Raminda, Santri
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Journal of Public Health Concerns

Pengaruh moderate intensity continuous exercise (MICE) dalam perbaikan kognitif lansia Raminda, Santri; Ni'mah, Anisah Khanin; Aliyun, Fatimah Wahab; Kurniawan, Ryanda Masri; Ramadhani, Andina Risky; Nugroho, Rafi Agusti; Zahirah, Fidela Kaila Reva
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i4.470

Abstract

Background: Cognitive in the elderly is the ability to think, remember, learn, and verbal ability. Cognitive function is a mental process that includes attention, perception, and knowledge. Cognitive impairment in the elderly is a health problem that occurs more frequently with age. Cognitive impairment can affect various aspects of mental function and thinking ability in the elderly. Cognitive impairment in the elderly cannot be cured, but it can be prevented and overcome. Purpose: To see the effect of moderate continuous intensity exercise (MICE) on cognition in the elderly with anaerobic fitness levels. Method: Quasi-experimental study with pre-test and post-test two group design. The sample of this study was 20 elderly patients at the Bandar Lampung Health Center who became participants. Participants were divided into two groups, namely 10 participants in the intervention group and 10 participants in the control group. The intervention group was given MICE such as anaerobic gymnastics exercises while the control group was given a book to read for 30 minutes with the same time. Cognitive function is measured using the Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCa – Ina) which consists of 30 points that will be tested by assessing several cognitive matrices: executive function, visuospatial, language, delayed recall, attention, abstraction and orientation for 10 minutes with a total score of 26 or more considered normal. Results: Based on the Shapiro Wilk test analysis in the normality test for the intervention group, the mean pre-test to post-test value was 23.70-26.70 with pValue = 0.15 and for the control group, the mean pre-test to post-test value was 25.30-27.20 with pValue = 0.44. Meanwhile, based on the paired sample test analysis in the cognitive influence test for the intervention group, the mean value was 3,000 with a standard deviation of 0.943 and pValue = 0.000, while for the control group, the mean value was 1,900 with a standard deviation of 1,370 and pValue = 0.002. Conclusion: Anaerobic fitness therapy can affect moderate continuous intensity exercise (MICE) on the cognitive abilities of the elderly. Elderly people with stable and good fitness intensity will benefit from reducing cognitive impairment. Suggestion: Elderly people should consider their fitness level individually as a therapeutic measure such as following the right exercise routine in an effort to improve cognitive abilities. Keywords: Anaerobic; Cognitive improvement; Elderly; Moderate continuous intensity exercise (MICE) Pendahuluan: Kognitif pada lansia adalah kemampuan berpikir, kemampuan mengingat, kemampuan belajar, dan kemampuan verbal. Fungsi kognitif merupakan proses mental yang meliputi perhatian, persepsi, dan pengetahuan. Gangguan kognitif pada lansia merupakan masalah kesehatan yang semakin sering terjadi dengan bertambahnya usia. Gangguan kognitif  dapat memengaruhi berbagai aspek fungsi mental dan kemampuan berpikir lansia. Gangguan kognitif pada lansia tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dicegah dan diatasi. Tujuan: Untuk melihat efek moderate continuous intensity exercise (MICE) terhadap kognitif pada lansia dengan tingkat kebugaran anerobik. Metode: Penelitian quasi experimental dengan pre-test and post-test two group design. Sampel penelitian ini adalah 20 pasien lansia di Puskesmas Bandar Lampung yang menjadi partisipan. Partisipan dibagi menjadi dua kelompok yaitu 10 partisipan kelompok intervensi dan 10 partisipan kelompok kontrol. Kelompok intervensi diberikan MICE seperti latihan senam anaerobik sedangkan untuk kelompok control diberikan buku untuk dibaca selama 30 menit dengan waktu yang sama. Fungsi kognitif diukur menggunakan Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCa – Ina) yang terdiri dari 30 point yang akan diujikan dengan menilai beberapa matrix kognitif: fungsi eksekutif, visuospasial, bahasa, delayed recall, atensi, abstraksi dan orientasi selama 10 menit dengan total skor 26 atau lebih dianggap normal. Hasil: Berdasarkan analisa shapiro wilk test dalam uji normalitas untuk kelompok intervensi mendapatkan nilai mean pre-test ke post-test sebesar 23.70-26.70 dengan pValue=0.15 dan untuk kelompok kontrol mendapatkan nilai mean pre-test ke post-test sebesar 25.30-27.20 dengan pValue=0.44. Sedangkan berdasarkan analisa uji paired sample test dalam uji pengaruh pada kognitif untuk kelompok  intervensi mendapatkan nilai mean 3.000 dengan standar deviasi 0.943 dan pValue=0.000, sedangkan untuk kelompok  kontrol mendapatkan nilai mean 1.900 dengan standar deviasi 1.370 dan pValue=0.002. Simpulan: Terapi kebugaran anaerobik dapat mempengaruhi moderate continuous intensity exercise (MICE) pada kognitif lansia. Lansia dengan intensitas kebugaran yang stabil dan baik akan memperoleh manfaat mengurangi gangguan kognitif. Saran: Lansia harus mempertimbangkan tingkat kebugaran secara individual sebagai tindakan terapi seperti  mengikuti kegiatan rutinitas olahraga yang tepat dalam upaya memperbaiki kognitif.
Edukasi latihan kombinasi pliometrik dan peregangan terisolasi aktif untuk meningkatkan fleksibilitas otot tubuh Raminda, Santri; Fadhail, Maulana Ahsan; Aliun, Fatimah Wahab; Kurniawan, Ryanda Masri; Zulfikar, Zulfikar
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i4.997

