Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Implementasi program kampung iklim melalui zero waste dan pemanfaatan pekarangan di Kelurahan Juata Permai Eko Hary Pudjiwati; Siti Zahara; Dwi Santoso
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.27178

Abstract

Abstrak Program Kampung Iklim (ProKlim) merupakan inisiatif pemerintah untuk mendorong masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim melalui aksi adaptasi dan mitigasi. Salah satu pendekatan yang relevan adalah konsep Zero Waste dan pemanfaatan pekarangan rumah. Artikel ini membahas pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat yang berfokus pada penerapan Zero Waste dan pemanfaatan pekarangan sebagai bagian dari ProKlim di kota Tarakan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan pemanfaatan lahan pekarangan untuk ketahanan pangan lokal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan di Saung Daeng Pa’dhe, RT 2 Kelurahan Juata Permai, Kota Tarakan, pada bulan Juli 2024. Peserta kegiatan ini adalah warga RT 2 dan ibu-ibu KWT Dahlia dari RT 7, Kelurahan Juata Permai. Tahapan kegiatan meliputi sosialisasi, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah dan pemanfaatan pekarangan. Kata Kunci: program kampung iklim; zero waste; pemanfaatan pekarangan; perubahan iklim; pengabdian masyarakat Abstract The Climate Village Program (ProKlim) is a government initiative aimed at encouraging communities to address climate change through adaptation and mitigation actions. One relevant approach is the Zero Waste concept and the utilization of home gardens. This article discusses the implementation of a community service activity focused on applying Zero Waste and home garden utilization as part of ProKlim in Tarakan City. This activity aims to raise public awareness of the importance of sustainable waste management and the use of home gardens for local food security. The community service activity was conducted at Saung Daeng Pa’dhe, RT 2, Juata Permai Subdistrict, Tarakan City, in July 2024. The participants were residents of RT 2 and the women of the KWT Dahlia group from RT 7, Juata Permai Subdistrict. The stages of the activity included socialization, implementation, and evaluation. The results of this activity showed an increase in public awareness and participation in waste management and the use of home gardens. Keywords: climate village program; zero waste; home garden utilization; climate change; community service
Edukasi teknologi pengolahan limbah padi menuju ketahanan pangan di Kota Tarakan Dewi Elviana Cahyaning C. Wulandari; Nia Kurniasih Suryana; Dwi Santoso; Siti Zahara
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.34979

