Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Peran Orang Tua dalam Pendidikan Islam Pada Anak Usia Dini Adelfa Yuriansa; Karuni Humairah Arta; Ummi Habibatul Islamiyah
Islam Universalia: International Journal of Islamic Studies and Social Sciences Vol 5 No 2 (2023): Islam Universalia
Publisher : Cyber Media Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56613/islam-universalia.v5i2.233

Abstract

The foremost and primary education in Islam is the Islamic education of children within the family. Islamic education is provided from an early age to instill a sense of belief, faith, and Islam in the child. The presence of Islamic education from an early age demonstrates the consistency of parents and children in determining the future and the child's environment in an Islamic manner. The role of parents in early childhood, according to Islam, is crucial in the development and formation of character during the child's golden age. During this golden age, children will mimic what their parents do. Therefore, parents must pay attention to providing good education for their children. Data collection in this research is conducted by gathering literature, reading, taking notes, and processing research materials. The research approach is analyzed using qualitative descriptive analysis. This study aims to explain the characteristics of Islamic education for early childhood from the perspective of Islamic education, thus building a solid foundation for early childhood development. Abstrak Pendidikan yang paling pertama dan utama dalam islam adalah pendidikan islam anak dalam keluarga. Pendidikan islam diberikan pada saat usia dini untuk menumbuhkan rasa keprcayaan, iman dan islam pada anak. Dengan adanya pendidikan islam sejak usia dini menunjukkan konsistensi orang tua dan anak untuk menentukan masa depan dan lingkungan anak secara islam. Peran orang tua pada anak usia dini dalam pandangan islam sangat penting dalam perkembangan dan pembentukan karakter di masa emas anak. Pada masa emas anak akan meniru apa yang dilakukan orang tua. Oleh karena itu, orang tua harus memperhatikan dalam memberikan pendidikan yang baik untuk anak. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data pustaka, membaca, mencatat, dan mengolah bahan penelitian. Pendekatan penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan menjelaskan karakteristik pendidikan islam bagi anak usia dini yang ditinjau dalam perspektif pendidikan islam sehingga membangun kemampuan dasar yang baik bagi anak usia dini.
Pendidikan Seksual Anak Usia Dini dalam Perspektif Holistik di Indonesia Karuni Humairah Arta; Yaumalika Arta
Islam Universalia: International Journal of Islamic Studies and Social Sciences Vol 5 No 2 (2023): Islam Universalia
Publisher : Cyber Media Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56613/islam-universalia.v5i2.269

Abstract

Pendidikan seksual anak usia dini merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang yang bertujuan menanamkan pemahaman tentang tubuh, batasan diri, serta tanggung jawab moral sejak dini. Artikel ini membahas urgensi pendidikan seksual bagi anak usia dini melalui pendekatan holistik yang mengintegrasikan teori psikologi perkembangan—seperti Freud, Piaget, Vygotsky, dan Bandura—dengan nilai-nilai Islam yang menekankan kesucian, adab, dan pengendalian diri. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kepustakaan dengan menganalisis berbagai literatur psikologi, pendidikan, dan keislaman. Hasil analisis menunjukkan bahwa pendidikan seksual berbasis nilai Islam tidak hanya mencegah perilaku menyimpang dan kekerasan seksual, tetapi juga menumbuhkan kesadaran diri, rasa malu positif, dan kemampuan anak dalam menjaga kehormatan dirinya. Selain itu, peran orang tua dan guru menjadi sangat krusial sebagai fasilitator utama dalam membimbing anak memahami perbedaan jenis kelamin, privasi, dan etika pergaulan. Dengan demikian, pendidikan seksual anak usia dini perlu dikembangkan secara kontekstual dan kolaboratif antara keluarga, lembaga pendidikan, dan nilai-nilai keagamaan agar membentuk generasi yang berkarakter dan berintegritas.
Penerapan Metode Bermain untuk Meningkatan Minat Belajar Anak Usia 3-5 Tahun di TK Purwodadi (Satu Atap) Kecamatan Kuala Pesisir Kabupaten Nagan Raya Malika Ayuni; Nurma; Karuni Humairah Arta
Educalia: Journal of Educational Research Vol 4 No 2 (2025): Educalia: Journal of Educational Research
Publisher : Cyber Media Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56613/educalia.v4i2.301

