Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Efektivitas Wakaf Uang Menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Perundang-Undangan dalam Mendorong Pemberdayaan Ekonomi Ummat Hasmia Wahyunisa; Syahruddin Nawi; Ahyuni Yunus
Journal of Lex Generalis (JLG) Vol. 1 No. 6 (2020): Journal of Lex Generalis (JLG)
Publisher : Journal of Lex Generalis (JLG)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.248 KB) | DOI: 10.52103/jlg.v1i6.233

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui Efektivitas Wakaf uang Menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Perundang-undangan dalam Mendorong Pemberdayaan Ekonomi Ummat dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa Pelaksanaan wakaf uang menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan perundang-undangan dalam pelaksanaannya belum sepenuhnya mengacu pada Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Hal ini disebabkan pemahaman masyarakat yang menganggap bahwa wakaf itu hanya sebatas benda tidak bergerak saja dan peruntukannya pun hanya sebagai tempat ibadah (masjid), sekolah/pesantren ataupun lahan kuburan, padahal potensi wakaf uang sangat besar. Pelaksanaan Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya : Faktor hukumnya sendiri (substansi hukum); penegak hukum (struktur hukum); sarana dan prasarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum; kesadaran hukum masyarakat dan budaya hukum. This research aims to look at the effectiveness of cash waqf according to the Fatwa of the Indonesian Ulema Council (MUI) and the Laws on Encouraging the Economic Empowerment of the Ummah and the factors that influence it. This research is an empirical legal research. The results of the research show that the implementation of cash waqf according to the Fatwa of the Indonesian Ulema Council (MUI) and the law in its implementation is not appropriate according to Law Number 41 of 2004 concerning Waqf. This is considered by the public's understanding that waqf is only limited to immovable objects and its allotment is only as a place of worship (mosque), school / pesantren or grave land, even though the potential for cash waqf is very large. The implementation of Law Number 41 Year 2004 instructs several factors, including: the legal factor itself (legal substance); law enforcement (legal structure); facilities and infrastructure or facilities that support law enforcement; public legal awareness and legal culture
Unveiling the Phenomenon of Strava Jokis: The Ethics of Digital Lifestyle in the Spotlight of Islamic Economics and Maqashid Shariah A. Rio Makkulau Wahyu; Wirani Aisiyah Anwar; Heri Irawan; Srianti Permata; Hasmia Wahyunisa
LAA MAISYIR: Jurnal Ekonomi Islam The 2nd International Collaboration Conference on Islamic Economics (ICCEIS) 2024 “Global Innovati
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lamaisyir.v1i1.52946

Abstract

This study examines the phenomenon of Strava jokis within the context of digital lifestyle ethics and Islamic economics. Strava jokis refer to the practice where someone pays another person to manipulate their sports activity data on the Strava app in order to gain social recognition on digital media. The research employs a qualitative method with a literature review approach to analyze the Strava jokis phenomenon through relevant literature on digital ethics and Islamic economics. The findings indicate that this phenomenon reflects the strong impact of social media on individual behavior, where people often pursue image and social validation while neglecting values such as honesty and authenticity. Social pressure drives manipulative behavior that damages personal integrity and mental health due to the practice of manipulation. The Strava jokis phenomenon contradicts the principles of Maqashid Shariah, and from an Islamic economics perspective, the service of Strava jokis conflicts with fundamental principles such as honesty, justice, and transparency, as it involves deception that harms society and disrupts the social order. Therefore, a stronger ethical approach to the use of technology and social media is needed, emphasizing moral values and Islamic principles to create a more responsible digital lifestyle.
TRADISI PENYERAHAN ERANG-ERANG SEBAGAI SYARAT KELENGKAPAN PERKAWINAN DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI HUKUM ISLAM (Studi Kasus di Desa Rijang Panua Kecamtan Kulo Kabupaten Sidenreng Rappang) Samad, Muh Rizal; Jumiyati; Wahyunisa, Hasmia; Nurzakiah; Anwar, Wirani Aisiyah; Mujahiddin; Mutmainnah; Nurhawa; abd. Hakim
El-Ahli : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 3 No 1 (2022): EL-AHLI : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/el-ahli.v3i1.836

