Grace Kilis
Program Studi Magister Psikologi Profesi Peminatan Klinis Dewasa, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Jl. Lkr. Kampus Raya, Depok, 16424, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PERAN MODERASI RELIGIOUS COPING TERHADAP HUBUNGAN RESILIENSI DAN KUALITAS HIDUP PADA PEREMPUAN DENGAN INFERTILITAS: The Moderating Role of Religious Coping on the Relationship between Resilience and Quality of Life in Women with Infertility Lisyanti; Grace Kilis
Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen Vol. 18 No. 1 (2025): JURNAL ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN 18.1
Publisher : Department of Family and Consumer Sciences, Faculty of Human Ecology, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24156/jikk.2025.18.1.38

Abstract

Perempuan dengan infertilitas di Indonesia seringkali melibatkan keyakinan pada Tuhan, baik secara positif maupun negatif, sebagai coping menghadapi stres infertilitas. Tujuan penelitian kuantitatif ini adalah untuk melihat apakah religious coping (the Brief Religious Coping) memoderasi hubungan antara resiliensi (Connor-Davidson Resilience Scale 25) dan kualitas hidup (WHO Quality of Life Brief). Data dikumpulkan dari 135 perempuan (mean usia 27,8 tahun, SD = 3,58) yang mempersepsi sedang menghadapi kondisi infertilitas yakni sudah menikah minimal satu tahun, tidak sedang menunda kehamilan dengan mengusahakan kehamilan melalui cara alami ataupun program hamil, dan belum berhasil memiliki anak serta menunjukkan stres infertilitas yang tinggi. Hasil uji moderasi menunjukkan hipotesis 1 dan 2 penelitian ditolak, yaitu baik positive religious coping maupun negative religious coping tidak memoderasi hubungan antara resiliensi dan masing-masing dimensi kualitas hidup. Meskipun demikian, uji korelasi menunjukkan temuan menarik adanya korelasi positif antara negative religious coping dengan resiliensi dan dimensi environment. Penelitian ini menunjukkan pentingnya penyediaan sarana-prasarana, seperti informasi kesehatan, layanan konseling, dan komunitas pendukung untuk meningkatkan kemampuan bangkit dalam menghadapi stres infertilitas.