layak jika mau bekerja dengan bersungguh-sungguh. Implementasi ajaran agama Adam adalah sebuah penghayatan keyakinan yang mengajarkan bahwa jika seseorang tidak bekerja keras berarti mengabaikan perintah Tuhan. Usaha seseorang agar bisa hidup bahagia salah satunya adalah tentu tercukupinya kebutuhan pokok yaitu sandang, pangan dan papan. Untuk mendapatkan makanan salah satunya harus bekerja.Perlu disadari bersama bahwa masalah terbesar dalam pendidikan kita adalah karena tidak adanya kebijakan yang berkelanjutan dan berkesinambungan, hal ini menunjukan bahwa sektor pendidikan belum menjadi lokomotif pembangunan nasional. Warga Sedulur Sikep Tanduran dikenal sebagai masyarakat adat, karena mereka mempunyai sistem nilai, ideologi, ekonomi, politik, sosial dan budaya yang selalu mengutamakan keluhuran budi pekerti dan memiliki prinsip urip mung kari nglakoni.. Mengasuh anak adalah kewajiban orangtua yang tidak boleh diwakilkan kepada guru disekolah dan menjadi orangtua yang sekaligus sebagai guru bagi anak-anaknya adalah fitrah manusia sehingga tidak perlu belajar dari orang lain. Sifat permisif dan terbuka dikedepankan oleh orangtua kepada anak-anaknya sehingga pada waktunya orangtua tinggal mengingatkan bagaimana pesan-pesan leluhurnya baik cara hidup, cara berfikir dan cara bergaul dalam kehidupan sehari-hari. Namun orangtua tetap memberi contoh dalam kehidupan anak. Sistem pengasuhanya integrasi antara lahir dan batin, metodenya komunikasi dekat-berjarak kekeluargaan mligi (konsisten) diberikan sedikit demi sedikit sejak kecil, ketika anaknya melakukan kesalahan mereka menyadarinya sendiri. Bagi semua fihak belum perlu ikut campur tangan karena ruang untuk beinteraksi sulit dilakukan  sehingga perubahan sosial tidak mampu mempengaruhinya.  Â