Abstract

Metode pembelajaran merujuk pada cara atau upaya yang diterapkan oleh pendidik untuk memastikan proses belajar mengajar mencapai tujuannya secara efektif. Metode ini sangat penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan mendorong partisipasi aktif dari peserta didik, sehingga mereka dapat lebih mudah menyerap pengetahuan yang diberikan oleh pengajar. Oleh karena itu, guru perlu memperhatikan karakteristik anak agar dapat memilih metode yang tepat, seperti metode bermain, untuk meningkatkan ketertarikan mereka dalam belajar. Bermain merupakan metode pembelajaran yang sangat relevan untuk anak-anak di usia dini, karena merupakan bagian utama dari dunia mereka. Melalui aktivitas bermain, anak-anak dapat mengembangkan keterampilan baru, memahami cara penerapannya, serta memenuhi kebutuhan mereka. Selain itu, bermain juga berfungsi untuk melatih fisik anak dan mendukung perkembangan kognitif serta interaksi sosial mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan metode bermain berpengaruh dalam meningkatkan minat belajar anak usia 3-5 tahun di TK Purwodadi (Satu Atap) Kecamatan Kuala Pesisir Kabupaten Nagan Raya, serta untuk mengetahui bagaimana guru meningkatkan motivasi belajar anak melalui penerapan metode bermain. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode bermain sangat efektif dalam meningkatkan minat belajar anak. Metode ini memudahkan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. Penerapan metode bermain di TK Purwodadi (Satu Atap) berhasil menstimulasi perkembangan minat belajar anak secara maksimal, menjadikan pembelajaran lebih menarik bagi anak, serta menciptakan suasana yang lebih hidup dibandingkan dengan kondisi sebelum metode bermain diterapkan.
Mengembangkan Kemampuan Bahasa Anak Usia Dini Melalui Metode Bercerita Di Tk Baitul Mukarammah Desa Blang Teungoh Kec. Panton Reu Kab. Aceh Barat Ratna Dewi; Nurma; Karuni Humairah Arta
Educalia: Journal of Educational Research Vol 4 No 2 (2025): Educalia: Journal of Educational Research
Publisher : Cyber Media Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56613/educalia.v4i2.302

Abstract

Bahasa adalah salah satu cara untuk mengekspresikan diri setiap individu. Tanpa bahasa, manusia tidak dapat melakukan aktivitas apapun, karena kehidupan mereka sangat bergantung pada interaksi sosial dan komunikasi. Kemampuan berbicara, yang merupakan keterampilan berbahasa yang paling umum dan efektif, memegang peranan penting dalam proses ini. Perkembangan bahasa anak dapat didorong melalui berbagai metode pembelajaran yang sering digunakan dalam pendidikan. Salah satunya adalah metode bercerita. Di TK Baitul Mukaramah Desa Blang Teungoh, kemampuan bahasa anak-anak kelompok A masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan oleh penggunaan metode dan media pembelajaran yang kurang menarik serta bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara mengembangkan kemampuan bahasa anak melalui metode bercerita di TK Baitul Mukaramah Desa Blang Teungoh, Kecamatan Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian yang dilakukan di TK Baitul Mukaramah menunjukkan bahwa penerapan metode bercerita dengan media gambar di kelas A memberikan hasil yang positif. Dari hasil penelitian, 4 anak menunjukkan perkembangan yang sangat baik, 3 anak berkembang sesuai harapan, 2 anak mulai berkembang, dan 1 anak belum berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan metode bercerita dengan media gambar di TK Baitul Mukaramah berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Pengembangan Kreativitas Anak Melalui Permainan Lego Pada Anak Usia 5-6 Tahun Tk Negeri Pembina 1 Kuala Hasmiati; Nurma; Karuni Humairah Arta
Educalia: Journal of Educational Research Vol 4 No 2 (2025): Educalia: Journal of Educational Research
Publisher : Cyber Media Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56613/educalia.v4i2.303

