Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dialektika dalam Reformulasi Kriteria Rukyatul Hilal: Dari Rukyat Mutlak hingga QRNU Hijriyati, Muthi'ah; Lusdiyanto, Karis
Al-Syakhsiyyah: Journal of Law and Family Studies Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Faculty of Shariah UIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/syakhsiyyah.v6i2.9823

Abstract

Nahdlatul Ulama' as a representative of a community organization that views rukyah as the basis for determining the start of the month is often faced with hisab. However, history records that the NU’s ijtihad process moved dynamically and did not reject hisab. Starting from using rukyah absolutely, then hisab is used as a "partner" and the basis for implementing rukyah, until hisab is positioned to also thwart istimal norms in the position of qath'i al-rukyah. This developing formulation is interesting to study in the context of dialectics initiated by Hegel. Hegel's philosophical concept will be applied to explore the dynamics of shifts in NU's thinking in its ijtihad regarding the determination of the beginning of the month in Indonesia. This type of research is qualitative with a library research approach by collecting data from various written sources. This data will then be processed in a descriptive-analytical methods and produce an understanding that the formulation of rukyatul hilal in NU in the early days was to use pure rukyah based on an understanding of the hadith text of the prophet Muhammad saw. This is a thesis that confronts the antithesis of the developing condition of science, where humans have been able to calculate and predict the occurrence of conjunctions and are supported by astronomical data. This process of dialogue and thesis-antithesis conflict presents a result of ijtihad in the form of the concept of NU qath'i al-rukyah which is a synthesis in the struggle for NU thought. It is possible that new thoughts will emerge in the future as evidence that the dialectical process is still and will continue to run in the scientific treasures of Nahdlatul 'Ulama
Sosialisasi Kalibrasi Arah Kiblat pada Momentum Istiwa’ A’dham sebagai Upaya Peningkatan Nilai Moderasi Beragama Hijriyati, Muthi'ah; Islam, Ahmad Fakhruddin Fajrul
Kontribusi: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Cipta Media Harmoni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53624/kontribusi.v6i2.791

Abstract

Latar Belakang: Akurasi arah kiblat merupakan aspek penting dalam pelaksanaan ibadah shalat. Namun tidak sedikit tempat ibadah yang masih menghadapi kesulitan atau kurang tepat dalam penentuan akurasi arah kiblat. Hingga fenomena istiwa’ a’dham, yakni saat Matahari tepat berada diatas Ka’bah adalah moment ideal untuk melakukan kalibrasi arah kiblat secara sederhana dan akurat. Tujuan: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk mensosialisasikan metode kalibrasi arah kiblat dengan memanfaatkan momentum istiwa’ a’dham serta menanamkan nilai-nilai moderasi beragama melalui pendekatan edukatif dan ilmiah. Metode: menggunakan metode ABCD yang berfokus pada mengajak masyarakat menemu-kenali potensi yang dimiliki melalui Discovery, Dream, Design, Define, dan Destiny. Praktiknya adalah dengan melakukan sosialisasi teori, praktik pengukuran arah kiblat serta diskusi reflektif tentang pentingnya sikap toleran dalam perbedaan aplikatif hasil pengukuran di lapangan. Hasil: kegiatan ini menghasilkan adanya masyarakat yang memiliki antusiasme yang tinggi dalam proses edukatif ini, didapatkan bayangan Matahari yang jelas tanpa tertutup mendung sebagai hasil pengukuran sekaligus minat masyarakat untuk mempraktikkannya secara langsung esok hari pada jam yang sama di kediaman dan tempat ibadah lainnya. Kesimpulan:  dari kegiatan ini didapatkan kesimpulan bahwa tidak hanya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang akurasi arah kiblat, namun juga memberikan pemahaman praktis dan teknis yang mudah serta membangun kesadaran akan pentingnya beragama secara moderat dan berbasis pada keilmuan