Wendi Triseptyadi Patandean
Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Teologi yang Berdialog dalam Perjumpaan Budaya : Refleksi Teologis mengenai Koinonia dalam Tradisi Ma’Kombongan (Gotong-Royong) di Toraja dan Implementasinya Wendi Triseptyadi Patandean; Tri Oktavia Hartati Silaban; Rosyeline Tinggi
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 4 No 2 (2024): DPJTMG: November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v4i2.683

Abstract

Abstrak: Persekutuan merupakan suatu panggilan Gereja dalam misinya didunia, karena dengan persekutuan itu manusia bisa mengenal Allah dan hidup didalam Allah. Persekutuan sendiri terkadang orang mengidentikkannya hanya terjadi didalam Gereja saja, sehingga ketika diluar Gereja hanyalah sebatas hubungan relasional semata. Secara khusus, dalam konteks Toraja terdapat sebuah tradisi yaitu ma’kombongan yang dimana tradisi ini merupakan tradisi turun-temurun dalam menjalin relasi antar sesama, dan juga menolong sesama dengan cara bergotong-royong dalam menyelesaikan suatu permasalahan dan pekerjaan. Dari perspektif penulis sendiri, melihat tradisi tersebut sebuah refleksi persekutuan yang bukan hanya tercipta dalam sebuah Gereja tetapi persekutuan yang tercipta antar sesama melalui kebudayaan. Penulisan ini menggunakan metode kualitatif yaitu deskriptif, dan melakukan pengumpulan data dengan wawancara pada yang bersangkutan. Tujuan dari penelitian ini, ingin menemukan makna dan nilai dari tradisi ma’kombongan sebagai sebuah refleksi koinonia yang perlu diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bergereja. Penelitian ini menemukan bahwa tradisi ma’kombongan merupakan sebuah tradisi yang memiliki makna dan nilai dimana orang menjalin kerjasama karena tidak bisa dilakukan secara personal, orang menjalin moderasi beragama, dan juga menjadi sebuah persekutuan yang komprehensif yang menjangkau semua orang tanpa terkecuali. Jadi persekutuan tidak hanya dilihat bahwa itu terjadi dalam Gereja, tetapi persekutuan yang Yesus inginkan adalah persekutuan yang komprehensif dan menjangkau semua orang. Tradisi ma’kombongan perlu untuk dikonservasi agar tetap terpelihara dan menjadi sumber edukasi dalam berbangsa dan bernegara yang berbasis kearifan lokal.
Fenomena Pernikahan Kristen dalam Konteks Perbedaan Strata (Tana’) di Toraja dan Implementasinya bagi Warga Gereja Wendi Triseptyadi Patandean
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.145

Abstract

Many say that marriage brings happines in life, so it is not uncommon for a person to want to marry specifically in the context of toraja the majority of christians, so christian marriage must be a requirement in their life that emphasizes a measure of good fidelity to the spouse more to the Lord but in toraja also adheres to a system of social strata called tana’, the strata in a tortuate’s life can be a trigger for divorce if there’s a difference, so loyalty is off the charts. It employs a qualitative method of descriptive, and it does a data collection with an interview with the source. The purpose of this study is to find the problems that cause divorce in people the tortuls of different social ranks, though it has been emphasized in christianity. The study found that the determinantions of to are not faithful in christian marriages because of the stratification principles, the longko’ or prestige principle, the tendency to demean those arround them, the discrimination that triggers marital discord, is likely to maintain social stratification, so judging in christianity, it is certainly wrong inthe behavior of a christian. Abstrak: Penelitian ini mengkaji anak-anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), yakni anak-anak di bawah usia 18 tahun yang terlibat dalam masalah hukum, termasuk sebagai pelaku, korban, atau saksi tindak pidana. Studi ini juga membahas tentang pelayanan pastoral di Sentra Efata, Kupang, yang melayani 31 ABH pada Maret 2024. Pelayanan pastoral diintegrasikan untuk membentuk moral dan spiritual ABH, melalui pendekatan holistik yang mencakup dukungan spiritual, penguatan nilai moral, dan reintegrasi sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk menggambarkan fenomena dan dampak pelayanan pastoral terhadap perkembangan moral dan spiritual ABH di Sentra Efata, Kupang. Kesimpulannya bahwa pendekatan holistik dalam pelayanan pastoral, tidak hanya memperhatikan kebutuhan fisik dan material, tetapi juga kebutuhan spiritual dan moral ABH. Integrasi nilai-nilai spiritualitas dan moralitas dalam pelayanan pastoral diharapkan dapat memperkuat iman, memberikan dukungan holistik, dan memfasilitasi pertumbuhan spiritual dan moral ABH pada Sentra Efata di Kupang. Selain itu, pelayanan ini membantu pemulihan emosional, peningkatan hubungan sosial, dan reintegrasi ke masyarakat.Kata Kunci: Pernikahan Kristen, Perceraian, Tana’, Toraja.