Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Efisiensi Penyisihan Kandungan Warna Dan Cod Pada Air Limbah Industri Tekstil Dengan Penggunaan Dicyandiamide-Formaldehyde Polymer Firmansyah, Indra Arif
Scientica: Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi Vol. 1 No. 1 (2023): Scientica: Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi
Publisher : Komunitas Menulis dan Meneliti (Kolibi)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/scientica.v1i1.55

Abstract

Efisiensi penyisihan kandungan warna dan COD pada pada air limbah industri tekstil dilakukan dengan penambahan bahan kimia dicyandiamide-formaldehyde polymer pada proses koagulasi. Objek penelitian dilakukan pada unit koagulasi dan flokulasi di IPAL PT XYZ. Kombinasi bahan kimia yang digunakan existing hanya menggunakan poly alumunium chloride dan anionic polymer. Pada percobaan ini dilakukan penambahan bahan kimia dicyandiamide-formaldehyde polymer sebagai senyawa koagulan yang berfungsi untuk menurunkan intensitas warna dan COD yang sebelumnya masih belum memenuhi baku mutu lingkungan. Percobaan dilakukan dengan metode jar test. Percobaan dilakukan untuk mencari dosis optimum setiap bahan kimia yang digunakan diantara lain: dicyandiamide-formaldehyde polymer, poly alumunium chloride, dan anionic polymer; melihat efisiensi penyisihan kandungan warna dan COD agar memenuhi baku mutu lingkungan sesuai Permen LH No. 5 Tahun 2014 Lampiran XLVII Kategori 1 dan standar internal perusahaan. Metode penelitian yang dilakukan adalah eksperimental dengan variable bebas percobaan yaitu: dosis dicyandiamide-formaldehyde polymer (100, 150, 200, 250, dan 300) ppm; dosis poly alumunium chloride (50, 75, 100, 125, dan 150) ppm; serta dosis anionic polymer (1, 1,5, 2, dan 2,5) ppm. Kualitas air limbah dari proses hasil jartest kemudian dilakukan analisa pH, warna, dan COD. Dari hasil percobaan diperoleh dosis optimum pada setiap bahan kimia yang digunakan, yaitu: dosis poly alumunium chloride 100 ppm, dosis dicyandiamide-formaldehyde polymer 200 ppm, dan dosis anionic polymer 2 ppm. Hasil uji laboratorium menunjukan bahwa nilai pH sebesar 7,43, lalu nilai COD mengalami penurunan sebesar 99% dari 716 mg/L menjadi 10 mg/L dan warna sebesar 100% yakni dari 6000 PCU menjadi 10 PCU. Penurunan COD dan warna pada air limbah tekstil telah memenuhi baku mutu lingkungan yaitu Permen LH No. 5 Tahun 2014 Lampiran XLVII Kategori 1 yang mana maksimal kandungan COD 100 mg/L serta kandungan warna belum diatur dalam baku mutu, namun secara visual air limbah tampak bening sesuai nilai estetika yang mana layak dibuang ke badan air.
Dampak Serangan Israel terhadap Kualitas Lingkungan, Air, dan Tanah di Palestina Latif, Annisya Nurul; Muttaqin, Muhammad Izdiyan; Firmansyah, Indra Arif
Jurnal ICMES Vol 9 No 2 (2025): Jurnal ICMES: The Journal of Middle East Studies
Publisher : Indonesia Center for Middle East Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35748/jurnalicmes.v9i2.217

Abstract

Environmental pollution in areas of armed conflict has become a global issue that has a direct impact on ecosystem sustainability and human welfare. In the context of Palestine, the protracted conflict and Israeli occupation are associated with the degradation of environmental quality, particularly in soil and groundwater. This study examines the impact of armed conflict on environmental degradation and public health in Palestine by placing it within the geopolitical framework of the Israeli–Palestinian conflict. This research uses a qualitative approach based on literature studies and secondary data from international organization reports, scientific publications, and international legal documents. The results of the study showed that damage to water and sanitation infrastructure, military activities, and explosives and weapons residues including indications of the use of white phosphorus contributed to increased soil chemical contamination and decreased groundwater quality. This condition correlates with increased public health risks, especially in vulnerable groups such as children, and exacerbates socio-economic crises and food security. These findings affirm the urgency of integrating environmental restoration into the humanitarian agenda and post-conflict reconstruction, as well as the importance of strengthening environmental protection and accountability mechanisms within the framework of international law.