Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Relief Borobudur: Catatan Visual Perjalanan Spiritual Laurent, Lieke; Riyanti, Fitri; Kassapa, Kassapa; Lestari, Sarah Ayu; Widiyanto, Widiyanto
Kajian dan Reviu Jinarakkhita: Jurnal Gerakan Semangat Buddhayana (Jinarakkhita Review & Studies: Journal of Buddhayana Spirit Movement) Vol 2 No 2 (2024): JGSB April-Oktober 2024
Publisher : LPPM STIAB JINARAKKHITA LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60046/jgsb.v2i2.125

Abstract

Borobudur Temple, Relief Borobudur is a Buddhist temple in Central Java, Indonesia, recognized as one of the most important world heritage sites. The temple is famous for its magnificent architecture and richly meaningful reliefs. Borobudur is not only a place of worship, but also a spiritual symbol of Buddhism and the path to enlightenment. The temple structure consists of ten levels, reflecting the three realms of Buddhism: Kamadhatu (the realm of lust), Rupadhatu (the realm of form), and ARupadhatu (the realm of formlessness). The reliefs on the temples reflect Buddhism and the life of the people in the past, including hunting stories and traditional arts. The Karmawibhanga, Jataka-Awadana, and Gandawyuha reliefs tell about moral teachings and the law of karma, which emphasizes the principle of cause and effect in human life. The temple acts as a means of information about the past, presenting a picture of social and cultural life. After being rediscovered by Sir Thomas Stamford Raffles in the 19th century, Borobudur has undergone repeated restoration to ensure its preservation. In 1991, UNESCO designated the place as a World Heritage Site. Apart from being an extraordinary work of art, Borobudur also teaches about morality, concentration, and wisdom, making it a spiritual place that blends art and philosophy.Borobudur, Kamadhatu, Rupadhatu, ARupadhatu.
Edukasi Pola Hidup Sehat untuk Mencegah Diabetes Mellitus pada Remaja di SMK Kiansantang Ramadhan, Muhammad Deri; Manumara, Theophylia Melisa; Noviyanti, Nesa Regina; Nurhibah , Tiara; Ordora, Delia; Amelia, Mia; Lestari, Sarah Ayu; Saidah , Mila; Billah, Inge Parasnigtias; Sukardi, Zalva Febriana; Nisa, Putri Mutiara; Nurohman, Rifki; Ramdani, Riki Muhammad
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/c7rqbx60

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan ketidakmampuan pankreas memproduksi insulin secara cukup atau ketidakmampuan tubuh menggunakan insulin secara efektif, sehingga menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia). Secara global, jumlah penderita DM terus meningkat setiap tahunnya, dengan Indonesia mencatat lebih dari 2,5 juta kasus. Faktor risiko utama meliputi obesitas, kurangnya aktivitas fisik, riwayat keluarga, pola makan tidak seimbang, serta hipertensi. DM tipe 2 menjadi kasus terbanyak, yakni sekitar 90–95% dari seluruh kejadian, yang disebabkan oleh resistensi insulin dan disfungsi sel beta pankreas. Jika tidak ditangani dengan baik, DM dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius, baik akut seperti ketosidosis diabetik, maupun kronik seperti kerusakan ginjal, gangguan penglihatan, dan penyakit kardiovaskular. Gaya hidup modern yang cenderung tidak sehat, khususnya pada kalangan remaja, semakin memperparah prevalensi penyakit ini. Oleh karena itu, upaya pencegahan melalui promosi dan pendidikan kesehatan menjadi sangat penting. Penyuluhan kesehatan terbukti dapat meningkatkan pengetahuan individu dan masyarakat sehingga mendorong perubahan perilaku menuju gaya hidup yang lebih sehat dan terkendali.