Studi ini bertujuan untuk mengkaji pendirian Muhammadiyah sebagai gerakan sosial baru yang menggabungkan unsur Islam dan modernitas, serta eksplorasi perjuangan KH. Ahmad Dahlan dalam menghadapi tantangan intoleransi dan kekerasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah dan analisis dokumen untuk memahami peran Muhammadiyah dalam konteks perkembangan sosial dan pemikiran Islam. Kami juga melakukan tinjauan literatur untuk konteks gerakan sosial baru sekitar tahun 1960-1970-an. Muhammadiyah lahir sebagai gerakan sosial baru yang mengintegrasikan Islam dengan modernitas, dengan fokus pada aspek-aspek personal dan kesejahteraan manusia. KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dihadapkan pada sikap intoleran dan kekerasan dalam perjalanannya. Namun, dia tidak mengadopsi pendekatan konfrontatif atau non-kooperatif; sebaliknya, dia memperkuat aqidah Islam dan memberdayakan umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk ekonomi, politik, dan budaya. Pendekatan ini sesuai dengan model gerakan sosial baru atau gerakan sosial kontemporer sekitar tahun 1960-1970-an, yang menekankan nilai-nilai humanis, spiritual, dan non-materialistik dalam mencapai tujuan yang bersifat universal. Gerakan sosial baru ini didasarkan pada keyakinan universal, simbol, dan nilai-nilai yang membawa perasaan solidaritas terhadap kelompok sosial yang berbeda. Muhammadiyah, sebagai gerakan sosial baru yang mengintegrasikan Islam dengan modernitas, telah menjadi contoh sukses dari gerakan sosial yang menerapkan pandangan yang kooperatif dan anti-kekerasan untuk melindungi dan meningkatkan kondisi kehidupan manusia. Model gerakan sosial baru ini relevan dengan perubahan sosial dan nilai-nilai universal yang berkelanjutan dalam masyarakat. Studi ini memperkuat pemahaman tentang hubungan antara Islam, modernitas, dan gerakan sosial dalam konteks Indonesia.