Abstrak: Kajian ini mengeksplorasi praktik spiritual masyarakat Jawa yang disebut Kejawen, yang sering disalahartikan sebagai tradisi budaya dan bukan agama. Dalam konteks Indonesia, kriteria khusus menentukan apa yang dimaksud dengan sebuah agama, dan sayangnya Kejawen tidak sejalan dengan standar pemerintah tersebut. Akibatnya, Kejawen umumnya dianggap bukan sebagai agama formal namun sebagai praktik warisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bahkan ada yang menganggap Kejawen bersifat mistis atau kuno, tidak layak untuk masyarakat masa kini. Mengingat, di kalangan praktisi Kejawen pun masih ada keraguan untuk menyebut agama sebagai agama mereka. Dalam penelitian ini, saya mendalami Kejawen dengan terlebih dahulu mengkaji literatur untuk memahami intinya, kemudian mewawancarai tiga praktisi dari Jawa Timur dan Yogyakarta. Pendekatan ganda ini membantu saya melihat bagaimana Kejawen cocok dengan konteks agama yang lebih luas dan tempatnya yang unik di antara kepercayaan spiritual. Saya mengumpulkan data dari berbagai sumber, termasuk buku dan jurnal, dan melakukan wawancara semi terstruktur secara offline untuk mendapatkan wawasan lebih dalam. Studi ini menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola-pola dalam data, memberikan pandangan komprehensif mengenai kompleksitas Kejawen dan keselarasan dengan kerangka keagamaan global dan adat. Untuk menilai kembali status Kejawen, tulisan ini meninjau kembali definisi mendasar 'agama' dan esensi aslinya. Dengan menerapkan Paradigma Agama Pribumi, kita bisa melihat sejauh mana keselarasan Kejawen dengan kerangka tersebut. Analisis komparatif ini bertujuan untuk memantapkan kembali posisi Kejawen, dan berpotensi mengakuinya sebagai agama asli Indonesia, yang berakar kuat pada warisan nenek moyang negara.Abstract: This study explores the Javanese spiritual practice known as Kejawen, often misconstrued as merely a cultural tradition rather than a religion. In the Indonesian context, specific criteria define what constitutes a religion, and Kejawen, unfortunately, doesn't align with these governmental standards. As a result, Kejawen is generally perceived not as a formal religion but as a heritage practice passed down through generations. Some even view Kejawen as mystical or archaic, unfit for contemporary society. Considering, even among Kejawen practitioners, there's a hesitancy to label it as their religion. In this study, I explored Kejawen by first reviewing literature to understand its core, then interviewing three practitioners from East Java and Yogyakarta. This dual approach helped me see how Kejawen fits into wider religious contexts and its unique place among spiritual beliefs. I collected data from various sources, including books and journals, and conducted offline semi-structured interviews for deeper insights. The study used thematic analysis to identify patterns in the data, offering a comprehensive look at Kejawen's complexities and its alignment with global and indigenous religious frameworks. To reassess Kejawen's status, this paper revisits the fundamental definition of 'religion' and its original essence. By applying the Indigenous Religion Paradigm, we can examine how well Kejawen aligns with this framework. This comparative analysis aims to reestablish Kejawen's position, potentially recognizing it as an indigenous religion of Indonesia, deeply rooted in the country's ancestral heritage.