Abstract

Abstrak Kota Tarakan merupakan daerah dataran rendah dengan luas wilayah 250,80 km², di mana Kecamatan Tarakan Timur menjadi sentra pertanian dengan areal 297,115 ha dan menampung sekitar 36% petani. Potensi tersebut menjadikan wilayah ini sebagai penyumbang terbesar produksi pertanian di Kota Tarakan. Namun, pengelolaan pertanian berkelanjutan menuntut perhatian tidak hanya pada aspek lingkungan, tetapi juga ekonomi dan sosial. Salah satu permasalahan yang dihadapi petani adalah pengelolaan limbah padi, khususnya sekam, yang kaya unsur silika tetapi selama ini kurang dimanfaatkan. Berdasarkan identifikasi masalah, ditetapkan tiga prioritas utama, yaitu: (1) edukasi teknologi pemupukan yang baik dan benar, (2) edukasi inovasi pembuatan pupuk silika, dan (3) edukasi manajemen usahatani. Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan bersama Kelompok Tani Serumpun Satu. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa petani mampu memahami dan mempraktikkan teknologi pemupukan yang tepat, memperoleh pengetahuan serta keterampilan dalam mengolah limbah sekam menjadi pupuk silika, dan mulai menerapkan manajemen usahatani secara lebih efisien. Dampak kegiatan ini tidak hanya mengurangi potensi pencemaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan nilai tambah dan efisiensi usaha tani. Pada tahap berikutnya, tim pelaksana bersama mitra akan melakukan pemantauan untuk menilai dampak penggunaan pupuk silika dan penerapan manajemen usahatani terhadap keberlanjutan produksi pertanian. Kata Kunci: padi; usahatani; pupuk; silika; limbah. AbstractTarakan City is a lowland area with an area of 250.80 km², where East Tarakan District is the center of agriculture with an area of 297.115 ha and accommodates around 36% of farmers. This potential makes this area the largest contributor to agricultural production in Tarakan City. However, sustainable agricultural management requires attention not only to environmental aspects, but also economic and social aspects. One of the problems faced by farmers is the management of rice waste, especially husks, which are rich in silica but have been underutilized. Based on the identification of problems, three main priorities were set, namely: (1) education on good and proper fertilization technology, (2) education on innovations in silica fertilizer production, and (3) education on farm management. The community service activities were carried out through socialization, training, and assistance with the Serumpun Satu Farmer Group. The results of the activities showed that farmers were able to understand and practice proper fertilization technology, acquire knowledge and skills in processing husk waste into silica fertilizer, and begin to implement more efficient farm management. The impact of these activities not only reduced the potential for environmental pollution but also opened up opportunities to increase added value and farming efficiency. In the next stage, the implementation team and partners will conduct monitoring to assess the impact of silica fertilizer use and the application of farm management on the sustainability of agricultural production. Keywords: rice; farming; fertilizer; silica; waste.
Kajian Ketahanan Terinduksi Cabai Rawit Terhadap Jamur Colletotrichum gloeosporioides Menggunakan Kitosan: Study of Induced Resistance in Chili Pepper Against Colletotrichum gloeosporioides Using Chitosan Eko Hary Pudjiwati; Siti Zahara; Nur Indah Mansyur
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 1 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v14i1.7913

Abstract

Penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum gloeosporioides merupakan kendala utama dalam budidaya cabai rawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi kitosan sebagai agen penginduksi ketahanan tanaman (ISR) dan biostimulan, serta membandingkan efektivitasnya dengan fungisida dalam mengendalikan penyakit antraknosa berdasarkan waktu aplikasi yang berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan delapan perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari Kontrol Negatif (P0-: tanpa inokulasi/pengendalian), Kontrol Positif (P0+: inokulasi penyakit), tiga variasi waktu aplikasi fungisida (P1, P2, P3), dan tiga variasi waktu aplikasi kitosan (P4, P5, P6). Waktu aplikasi yang diuji adalah dua minggu sebelum inokulasi, bersamaan inokulasi, dan dua minggu setelah inokulasi. Parameter yang diamati meliputi intensitas serangan antraknosa pada daun dan buah, efektivitas pengendalian, serta parameter pertumbuhan tanaman (jumlah akar, panjang akar, berat basah dan kering akar serta berat basah dan kering tajuk). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kitosan efektif dan setara dengan fungisida dalam menekan intensitas serangan antraknosa. Perlakuan aplikasi kitosan dua minggu sebelum inokulasi (P4) memberikan hasil yang paling optimal, yaitu intensitas serangan pada buah yang paling rendah (38,6%) dan efektivitas pengendalian yang paling tinggi (19,99%). Hal ini mengindikasikan bahwa aplikasi kitosan di awal berperan kuat dalam menginduksi sistem pertahanan tanaman sebelum patogen menyerang. Selain itu, kitosan juga berfungsi sebagai biostimulan yang signifikan meningkatkan pertumbuhan vegetatif, ditunjukkan oleh peningkatan berat basah/kering serta perkembangan akar dan tajuk. Anthracnose disease, caused by the fungus Colletotrichum gloeosporioides, is a major constraint in chili pepper (Capsicum frutescens) cultivation. This research aimed to investigate the potential of chitosan as an agent for inducing plant resistance (ISR) and as a biostimulant, while comparing its effectiveness with fungicides in controlling anthracnose based on different application timings. The study employed a Randomized Block Design (RBD) with eight treatments and three replications. Treatments included Negative Control (P0-: no inoculation/no control), Positive Control (P0+: disease inoculation), three variations of fungicide application timing (P1, P2, P3), and three variations of chitosan application timing (P4, P5, P6). The application timings tested were two weeks before inoculation, simultaneous with inoculation, and two weeks after inoculation. Observed parameters included the incidence and severity of leaf and fruit anthracnose, control effectiveness, and plant growth parameters (number of roots, length of roots, fresh and dry root weight, and fresh and dry shoot weight,). The results showed that the use of chitosan was effective and comparable to fungicides in suppressing anthracnose severity. The treatment involving chitosan application two weeks before inoculation (P4) yielded the most optimal results, exhibiting the lowest fruit anthracnose severity (38.6%) and the highest control effectiveness (19.99%). This indicates that early chitosan application plays a strong role in inducing the plant's defense system before patogen attack. Furthermore, chitosan also functioned as a biostimulant, significantly enhancing vegetative growth, as evidenced by the increase in fresh/dry weight and the development of both roots and shoots.
PENGENALAN SISTEM PERTANIAN PERKOTAAN PADA PELAJAR MELALUI INTEGRASI PROGRAM P5 Eko Hary Pudjiwati; Nur Indah Mansyur; Siti Zahara
BHAKTI NAGORI (Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat) Vol. 5 No. 2 (2025): BHAKTI NAGORI (Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat) Desember 2025
Publisher : LPPM UNIKS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36378/bhakti_nagori.v5i2.4766