Abstract

Background: Flexibility is an important component of daily activities. Physical activity, including movements involving jumping, can stimulate the brain and increase blood flow to the brain, which in turn can support cognitive function and help slow memory decline. Active and repetitive muscle stretching for short durations, while plyometrics involve explosive movements to increase strength and agility. Physical exercises such as plyometrics can increase circulating BDNF concentrations, thereby inducing brain plasticity and cognitive enhancement. Physical exercise may support the release of neurotransmitters and neurotrophins in an activity-dependent manner. Increasing flexibility will reduce pain, and increase range of motion without causing excessive strain or injury. Purpose: Providing knowledge about maintaining flexibility of body muscle movement with a combination of plyometric exercises and active isolation stretching. Method: This activity was carried out at the Siger Physio Way Halim Bandar Lampung Clinic in January 2025. With quota sampling, 22 teenagers were selected as respondents. Participants were given instructions by instructors in doing the exercises and then carried out direct practice. Active isolated stretching actions are by holding each stretching movement for 2-3 seconds and repeated up to 8 times, then performing plyometric movements in the form of jumping in place, box jumps and high jumps. Results: Found that the majority of respondents were aged 18-22 years, namely 11 (50.0%). While the profession of the type of sport pursued was football as many as 8 (36.4%), Badminton as many as 4 (18.2%), Basketball as many as 6 (27.2%), and athletics as many as 4 (18.2%). Getting the respondent's jump distance in the pre-test with a mean value of 34.2 cm and a standard deviation of ± 5.66, while in the post-test with a mean value of 37.4 and a standard deviation of ± 4.92. Conclusion: Providing education and training in combination of active isolated stretching with plyometrics is quite effective and can improve understanding in maintaining body muscle flexibility and avoiding the risk of injury. Suggestion: It is expected to conduct further research and develop research with more specific factors to provide knowledge of the importance of carrying out muscle stretching actions as an effort to maintain flexibility and avoid the risk of injury. Keywords: Combination exercise; Flexibility; Muscle stretching; Risk of injury Pendahuluan: Fleksibilitas merupakan komponen yang penting dalam beraktivitas sehari-hari. Aktivitas fisik, termasuk gerakan yang melibatkan melompat, dapat merangsang otak dan meningkatkan aliran darah ke otak, yang pada gilirannya dapat mendukung fungsi kognitif dan membantu memperlambat penurunan daya ingat. Peregangan otot secara aktif dan berulang dengan durasi singkat, sementara pliometrik melibatkan gerakan eksplosif untuk meningkatkan kekuatan dan kelincahan. Latihan fisik seperti plyometric dapat meningkatkan konsentrasi BDNF dalam sirkulasi, sehingga menginduksi plastisitas otak dan peningkatan kognitif. Latihan fisik mungkin mendukung pelepasan neurotransmiter dan neurotropin dengan cara yang bergantung pada aktivitas. Dengan meningkatnya fleksibilitas akan mengurangi nyeri, dan meningkatkan jangkauan gerak tanpa menyebabkan ketegangan berlebihan atau cedera. Tujuan: Memberikan pengetahuan tentang menjaga fleksibilitas gerak otot tubuh dengan latihan kombinasi pliometrik dan peregangan isolasi aktif. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan di Klinik Siger Fisio Way Halim Bandar lampung pada bulan Januari 2025. Dengan quota sampling mendapatkan 22 remaja yang menjadi responden. Para peserta diberikan petunjuk dengan instruktur dalam melakukan latihan dan selanjutnya melakukan praktik langsung. Tindakan peregangan terisolasi aktif yaitu dengan menahan setiap gerakan peregangan selama 2-3 detik dan diulangi hingga 8 kali, selanjutnya melakukan gerakan pliometrik berupa lompat di tempat, lompat kotak dan lompat tinggi. Hasil: Mendapatkan bahwa usia responden sebagian besar di usia 18 – 22 tahun yaitu sebanyak 11(50.0%). Sedangkan profesi jenis olah raga yang ditekuni adalah sepak bola sebanyak 8 (36.4%), Bulutangkis sebanyak 4(18.2%), Bola basket sebanyak 6(27.2%), dan atletik sebanyak 4(18.2%). Mendapatkan jarak lompatan responden pada pre-test dengan nilai mean 34.2 cm dan standar deviasi ±5.66, sedangkan pada post-test dengan nilai mean 37.4 dan standar deviasi ±4.92. Simpulan: Pemberian edukasi dan latihan kombinasi peregangan terisolasi aktif dengan pliometrik cukup efektif dan dapat meningkatkan pemahaman dalam menjaga fleksibilitas otot tubuh dan menghindari risiko cedera. Saran: Diharapkan untuk dilakukan penelitian lanjutan dan mengembangkan penelitian dengan faktor yang lebih spesifik untuk memberikan pengetahuan pentingnya melakukan tindakan peregangan otot sebagai upaya menjaga fleksibilitas dan menghindari risiko cedera.