Abstract

Abstract This study aims to 1). This study aims to find out the traditional practice of handing over Erang-erang as a condition for completeness of marriage in Rijang Panua Village, Kulo District, Sidenreng Rappang Regency. (2) To find out the sociological review of Islamic law on the traditional practice of surrendering Erang-erang as a condition for completeness of marriage in Rijang Panua Village, Kulo District, Sidenreng Rappang Regency. This study uses qualitative research methods with semiotic analysis of Charles S. Pierce. The data in this study were collected through in-depth interviews, observation, documentation. The subjects of this study were religious leaders, community leaders and traditional stakeholders in Rijang Panua Village. The results showed that (1) the submission of Erang-erang in the Bugis community in Rijang Panua village was almost the same as the Bugis community in other villages. The delivery of Erang-erang is carried out when the groom's entourage arrives at the bride's house a few moments before the marriage ceremony/ijab and Kabul. (2) The moaning of traditional marriages in Rijang Panua Village can be accepted by the sociology of Islamic law because it contains elements of livelihood for the welfare of living in a household. Meanwhile, Islamic teachings also prohibit the prevention of marriage because they want to get more in terms of worldly (wealth) which is viewed from the moral aspect of Islam, because that is excessive and burdensome for the groom. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk 1). Untuk mengetahui praktik tradisi penyerahan Erang-erang sebagai syarat kelengkapan perkawinan di Desa Rijang Panua Kecamatan Kulo Kabupaten Sidenreng Rappang. (2) Untuk mengetahui tinjauan sosiologi hukum Islam terhadap praktik tradisi penyerahan Erang-erang sebagai syarat kelengkapan perkawinan di Desa Rijang Panua Kecamatan Kulo Kabupaten Sidenreng Rappang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis semiotika Charles S. Pierce. Data pada penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, Subjek penelitian ini yaitu tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemangku adat di Desa Rijang Panua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Penyerahan Erang-erang dalam masyarakat Bugis di desa Rijang Panua hampir sama dengan masyarakat Bugis di desa lain. Penyerahan Erang-erang dilaksanakan pada waktu rombongan mempelai pria tiba di rumah mempelai perempuan beberapa saat sebelum acara akad nikah/ijab dan Kabul. (2) Erang-erang pada perkawinan adat di Desa Rijang Panua dapat di terima oleh sosiologi hukum Islam karena di dalamnya mengandung unsur nafkah demi kesejahteraan hidup dalam berumah tangga. Sementara ajaran islam juga melarang pencegahan perkawinan karena ingin mendapatkan yang lebih dari segi keduniaan (harta benda) yang ditinjau dari segi moral Islam, karena yang demikian itu berlebihan dan memberatkan pihak mempelai laki-laki.
TRADISI PENYERAHAN ERANG-ERANG SEBAGAI SYARAT KELENGKAPAN PERKAWINAN DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI HUKUM ISLAM (Studi Kasus di Desa Rijang Panua Kecamtan Kulo Kabupaten Sidenreng Rappang) Samad, Muh Rizal; Jumiyati; Wahyunisa, Hasmia; Nurzakiah; Anwar, Wirani Aisiyah; Mujahiddin; Mutmainnah; Nurhawa; abd. Hakim
El-Ahli : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 3 No 1 (2022): EL-AHLI : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/el-ahli.v3i1.836

