Lestari, Siti Putri
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Diam dan Misuh: Ekspresi Kemarahan dalam Sosial Ostracism Masyarkat Jawa: Silence and Swearing: Expressions of Anger in Social Ostracism within Javanese Society Lestari, Siti Putri
Moderasi: Jurnal Studi Ilmu Pengetahuan Sosial Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (TIPS) UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/moderasi.Vol5.Iss2.338

Abstract

Masyarakat Jawa dilekatkan dengan konotasi diam sebagai ekspresi marah, Konotasi tersebut berkaitan erat dengan Prinsip keluhuran pada kebudayaan Jawa. Hal tersebut dikarenakan masyarakat Jawa dituntut untuk selalu menjaga keharmonisan sosial dengan menyembunyikan ekspresi marah. Namun ungkapan diatas terbantahkan dengan adanya misuh dikalangan masyarakat Jawa. Misuh dianggap sebagai suatu ungkapan ekspresi kemarahan bagi orang Jawa, tetapi juga dianggap sebagai bentuk rasa senang, kagum, bentuk lawakan, dan bentuk keakraban. Berawal dari dua fenomena tersebut, tulisan ini ingin menguraikan mengenai Bagaimana masyarakat Jawa yang identik dengan praktik misuh memaknai tindakan diam ketika menghadapi suatu konflik? Bagaimana bentuk ekspresi masyarakat Jawa yang ekspresif dengan misuh dalam menghadapi konflik?. penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi dengan menggunakan kerangka berpikir milik Geertz yakni interpretative simbolik. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dokumentasi dan kajian Pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, masyarakat Jawa yang ekspresif dengan misuh memaknai diam sebagai bentuk rebel terhadap keharmonisan. Serta mereka menggunakan satru sebagai cara untuk menghadapi konflik. Mereka akan cenderung mendiamkan bahkan mengucilkan seseorang ketika mereka memiliki konflik dengan orang tersebut.
Desakralisasi Makna Keris: Studi Etnografi Pada Ahli Waris Keris Lestari, Siti Putri
Umbara Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/umbara.v9i1.53271

Abstract

Kris has been known as a sacred object; and often passed down by the owner to their descendants as inheritance. Through this process the assumption about Kris as the sacred object is maintained. However, nowadays, people no longer consider Kris as a valuable and sacred object as before, and some of them refuse to inherit a Kris from their parents. This research describes the meaning of Kris for people who inherit it from their parents and ancestors; what is their attitude toward Kris and how their attitude may represent the desacralization of Kris. This research was conducted in an ethnographic approach. Data collected through observation, in-depth interviews and literature review. Clifford Geertz’s symbolic interpretation theory was used as the framework of analysis. Findings of this research suggest that the heirs of Kris often interpret it as an ordinary object; and they no longer view the essence and nobility of Kris. This view leads them to develop skepticism towards the mystical phenomenon of Kris. Sometimes, they even refuse to inherit Kris due to social, cultural and religious considerations. In some cases, they consider Kris as a burden to them. These phenomena demonstrated how Kris loses its sacred dimension nowadays.