Abstract

Kegiatan pengabdian ini dirancang untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di daerah perkotaan terkait praktik pertanian di lingkungan perkotaan sebagai sarana pembentukan karakter dan peningkatan kepedulian terhadap isu lingkungan. Metode yang diterapkan mencakup penyuluhan interaktif, edukasi kolaboratif, serta praktik langsung berupa budidaya tanaman dengan sistem vertikultur sederhana, penanaman dalam polybag, dan proses pengomposan dari limbah organik. Kegiatan ini selaras dengan nilai-nilai dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, ditemukan adanya peningkatan yang signifikan dalam pemahaman siswa mengenai pertanian perkotaan. Selain itu, keterlibatan aktif dan antusiasme siswa selama praktik menunjukkan tumbuhnya kesadaran untuk mulai menerapkan pertanian di rumah. Program ini terbukti menjadi pendekatan pembelajaran kontekstual yang efektif dalam membangun karakter siswa, khususnya pada aspek kemandirian, kolaborasi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Diharapkan model kegiatan ini dapat ditiru dan dikembangkan lebih lanjut oleh sekolah lain guna mendukung ketahanan pangan dan pendidikan karakter berbasis lingkungan.
Optimalisasi Pengelolaan Pekarangan Berbasis Pelatihan untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Keluarga pada KWT Dahlia di Kelurahan Juata Permai Nurul Chairiyah; Nur Indah Mansyur; Titik Ismandari; Eko Hary Pudjiwati; Siti Zahara; Muh. Adiwena; Nurjannah; Andi; Syamsir
JURPIKAT Vol 7 No 1 (2026): 7.1 2026
Publisher : Politeknik Piksi Ganesha Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37339/jurpikat.v7i1.2951