Abstract

Abstract This study aims to 1). This study aims to find out the traditional practice of handing over Erang-erang as a condition for completeness of marriage in Rijang Panua Village, Kulo District, Sidenreng Rappang Regency. (2) To find out the sociological review of Islamic law on the traditional practice of surrendering Erang-erang as a condition for completeness of marriage in Rijang Panua Village, Kulo District, Sidenreng Rappang Regency. This study uses qualitative research methods with semiotic analysis of Charles S. Pierce. The data in this study were collected through in-depth interviews, observation, documentation. The subjects of this study were religious leaders, community leaders and traditional stakeholders in Rijang Panua Village. The results showed that (1) the submission of Erang-erang in the Bugis community in Rijang Panua village was almost the same as the Bugis community in other villages. The delivery of Erang-erang is carried out when the groom's entourage arrives at the bride's house a few moments before the marriage ceremony/ijab and Kabul. (2) The moaning of traditional marriages in Rijang Panua Village can be accepted by the sociology of Islamic law because it contains elements of livelihood for the welfare of living in a household. Meanwhile, Islamic teachings also prohibit the prevention of marriage because they want to get more in terms of worldly (wealth) which is viewed from the moral aspect of Islam, because that is excessive and burdensome for the groom. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk 1). Untuk mengetahui praktik tradisi penyerahan Erang-erang sebagai syarat kelengkapan perkawinan di Desa Rijang Panua Kecamatan Kulo Kabupaten Sidenreng Rappang. (2) Untuk mengetahui tinjauan sosiologi hukum Islam terhadap praktik tradisi penyerahan Erang-erang sebagai syarat kelengkapan perkawinan di Desa Rijang Panua Kecamatan Kulo Kabupaten Sidenreng Rappang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis semiotika Charles S. Pierce. Data pada penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, Subjek penelitian ini yaitu tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemangku adat di Desa Rijang Panua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Penyerahan Erang-erang dalam masyarakat Bugis di desa Rijang Panua hampir sama dengan masyarakat Bugis di desa lain. Penyerahan Erang-erang dilaksanakan pada waktu rombongan mempelai pria tiba di rumah mempelai perempuan beberapa saat sebelum acara akad nikah/ijab dan Kabul. (2) Erang-erang pada perkawinan adat di Desa Rijang Panua dapat di terima oleh sosiologi hukum Islam karena di dalamnya mengandung unsur nafkah demi kesejahteraan hidup dalam berumah tangga. Sementara ajaran islam juga melarang pencegahan perkawinan karena ingin mendapatkan yang lebih dari segi keduniaan (harta benda) yang ditinjau dari segi moral Islam, karena yang demikian itu berlebihan dan memberatkan pihak mempelai laki-laki.
Tradisi Dio Majeng dalam Perkawinan Bugis Hasmia Wahyunisa; Muh. Rizal Samad; Ammar Sahar
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4879

Abstract

Tradisi Dio Majeng merupakan salah satu praktik adat dalam perkawinan masyarakat Bugis yang sarat akan nilai-nilai sosial, spiritual, dan budaya. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan penyatuan dua individu, tetapi juga mengandung simbolisasi penyatuan dua keluarga besar yang berkomitmen dalam jalinan kekeluargaan. Pelaksanaan Dio Majeng yang masih dijaga oleh masyarakat di Kelurahan Rijang Pittu menjadi perhatian penting untuk dikaji, khususnya dalam konteks kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip hukum Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Pelaksanaan Tradisi Dio Majeng dalam perkawinan masyarakat Bugis di Kelurahan Rijang Pittu serta tinjauannya menurut konsep 'urf (adat kebiasaan) dan maqāṣid al-syarī'ah hukum islam dan 2) Pandangan Masyarakat terhadap nilai dan keberlangsungan Tradisi Dio Majeng di Kelurahan Rijang Kec. Maritengnggae Kab. Sidrap Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan lapangan (field research). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Tradisi Dio Majeng merupakan 'urf shahih (adat yang sah) karena memenuhi kriteria universalitas, konsistensi, dan keselarasan dengan prinsip dasar Islam. Analisis dengan pendekatan maqāṣid al-syarī'ah juga menunjukkan bahwa tradisi ini mendukung tujuan-tujuan syariat, khususnya dalam memelihara keturunan (ḥifẓ al-nasl), jiwa (ḥifẓ al-nafs), dan agama (ḥifẓ al-dīn). 2) Masyarakat Kelurahan Rijang Pittu memandang Dio Majeng sebagai warisan leluhur yang positif dan bermakna, yang berfungsi sebagai media penyucian diri, permohonan doa, dan penguatan ikatan sosial. Pandangan ini semakin mengukuhkan posisi tradisi sebagai bagian dari living law yang harmonis dengan syariat Islam. Dengan demikian, Dio Majeng menjadi contoh nyata harmonisasi antara adat lokal dan hukum Islam, yang relevan untuk dipertahankan sebagai bagian dari budaya yang berbasis syariat.
Analysis of Deradicalisation Strategies Through Family Programmes in Indonesia Godlif Sianipar; Hasmia Wahyunisa; Rizqa Febry Ayu; Mawaddatul Ulfa; M. Aguswal Fajri
Jurnal Pelita Raya Vol. 1 No. 2 (2025): Jurnal Pelita Raya (JPR)
Publisher : Mahkota Science Publishers