Abstract

Kreativitas merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan seni anak yang harus diberikan stimulasi optimal sejak usia dini. Untuk mengembangkan kreativitas ini, sekolah dapat memanfaatkan berbagai jenis permainan yang dapat merangsang daya cipta anak. Jika kreativitas tidak dikembangkan sejak usia dini, kemampuan berpikir dan kecerdasan anak akan terhambat. Untuk menghasilkan produk atau bakat kreatif yang tinggi, diperlukan pengembangan yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kreativitas anak kelompok B1 melalui permainan lego di TK Negeri Pembina 1 Kuala. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model Kemmis dan Mc.Taggart. Teknik pengumpulan data yang diterapkan adalah observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada pengembangan kreativitas anak usia 5-6 tahun melalui permainan lego di TK Negeri Pembina 1 Kuala, yang terlihat pada siklus 1 dan siklus 2. Pada siklus pertama, rata-rata nilai peserta didik adalah 50,77, dengan mayoritas anak memperoleh nilai sekitar 50. Pada siklus kedua, seluruh peserta didik berhasil memperoleh nilai 70 atau lebih, dengan rata-rata nilai meningkat menjadi 71,04. Peningkatan ini mencerminkan kenaikan rata-rata sebesar 20,27 poin atau sekitar 39,91%. Hasil ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan pada siklus kedua lebih efektif dibandingkan dengan siklus pertama.
Unpacking Failures and Challenges in Flood Mitigation: An Actuating-Based Policy Implementation Analysis in West Aceh Erlinda Sarni Sidim; Ikhwan Rahmatika Latif; Ilham Mirza Saputra; Aulia Risky; Karuni Humairah Arta; Najamudin Najamudin
JOURNAL OF GOVERNMENT SCIENCE Vol 7 No 1 (2026)
Publisher : Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54144/govsci.v7i1.150

Abstract

Flood disasters remain a recurrent and escalating risk in Indonesia, particularly in regions with high hydrometeorological vulnerability such as West Aceh Regency. This study aims to analyze the implementation of flood disaster mitigation policies at the local government level by employing George R. Terry’s actuating framework, which encompasses motivating, directing, communicating, and leading. A qualitative research approach was adopted, utilizing in-depth interviews, field observations, and document analysis to capture the dynamics of policy implementation in practice. The findings reveal that the effectiveness of flood mitigation in West Aceh is constrained by several interrelated factors, including low community participation, weak policy synchronization across institutions, limited communication systems, and insufficient leadership coordination. Although the local government has undertaken both structural measures—such as drainage improvement and flood control infrastructure—and non-structural measures—such as community awareness programs and institutional strengthening—these efforts remain fragmented and insufficiently integrated. As a result, mitigation outcomes have not yet significantly reduced the recurring flood risks. This study contributes to the literature by proposing an integrative conceptual framework that connects the actuating function with structural and non-structural mitigation approaches. The framework highlights that effective disaster mitigation is not solely dependent on technical interventions but also on the quality of policy execution, institutional capacity, and participatory governance. The study recommends strengthening institutional coordination, enhancing participatory communication strategies, and ensuring the integration of technical and social approaches in local disaster mitigation policies. These findings provide practical and theoretical implications for improving disaster governance in flood-prone regions, particularly within decentralized governance contexts.
Model Pendidikan Pesantren dan Kontribusinya bagi Pendidikan Islam Nasional Karuni Humairah Arta; Mandaliya Ulfa Daulay; Erna Wati
Educalia: Journal of Educational Research Vol 3 No 2 (2024): Educalia: Journal of Educational Research
Publisher : Cyber Media Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56613/educalia.v3i2.338

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis model pendidikan pesantren dan kontribusinya terhadap pendidikan Islam nasional melalui pendekatan kajian pustaka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi literatur dengan teknik analisis isi dan analisis tematik terhadap berbagai sumber ilmiah yang relevan, termasuk buku akademik, artikel jurnal, dan dokumen kebijakan pendidikan. Fokus kajian diarahkan pada pemetaan karakteristik model pendidikan pesantren, pola pembelajaran yang dikembangkan, serta relevansinya dalam konteks sistem pendidikan Islam nasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa model pendidikan pesantren memiliki karakter integratif yang memadukan aspek kognitif, afektif, dan spiritual dalam satu ekosistem pendidikan berbasis asrama. Sentralitas keteladanan kiai, pembiasaan nilai melalui kehidupan komunal, serta fleksibilitas kurikulum menjadi kekuatan utama pesantren dalam membentuk karakter dan integritas moral peserta didik. Selain itu, pesantren berkontribusi dalam mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum, memperkuat pendidikan karakter, serta mendukung pengembangan institusi pendidikan Islam formal dalam sistem nasional. Secara konseptual, model pendidikan pesantren dapat dipahami sebagai paradigma pendidikan holistik yang relevan untuk memperkaya pendidikan Islam nasional, terutama dalam menghadapi tantangan globalisasi dan kebutuhan penguatan nilai. Meskipun tidak seluruh elemen strukturalnya dapat direplikasi, prinsip-prinsip dasar pesantren dapat diadaptasi secara selektif untuk mendukung pengembangan sistem pendidikan yang lebih integratif dan berbasis karakter.