Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

NASIONALISME DALAM PERSPEKTIF BAHASA SEBAGAI PERWUJUDAN JATI DIRI BANGSA Arif Ma'mun Rifa'i
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 9 No 2 (2015): September
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v9i2.84

Abstract

Sebagai makhluk sosial bahasa tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia karena manusia selalu berkomunikasi dan berinteraksi untuk memenuhi kebutuhanya baik kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder. Bahasa merupakan seperangkat alat yang berfungsi sesuai dengan tujuan digunakanya bahasa tersebut. Interaksi akan terjalin dengan baik jika kesepakatan budaya dalam berbahasa disepakati bersama. Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional yang patut kita banggakan, karena ditetapkanya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional bukan diangkat dari bahasa daerah atau bahkan bukan dari keberhasilanya bahasa asing dalam menjajah akan tetapi memang dimunculkan sebagai bahasa tersendiri dengan tujuan sebagai pemersatu bahasa-bahasa daerah di seluruh nusantara dan ini tidaklah semua negara dapat mengambil keputusan seperti negara Indonesia seperti yang telah dilakukan oleh bapak pendiri bangsa ini. Pembahasan dalam paper kali ini adalah opinion based paper, penulis mengulas jiwa seorang nasionalisme dalam perspektif penggunaan, perhatian dan sikap terhadap bahasa yang berposisi sebagai perwujudan jati diri bangsa serta hal-hal yang dipandang penting untuk dilakukan bagi setiap warga negara sebagai implementasi dari nasionalisme. Dari pemaparan dapat disimpulkan bahwa bahasa bukanlah hanya sekedar aset semata, tetapi sebagai pondasi suatu bangsa bahasa sebagai salah satu pengikat yang dapat membangun kebersamaan dan nasionalisme suatu kelompok komunitas, selain elemen ras, dan agama. Bapak pendiri bangsa Indonesia tidak membangun bangsanya di atas elemen ras, penggunaan bahasa daerah memiliki dampak positif maupun negatif terhadap bahasa Indonesia yang merupakan simbol dari nasionalisme itu sendiri. Secara formal sampai saat ini bahasa Indonesia mempunyai empat kedudukan, yaitu sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional, bahasa negara, dan bahasa resmi. Dalam perkembangannya lebih lanjut, bahasa Indonesia berhasil mendudukkan diri sebagai bahasa budaya dan bahasa ilmu. Keseluruhan kedudukan ini mempunyai fungsi yang berbeda. Dibangunnya sikap nasionalisme menjadi sangat penting dengan cara mempertahankan bahasa. Seseorang dapat dilihat jiwa nasionalismenya melalui bagaimana seseorang menggunakan dan peduli terhadap eksistensi bahasa Indonesia.
LEARNING ENGLISH AS ADDITIONAL LESSON TROUGH LOCAL CULTURE Arif Ma'mun Rifa'i
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 10 No 1 (2016): MARET
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v10i1.111

Abstract

This paper aims to describe how local culture used in learning English as additional foreign language lesson, at least learners’ culture can be dominantly occupied in foreign language learning better than foreign language culture. However, culture is too intimately bound up with language thus cannot be separated each other. Learning foreign language by influencing local cultural after all is not easy it also will be demanding to teacher’s ability in both cultures.Several issues which occur in language teaching, especially foreign languages include anything related to the culture, the problem is a foreign culture sometimes less is acceptable in learners’ culture, some expressions sometimes cannot be completely absorbed because students have a different background that form their understanding and culture all of them is influenced by social, cultural, and religious. The gap between cultures is inevitable namely origin language culture with the culture of language learners. Recognition of the cultural differences are certainly not necessarily to dichotomize those differences but rather on integrating both, in terms of integrating the culture cannot be denied that this is a difficult but the important thing to be concerned during the application of the language can be directed to the local culture then this will be very helpful using examples of student culture in which they live than helping them, it would also help preservation of local cultures to be exist.
PRINSIP-PRINSIP PENGAJARAN BAHASA PADA GAYA KOGNITIF FIELD DEPENDENT DALAM BELAJAR KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INGGRIS Arif Ma'mun Rifa'i
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 15 No 1 (2021): MARET
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v15i1.506

Abstract

Abstrak Pentingnya bahasa bagi manusia merupakan hal yang tidak dapat dielakkan, karena bahasa merupakan alat komunikasi manusia, salah satu bahasa di era sekarang ini menjadi tuntutan kuat adalah bahasa Inggris, bahasa Inggris di era sekarang ini bukan lagi pilihan melainkan sudah menjadi tuntutan, bahasa Inggris dengan statusnya sebagai bahasa asing menuntut tidak hanya guru bahasa Inggris namun peserta didik juga membutuhkan treatmen yang berbeda dengan bahasa inggris sebagai bahasa kedua. Kesiapan dalam belajar juga ada pada gaya belajar atau sikap dimana sikap adalah keadaan mental dan saraf dari kesiapan, yang diselenggarakan melalui pengalaman, mengerahkan direktif atau pengaruh dinamis terhadap respon individu untuk semua materi  dan situasi belajar dengan keterkaitanya. dalam meningkatkan prestasi keterampilan berbicara bahasa Inggris ada hal-hal yang patut untuk dicermati diantaranya faktor yang mendorong terhadap keberhasilan belajar berbicara bahasa, di antara sikap yang dapat berpengaruh dalam kegiatan belajar mengajar adalah gaya kognitif field dependent. Gaya field dependen agak kurang mandiri sehingga terdapat prinsip prinsip untuk merespon gaya ini diantara prinsip yang dapat ditawarkan  Creating realistic situation, Engaging all students, Supporting the qualities of spoken language,  Creating an unfearful class.  Kata kunci: prinsip prinsip pengajaran bahasa, gaya kognitif field dependent, keterampilan berbicara bahasa inggris