Abstract

Abstrak: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas Kelompok Wanita Tani (KWT) Dahlia dalam pengelolaan pekarangan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga di Kelurahan Juata Permai, Kota Tarakan. Permasalahan utama mitra meliputi keterbatasan pengetahuan dan keterampilan budidaya hortikultura, khususnya pada pembibitan, penyiapan media tanam, dan pemanfaatan teknologi lahan sempit. Program dilaksanakan menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) melalui tahapan identifikasi aset dan kebutuhan, penyuluhan, pelatihan berbasis praktik (learning by doing), pendampingan dosen dan mahasiswa, serta evaluasi partisipatif. Kegiatan difokuskan pada budidaya sayuran hortikultura melalui sistem hidroponik dan media polybag. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan kompetensi anggota KWT, dengan rata-rata skor pengetahuan dan keterampilan meningkat dari sekitar 40% menjadi 80%. Selain peningkatan kapasitas teknis, kegiatan ini juga meningkatkan motivasi, kepercayaan diri, dan partisipasi kelompok dalam pemanfaatan pekarangan secara produktif. Program ini berkontribusi pada penguatan kemandirian pangan keluarga serta pemberdayaan perempuan melalui pengelolaan pertanian pekarangan berkelanjutan di wilayah perkotaan. Abstract: This community service program aimed to enhance the capacity of the Dahlia Women Farmers Group (KWT) in managing home gardens to support household food security in Juata Permai Subdistrict, Tarakan City. The main problems faced by the group included limited knowledge and technical skills in horticultural cultivation, particularly in seedling preparation, growing media management, and the application of small-scale cultivation technologies. The program was implemented using an Asset-Based Community Development (ABCD) approach through stages of asset and needs identification, counseling, hands-on training (learning by doing), mentoring involving lecturers and students, and participatory evaluation. Activities focused on horticultural crop cultivation using hydroponic systems and polybag media. Evaluation results showed a significant improvement in participants’ competencies, with average knowledge and skill scores increasing from approximately 40% before the program to 80% after the intervention. In addition to technical capacity building, the program also enhanced participants’ motivation, self-confidence, and group participation in utilizing home gardens productively. Overall, this activity contributed to strengthening household food independence and empowering women through sustainable urban home garden management.
Viabilitas dan Vigor Benih Serta Pertumbuhan Tomat pada Ekstraksi Basah Siti Zahara; Eko Hary Pudjiwati; Nur Indah Mansyur
Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan Vol 25, No 2 (2026): Oktober 2026
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/agrifor.v25i2.9239

Abstract

Ekstraksi basah merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menghilangkan gel berlendir (pulp) yang menyelimuti biji tomat.  Pulp yang menyelimuti biji mengandung zat penghambat pertumbuhan sehingga dapat memengaruhi mutu benih.  Uji perkecambahan di laboratorium dan pengujian di lapangan dilakukan untuk mengetahui perbedaan pengaruh ekstraksi dengan air hangat (60 °C), NaOCl, HCl, dan H2SO4 terhadap viabilitas dan vigor benih, serta pertumbuhan dan hasil tanaman tomat keriting Varietas Mawar. Persentase infeksi patogen (%), daya kecambah (%), laju perkecambahan (hari), indeks kecepatan perkecambahan (IKP), keserempakan tumbuh benih (%), dan kecepatan tumbuh benih (%) diamati selama 14 hari pada uji perkecambahan. Sementara itu, persentase tumbuh benih (%), tinggi tanaman (cm), kandungan klorofil daun (spektrofotometer), berat kering tanaman (g), umur berbunga (hari), umur panen (hari), berat buah per tanaman (g), dan jumlah buah per tanaman diamati pada uji di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ekstraksi hanya memengaruhi tahap perkecambahan benih. Air hangat (60 °C)  sebagai bahan ekstraksi dengan mekanismenya mampu menghilangkan pulp tanpa merusak kulit biji dan melindungi biji dari infeksi patogen sehingga dapat menjaga viabilitas dan vigor benih. Hal ini ditunjukkan pada nilai rata-rata tingkat perkecambahan yang lebih tinggi, serta rata-rata nilai infeksi patogen dan kecepatan tumbuh benih yang lebih baik dibandingkan NaOCl, HCl dan H2SO4. Namun, seluruh bahan ekstraksi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada laju perkecambahan, indeks kecepatan perkecambahan, dan keserempakan tumbuh benih. Informasi yang diperoleh ini dapat menjadi dasar dalam memproduksi benih tomat bermutu secara mandiri