Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE MEANING OF MANGGAN NANTAUW TRADITION IN PEOPLE AROUND BUKIT PULAI KERINCI REGENCY JAMBI PROVINCE Prasiska, Rici
Jurnal Ilmu Pendidikan Ahlussunnah Vol 6 No 2 (2023): JIPA : Jurnal Ilmu Pendidikan Ahlussunnah
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat STKIP Ahlussunnah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manggan Nantauw tradition is a tradition held by local people in Bukit Pulai to celebrate their women’s pregnant. This tradition has a process which has several steps to do. This research is aimed to see the process of Manggan Nantauw tradition, to find the meaning behind this tradition, and to know the reason of the existence of Manggan Nantauw tradition around people in Bukit Pulai. This research used ethnography which is one of types of qualitative research. The data of this research were taken in Bukit Pulai at Kerinci regency, Jambi province. The informants of this research were traditional leaders, whole family and people that do Manggan Nantauw tradition. The techniques of data collection of this research were close interview, documentation and field observation. Furthermore, to analyze the data, it was using 12 steps from Spradley analysis which were corresponded to the situation in the field. The result of the research shows Manggan Nantauw tradition still exists in Bukit Pulai people’s life. The meaning of this tradition can be seen from its process. It has meaning in each used tools such as a mat for born baby, a cattle, two glasses, two plates, a wide plate, two rice bowls, two spices bowls, two big spoons, two small spoons and two washing hand bowls. The other is meaning from its materials such as areca, gambir, leaf cigarette, rice, curry and chickens. The reason why Bukit Pulai people still do this tradition is because this is in line with Islamic belief and one of ancient cultural heritages that give good effect for the society which it can tighten familiarity among the people. Manggan Nantauw tradition must be maintained and preserved. For the local people, they should keep the existence of this tradition. Kerinci government also has to give support toward the preservation of this tradition as one of characteristics of Kerinci people especially Bukit Pulai people.
Penerapan Pendidikan Karakter Melalui Pendidikan Kewarganegaraan dalam Pembentukan Kepribadian di Era Society 5.0 Prasiska, Rici
Indonesian Research Journal on Education Vol. 4 No. 4 (2024): irje 2024
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v4i4.1417

Abstract

Pendidikan karakter menjadi salah satu pilar penting dalam membentuk kepribadian generasi muda yang mampu menghadapi tantangan era Society 5.0. Pendidikan karakter sangat dibutuhkan sebagai sarana penerapan nilai-nilai dalam pendidikan karakter adalah melalui Pendidikan kewarganegaraan. Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan mampu menghidupkan kembali karakter peserta didik yang semakin merosot menuju karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Pada Era society 5.0 Beberapa keahlian yang perlu dikuasai bagi para siswa diantaranya: berpikir kreatif, inovatif, kritis, keterampilan berkomunikasi dan keterampilan berkolaborasi. Penguatan terhadap pendidikan karakter juga perlu direalisasikan, hal inibertujuan untuk membentuk sifat akhlak (budi pekerti) yang menjadikan akhlak sebagai nilai yang khas. Tujuan penelitianini adalah untuk mengetahui strategi dan cara menguatkan pendidikan karakter pada siswa. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk menjelaskan bagaimana idealnya pendidikan karakter dalam menghadapi era society 5.0. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter memang penting untuk bekal siswa di masa yang akan datang. Pendidikan karakter dilakukan dengan cara memanfaatkan teknologi informasi yang tersedia, sehingga tidak hanya akhlak saja yang terbentuk, melainkan penguasaan keahlian bidang TIK, berpikir kreatif inovatif dapat dicapai oleh siswa dalam menghadapi era society 5.0.