Isak Suria
Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TINJAUAN KEPEMIMPINAN SIMSON (HAKIM-HAKIM 13-16) BERDASARKAN TEORI LEADERSHIP EMERGENCE PATTERN (LEP) J. ROBERT CLINTON, APLIKASINYA KEPADA KEHIDUPAN PARA PEMIMPIN KRISTEN Isak Suria
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 8 No. 1 (2024): Vol.8 No.1 Juni (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v8i1.169

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi dengan pemahaman dari teori kepemimpinan yang dikembangkan oleh Robert Clinton  yang disebut Leadership Emergency Pattern (LEP). Teori ini sangat menarik untuk dipakai sebagai alat penelitian pribadi dari seorang pemimpin. Tahapan demi tahapannya jelas.Tujuannya untuk menelusuri permasalahan para pemimpin mengapa terjadi kegagalan dan kesuksesanya.  Fokus penelitian ditujukan kepada tokoh Simson, tetapi sasarannya kepada para pemimpin kristen yang ada. Sehingga para pemimpin bisa melihat dan merefleksikan diri sukses atau gagal. Metode penelitian yang diterapkan adalah metode kualitatif dengan penelitian dokumen diselaraskan dengan  teori Robert Clinton agar  ditemukan hal-hal yang baru. Temuan: Kegagalan dan kesuksesan tidak dapat dinilai sebatas pemahaman manusia, sehingga jangan menghkimi seseorang.  Hasil penelitian: walaupun seseorang panggilannya jelas, mendapat karunia rohani, dan fasilitas lengkap, tetapi jika tidak disertai integritas dan kedisiplinan akana Tuhan, maka semua panggilannya tidak berarti. Kesimpulan: Tuhan selalu mengajak kerja sama kepada para pemimpin kristen. Ada sinergi diantara keduanya.
Dari Paha Yakub ke Duri Paulus: Kelemahan dan Kekuatan dalam Teologi Alkitabiah Isak Suria
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/t9kss294

Abstract

This article examined how human weakness became a space for manifesting divine power through a comparative study of Jacob's experience at Pniel (Genesis 32:25–32) and Paul's thorn in the flesh (2 Corinthians 12:7–10). The study addressed the problem of how suffering shaped identity and functioned as a means of revealing God's power. It aimed to explore the theological significance of these experiences in light of the Hebrew concept of shamar (?????? nurturing/thorns). The methods used included linguistic, historical-cultural, and typological-canonical approaches. The study shows that weakness is not a barrier but a vessel of grace. In the cases of Jacob and Paul, suffering leads to a transformation of identity and empowerment for ministry. The study concludes that, in the biblical tradition, human weakness is often God's way of forming, preserving, and fully revealing Himself in the lives of His people.   Artikel ini membahas bagaimana kelemahan manusia menjadi ruang bagi manifestasi kekuatan ilah. Melalui studi komparatif terhadap pengalaman Yakub di Pniel (Kejadian 32:25–32) dan duri dalam daging Paulus (2 Korintus 12:7–10). Permasalahan yang diangkat adalah bagaimana penderitaan membentuk identitas dan menjadi sarana pewahyuan kuasa Allah. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji makna teologis dari pengalaman tersebut dalam terang konsep Ibrani ?????? shamar (memelihara/duri). Metode yang digunakan adalah pendekatan linguistik, historis-kultural, dan tipologis-kanonikal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelemahan bukan penghalang, tetapi justru wadah kasih karunia. Dalam kasus Yakub dan Paulus, penderitaan berujung pada transformasi identitas dan kuasa pelayanan. Kesimpulan dari studi ini adalah bahwa dalam tradisi biblika, kelemahan yang dialami manusia seringkali merupakan cara Allah membentuk, menjaga, dan menyatakan diri-Nya secara penuh dalam kehidupan umat-Nya.