Muslikhun Ibrohim Hizbulloh
Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Digital Divisi Multimedia dalam Mendukung Penerimaan Santri Baru di Pondok Pesantren Darul Hidayah Sukoharjo Muslikhun Ibrohim Hizbulloh; Farrij Arzaqy
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 5 (2026): Juni
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v3i5.7733

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi digital yang diterapkan oleh Divisi Multimedia dalam mendukung penerimaan peserta didik baru di Pondok Pesantren Darul Hidayah Sukoharjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode penelitian lapangan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang melibatkan pengurus pondok pesantren, Divisi Multimedia, serta panitia penerimaan peserta didik baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi digital Divisi Multimedia dilakukan melalui penguatan sumber daya manusia, penerapan pengawasan konten berdasarkan nilai-nilai pesantren, pembentukan sistem regenerasi tim multimedia, menjaga konsistensi publikasi media sosial, serta pemanfaatan teknologi digital modern seperti aplikasi editing dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Platform media digital yang digunakan meliputi Instagram, TikTok, YouTube, WhatsApp Channel, radio, dan pamflet digital. Divisi Multimedia memiliki peran penting dalam membangun citra positif pondok pesantren, meningkatkan minat masyarakat, serta mendukung kegiatan promosi penerimaan peserta didik baru melalui publikasi digital dan materi promosi untuk kegiatan sosialisasi lapangan. Faktor pendukung strategi digital meliputi keterlibatan langsung pimpinan pondok pesantren, fasilitas media yang memadai, serta dukungan finansial lembaga. Sementara itu, faktor penghambat meliputi keterbatasan kemampuan sumber daya manusia, keterbatasan kapasitas penyimpanan perangkat, serta kebutuhan penyusunan konten promosi yang beragam untuk kegiatan sosialisasi langsung.Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi komunikasi digital berbasis multimedia memiliki kontribusi yang signifikan terhadap pengembangan publikasi dan branding pondok pesantren di era digital.
SCHOOL RESILIENCE ECOSYSTEM: MODEL KONTRA-RADIKALISME BERBASIS TRADISI PESANTREN MENGHADAPI CYBER-RADICALISM DI KALANGAN GEN-Z Hadi Santoso; Ahmad Mukhlasin; Muslikhun Ibrohim Hizbulloh
Al-Iqro' Vol 3 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54622/aijis.v3i1.731

Abstract

In 2024, the escalation of radicalism into the digital sphere, known as cyber-radicalism, poses a critical threat to Generation Z by exploiting social media algorithms to propagate exclusive ideologies. Amidst this digital vulnerability, pesantren-based madrasahs in Solo Raya demonstrate unique resilience mechanisms grounded in local wisdom. This study aims to analyze the construction of school resilience in countering radical narratives across three strategic institutions: MA Al-Muayyad Surakarta, MA Al-Manshur Klaten, and MA Al-Muttaqien Pancasila Sakti. Employing a qualitative method with a multi-site case study design, the research draws upon data from in-depth interviews, observations, and documentation. The findings reveal a comprehensive "School Resilience Ecosystem" supported by three core pillars: (1) Ideological Resilience, achieved through the internalization of the "Pancasila Sakti" doctrine and nationalist rituals to counter anti-state narratives; (2) Cultural Resilience, which utilizes arts such as Saman Dance and Batik to dismantle egoism and foster student inclusivity; and (3) Institutional Resilience, implemented through a non-violent pedagogical approach. The study concludes that integrating pesantren traditions (turats) provides an effective shield against global radicalism currents. Consequently, these findings imply a need for deradicalization policies to shift from a security-oriented approach toward a cultural immunization model.