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65586/jpr.v1i2.21

Abstract

This study develops a new paradigm of deradicalisation that positions the family as the leading actor, rather than merely the object of policy. Through the integration of a multidisciplinary approach and multi-stakeholder engagement, this study seeks to formulate a deradicalisation strategy that not only addresses the surface symptoms of radicalism but also the socio-cultural, psychological, and structural roots that drive it. This study applies a library research method, integrating key theories and empirical findings from multiple disciplines to gain a comprehensive understanding of family-based deradicalisation strategies in Indonesia. The results confirm that deradicalisation strategies through family programmes in Indonesia are a fundamental approach, but cannot be separated from the dynamics of internal conflict, generational change, and increasingly complex digital and social challenges. The family can indeed be an initial filter and strategic space in preventing radicalism, but its effectiveness depends heavily on its capacity for dialogue, digital literacy, and adaptability to changing times, as well as tangible support from the state and communities that strengthen the surrounding social ecosystem. State intervention in the private sphere of the family must be carried out sensitively and participatively, not through repressive surveillance, but through empowerment and facilitation of critical discussion spaces that build family resilience without sacrificing its autonomy.
Islamic Law and Employee Marriage Restrictions : A Case Study of Bank BRI Parepare Mukarramah, Mukarramah; Wahyunisa, Hasmia; Ibnu Azka; Haramain, Fathur Baldan
SHAHIH: Journal of Islamicate Multidisciplinary Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/shahih.v10i2.11684

Abstract

This study analyzes the employment policy prohibiting marriage during the contract period from an Islamic legal perspective, using a case study at the BRI Branch Office in Parepare. The policy, institutionally justified as a mechanism to ensure employee focus, discipline, and productivity, creates normative and ethical tensions for Muslim employees for whom marriage is a religious obligation and an integral aspect of moral life in Islam. This research uses qualitative method, collecting data through in-depth interviews with contract employees, human resource managers, and Islamic legal experts, complemented by document analysis of Islamic legal literature, fatwas, and relevant employment regulations. The data are analyzed through thematic and normative analysis. The findings indicate that the marriage prohibition policy lacks a strong justification for maslahah (public benefit) and is inconsistent with core Islamic legal principles, particularly the protection of religion (ḥifẓ al-dīn) and human dignity (karāmah al-insān). Rather than improving performance, such policies can actually cause psychological stress, moral conflict, and spiritual discomfort among employees, potentially damaging long-term productivity. This study contributes to the discourse on Islamic labor law by highlighting the limitations of contractual restrictions when they conflict with fundamental religious rights.
Tinjauan Yuridis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU‑XIV/2016 tentang Hak Pendidikan Anak di Indonesia Prima, Jaka; Wahyunisa, Hasmia
Sanskara Hukum dan HAM Vol. 4 No. 02 (2025): Sanskara Hukum dan HAM (SHH)
Publisher : Eastasouth Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/shh.v4i02.717

Abstract

Penelitian ini menyajikan analisis hukum normatif terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-XIV/2016 mengenai hak anak atas pendidikan di Indonesia. Karena pendidikan merupakan hak asasi manusia yang dijamin oleh konstitusi, putusan ini memiliki implikasi yang signifikan terhadap interpretasi dan penegakan kewajiban negara dalam memastikan akses yang adil dan tidak diskriminatif terhadap pendidikan. Menggunakan pendekatan hukum, konseptual, dan berbasis kasus, penelitian ini menganalisis alasan hukum Mahkamah dan mengevaluasi kesesuaiannya dengan Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Perlindungan Anak, dan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Temuan menunjukkan bahwa putusan tersebut memperkuat perlindungan konstitusional dengan menegaskan anak-anak sebagai pemegang hak, menekankan kewajiban positif negara, dan memperkuat prinsip non-diskriminasi. Namun, meskipun terdapat kemajuan normatif, tantangan tetap ada dalam implementasi akibat ketidakmerataan regional, mekanisme akuntabilitas yang lemah, dan harmonisasi kerangka hukum yang tidak konsisten. Studi ini menyimpulkan bahwa meskipun putusan tersebut berkontribusi signifikan terhadap pengembangan yurisprudensi hak pendidikan, diperlukan penyempurnaan legislatif dan reformasi administratif lebih lanjut untuk memastikan realisasi penuh hak anak atas pendidikan di Indonesia.