This Author published in this journals
All Journal Jurnal IMAJI
Prakosa, Gotot
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Poster Film Indonesia Prakosa, Gotot
IMAJI No. 6 (2011): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah poster film atau juga sering disebut onesheet adalah alat yang sangat berguna dalam distribusi film. Pada dasarnya selain penanda, sebuah poster film untuk menarik penonton bioskop yang digunakan dan membuat mereka ingin melihat film. Untuk desainer poster itu bisa menjadi hal yang dilematis antara keinginan untuk membuat nilai estetika yang memenuhi dogma atau prinsip kerja grafis murni, tapi di sisi lain ia juga dibebani oleh tujuan untuk menghasilkan "iklan yang menjual': Tapi kemudian setelah semua, apapun namanya, ketika poster selesai dengan semua fiturnya, satu-satunya hal yang kemudian penting adalah bahwa semua harus terus berlangsung, apapun hasilnya, apakah baik atau buruk untuk film pemilik.
Mensinergikan Industri Animasi dengan Program Televisi di Indonesia Prakosa, Gotot
IMAJI Vol. 4 No. 2 (2012): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri film animasi di Indonesia kini hidupkan kembali, bangkit dari tidur panjang. Pemerintah memberikan perhatian dan memberikan dukungannya. Industri televisi di Indonesia juga berkembang cepat. Dengan demikian di sana-sini stasiun televisi lokal bermunculan di seluruh Indonesia, bergabung beriringan dengan televisi negara, berdampingan dengan stasiun nasional yang sudah mapan. Konvergensi dari dua dunia, animasi dan televisi, adalah hal yang sangat wajar, karena keduanya memiliki kesamaan, yaitu media yang tidak hanya memiliki nilai menghibur tapi juga menggunakan teknologi canggih. Unsur-unsur ini membuat kedua media membentuk sinergi dalam membantu untuk memperkaya kehidupan masyarakat di negeri ini.
58 Tahun Film Animasi Indonesia: Film Animasi Indonesia Dalam Pertumbuhan Prakosa, Gotot
IMAJI Vol. 5 No. 1 (2013): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejarah Film Animasi Indonesia bagi para animator dunia dianggap begitu jelas, disamping Indonesia memiliki sejarah kebudayaan yang sangat kental. Seperti wayang dan candi-candi yang ada di pulau Jawa, semuanya memiliki gambar-gambar relief tradisional yang dianggap telah memiliki ‘hidup’, seperti visi film animasi secara umum. Disamping itu tentu saja pengaruh perkembangan jaman dan teknologi yang meng-global, tentu memberikan perkembangan dan pertumbuhan tersendiri. Maka sejak masa lahirnya Negara Indonesia, dengan berbagai kekuasaan dan kebijakan Presidennya, juga menumbuhkan perkembangan tersendiri. Boleh dibilang pertumbuhan film animasi Indonesia jika dimulai dengan diciptakannya film animasi propaganda Si Doel Memilih, karya animator dan kartunis Dukut Hendronoto, kini boleh dicatat film animasi Indonesia telah berusia 58 tahun. Usia yang cukup umur untuk dijadikan acuan, semestinya perkembangannya sudah ke berbagai ranah. Baik ranah individu maupun ranah industrinya. Namun kenyataannya selalu meleset dari pertumbuhannya itu sendiri.
Tinjauan Estetis Aspek Rasio Film Kita: Sebuah Studi Struktural Melalui Alam Semesta dan Panel Candi Borobudur Prakosa, Gotot
IMAJI No. 4 (2008): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sudah ratusan tahun lebih manusia 'modern' bergelut dan menggali keelokan alam semesta sebagai rujukan dalam mencipta karya yang kelak juga berguna, bukan soal di bidang aplikasi untuk kehidupan itu sendiri, tetapi juga yang bers ifat spiritual (bukan hanya agama, tetapi penciptaan karya seni iuga), melalui bentuk bangunan, baik untuk kehidupan sehari-hari seperti berteduh melindungi diri dari huian, panas dan bencana, ataupun untuk ritual yang berupa persembahan kepada Tuhan yang berupa candi-candi, bangunan menhir atau mar u, istana, bangunan perkantoran atau bangunan untuk eksibisi, dan tentu soal seni visual. Ternyata sampai pada urusan seperti itu, manusia juga memerlukan estetika keindahan dalam fahamnya. Maka tidak heran jika semakin jaman berkembang, media juga semakin beragam, manusia modern semakin menggali kaidah-kaidah keindahan alam yang bisa dihubungkan dengan kehidupan dan pandangannya. Artikel ini adalah salah satu pancingan terhadap kajian persoalan estetika keindahan dalam seni visual, yang semestinya bisa diteruskan menjadi sebuah penelitian yang lebih mendalam tentang pemandangan alam yang tak pernah berhenti dan masih akan terus berlanjut sampai kapan pun.
Mencari Bentuk Estetika Film Nasional melalui Wayang dalam Relief Candi-candi di Jawa Prakosa, Gotot
IMAJI No. 5 (2009): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In Asia the concept of projecting moving pictures has been understood for at least a thousand years. The shadow theater so popular in those cultures conjured up gods and heroes, animals from fables, and demons on a screen and porta,ved them in various adventures. The earliest remnants of shadow' play were discovered in China and in Indonesia and stem from the 11 century. Two dimensional filigree figures were cut from tanned animal skins and artistically painted in color. The shadow players manipulated the chosen figure’s movable limbs with rods right up against the back of a screen of paper or silk. The light from an oil lamp illuminated the figure in such a way that the viewers could even enjoy the moving shadows in color. Especially in Indonesia, the shadow play Wayang Kulit is still popular today, and utilizes black silhouette figures and three-dimensional dolls along with the traditional audiences, ever mindful of tradition, still envision engineering the actual spirits of their ancestors in the moving enterplay of light and dark. This article tries to connect wav say wayang in comparison study with story film.